Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MARI berbincang tentang kebudayaan yang tersisihkan. Selalu ada ambivalensi negeri mencintai kebudayaan versus realitasnya. Mulai sa ja dengan fakta ini, banyak sutradara film kita menyimpan master film mereka di berbagai negara. Di negeri sendiri tak ada tempat aman dan nyaman. Sinematek Indonesia yang didirikan Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani pada 1975 dan merupakan arsip film pertama di Asia Tenggara kini amat memprihatinkan.
Sutradara Garin Nugroho dan produser Mira Lesmana termasuk yang menyimpan sebagian master film mereka di berbagai negara itu. Menyimpan master film di berbagai negara yang memahami arti penting kebudayaan tidak saja aman, tetapi justru dibayar. Imbalannya, pihak lembaga penyimpan bisa memutar film-film Indonesia untuk tujuan nonkomersial. Film ialah produk intelektual dan tak ‘merasa nyaman’ di rumah sendiri sungguh menyedihkan.
Jika kita membutuhkan, harus mendatangi mereka, ke berbagai negara. Itu bukti kita sebagai pemilik kebudayaan tak bertanggung jawab! Fakta lain telantarnya Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Itu telah berlangsung lama. Setiap ada gubernur baru Ibu Kota, para pengelola dokumentasi sastra itu hanya bisa berdoa ada kemurahan hati pejabat yang memahami sastra. Tanpa dana negara, berat pusat dokumentasi sastra itu hidup. Apa untuk urusan itu kita juga mengiba ke luar negeri?
Beberapa tahun lalu kita membaca, betapa naskah-naskah lama kita, terutama asal Melayu Riau, telah menjadi milik para kolektor Malaysia dan Singapura. Sebagian benda-benda itu kini telah menjadi penghuni Lembaga Kebudayaan Singapura. Mereka mengatakan daripada disimpan di Indonesia toh rusak juga. Perkataan menyakitkan. Kita tertampar, tetapi apakah negara merasa tertampar? Negara tak peduli! Yang menyedihkan negara tak hadir untuk menginventarisasi berapa sesungguhnya jumlah naskah lama yang kini masih ada.
Berapa pula naskah-naskah lama yang telah ‘berpindah tuan’ ke luar negeri? Kini Perpustakaan Leiden Belanda, kabarnya, menyimpan 18 ribu naskah Nusantara. Sejumlah benda sejarah milik kita kini tersebar di Belanda, Inggris, Austria, bahkan sampai ke Rusia. Di Inggris misalnya, ada sekitar 6.000 koleksi, dan di Australia sekitar 3.000 benda etnografi Indonesia. Dulu pada 1978 ada upaya diplomasi agar mereka mengembalikan benda-benda budaya kita. Naskah Nagarakretagama, arca Prajnaparamitha, pelana kuda Pangeran Diponegoro, dan lain-lain bisa kembali.
Terungkaplah pada perhelatan World Cultural Forum di Bali pekan silam, betapa kearifan lokal di Korea Selatan dan Tiongkok punya peran penting dalam membangun bangsa. Mo dernisasi tak menghilangkan tradisi dan kebudayaan masyarakat. Di kita, modernisasi kerap menjadi tukang jagal tradisi. Apa yang di alami Kepala Desa Mollo, NTT, Aleta Baun, sungguh tragis. Untuk mempertahankan tanah adat dari gempuran eksplorasi pertambangan, ia harus hidup penuh derita. Ia diancam dan di bacok.
Ia perlu 13 tahun untuk memperjuangkan hak-hak warga. Aleta Baun salah satu contoh. Salim Kancil, aktivis antitambang, di Lumajang, bahkan dibunuh. Fakta-fakta itu meperkuat bukti betapa aktivitas ekonomi seolah dibiarkan menjadi mesin pembunuh mereka yang menjaga bumi. Begitu banyak pemilik modal menjadi loba ketika menghadapi mereka yang setia merawat kearifan dan tradisi.
World Cultural Forum pun merekomendasikan bahwa kebudayaan yang selama ini terpinggirkanakan menjadi dasar utama pem bangunan berkelanjutan. Akan tetapi, maaf kepada pemerintahan Jokowi-JK, saya ragu Anda berkomitmen tentang ini sebab publik juga be lum tahu bagaimana sesungguhnya visi Anda tentang kebudayaan. Revolusi mental, Nawa Cita, pembangunan karakter bangsa, bu daya maritim, bagi saya jadi entah apa maknanya.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved