Siasat Suksesi?

12/5/2015 00:00
Siasat Suksesi?
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

ISTRI saya tertawa sinis setelah menyimak sabdatama atau perintah tertinggi Sultan Hamengku Buwono X. Bukan karena putri sulung Sultan, Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, berganti nama menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram, tanda ia akan menggantikan takhta. Bukan!

Ia sinis karena penjelasan Sultan tentang dawuh tersebut berkaitan dengan wahyu, dengan wangsit. Sultan tak kuasa menolaknya karena ini kehendak Gusti Allah. Kerajaan Yogyakarta dan Sultan itu milik Gusti Allah. Jadi, semua terserah sang Ilahi.

"Tak masuk akal. Hari begini masih ada wahyu untuk kekuasaan dunia? Alangkah enak bersembunyi di balik wahyu, wilayah yang amat personal dan tak bisa dibuktikan," kata istri saya.

Saya terkejut karena tak menyangka ia menilai sedalam itu. Karena ini wahyu, Sultan kelahiran 2 April 1946 yang berkuasa sejak 7 Maret 1989 itu meminta perintahnya disikapi dengan olah rasa. Jangan dengan olah pikir.

Permintaan itu juga diulangi Putri Pembayun. Olah pikir bisa sesat dan oleh rasa bikin lega. Kenyataannya para rayi Sultan memprotes siasat wahyu itu.

Titik beratnya pada kekhawatiran rusaknya mazhab suksesi Mataram yang dipertahankan ratusan tahun, yakni adanya putri mahkota. Akan tetapi, bagaimana kita menyoal prerogatif raja berkuasa?

Sabdatama sebelumnya, Ngarsa Dalem minta pada keluarga kerajaan dan masyarakat Yogyakarta agar tak campur tangan urusan ahli waris takhta. Ini semacam sabda bertingkat atau persiapan jalan untuk putri mahkota, dan itu wewenangnya!

Saya kira ini bukan sinisme terhadap suksesi ala monarki dan pemujaan terhadap demokrasi. Monarki konstitusional juga melahirkan sisi terpuji.

Sementara itu, demokrasi dengan politik yang oligarkis bisa membuat kita frustrasi. Ia membuat demokrasi jadi fasik! Juga bukan sinis pada perasaan dan memojokkan pikiran.

Pikiran yang berkelindan dengan ketamakan bisa membawa destruksi, sementara perasaan bisa jadi embrio kepekaan. Ini soal kepantasan!

Buktinya kedudukan raja Yogya sekaligus gubernur justru dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2012 tentang Daerah Istimewa Yogyakarta.

Monarki dalam demokrasi dihargai. Sabdatama-nya pun dipatuhi. Namun, ketika sabda itu berbau siasat wangsit, bagaimana kita bisa menyelisik wilayah gaib yang amat personal itu?

Saya jadi teringat tulisan penulis Kamerun, Daniel Etounga-Manguelle, 'Perlukah Afrika Sebuah Program Penyesuaian Budaya?'. Ia membedah kekuasaan di Afrika yang lekat dengan budaya ilmu gaib.

Para presiden Afrika, tulisnya, akan selalu dikelilingi para pentolan ilmu gaib. Tak ada yang benar-benar penting dalam politik Afrika tanpa pertolongan para dukun.

Mereka membuat nubuat dan menentukan seseorang menjadi penguasa dan menentukan para pemimpin bertahan atau sebaliknya. Nyatanya lebih banyak nubuat agar terus bertahan. Bagi orang ramai, hal gaib dalam suksesi kekuasaan yang profan ini agaknya dipandang berpotensi jadi siasat manipulatif. Ia serupa takhayul.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.