Menjadi Kita

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/10/2016 05:31
Menjadi Kita
(Wikipedia)

DALAM perbincangan yang riuh tentang pemimpin seiman dan menegasi yang tak seiman akhir-akhir ini, saya ingin berbincang tentang Mohammad Natsir (1908-1933). Tokoh Masyumi peng usung ideologi Islam yang konsisten ini agaknya bisa menjadi oasis. Ia mempraktikkan nilainilai Islam yang ia junjung tinggi dalam demokrasi. Ia pula sebagai arsitek utama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah yang membuat Soekarno jatuh cinta kepadanya.

Natsir yang bersih, santun, bersahaja, dan toleran mengajukan Mosi Integral pada 3 April 1950, yakni ide kembalinya Indonesia ke negara kesatuan, yang waktu itu terpecah dalam Indonesia Serikat. Pada 15 Agustus 1950 Presiden Soekarno membacakan Piagam Pembentukan Negara Kesatuan dalam sidang bersama parlemen. Pada 17 Agustus ‘Bung Besar’ mengumumkan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Inilah yang kerap disebut sebagai Proklamasi Kedua Republik Indonesia. Di parlemen, Natsir tak hanya berhadapan dengan Aidit (pengusung ideologi komunis), tetapi IJ Kasimo dan FS Hariyadi (Partai Katolik), J Leimena dan AM Tambunan (Partai Kristen), dan kaum nasionalis yang pengusung sekularisme. Namun, di luar itu mereka bersahabat hangat. IJ Kasimo bahkan membelikan rumah untuk tokoh Masyumi yang lain, Prawoto Mangkusaswito.

Ketika Natsir mengajukan Mosi Integral, para tokoh nonmuslim inilah yang memberi dukungan penuh. Wajarlah ketika politikus yang pendidik itu menjadi perdana menteri, para tokoh Nasrani dipercaya menjadi menteri. Hariyadi ditunjuk menjadi menteri sosial, Herman Johanes dari Partai Indonesia Raya memimpin Kementerian Pekerjaan Umum. Bukankah kedua menteri itu juga pemimpin?

Kenapa Natsir yang amat kental keislamannya tak mempersoalkan ada Surah Al-Maidah ayat 51, yang intinya melarang mengambil wali (pemimpin) Kristen dan Yahudi? Pertama, bisa jadi persoalan tafsir yang memang masih penuh perdebatan. Kedua, ini yang ia katakan, “Demi kepentingan bangsa, para politikus tidak bicara kami dan kamu, tetapi kita.” (Natsir Politik Santun di Antara Dua Rezim, 2016).

Pluralisme dan toleransi Natsir jelas jejaknya. Ia tak gamang memadukan dan mempraktikkan nilai-nilai Islam dan demokrasi Barat. “Bagi saya, nilai-nilai Islam itu inspirasi. Akan saya perjuangkan nilai-nilai itu secara demokratis,” kata penggemar biola itu kepada sama anggota Petisi 50, Chris Siner. Pria yang lahir di Lembah Gumanti, Sumatra Barat itu lalu terlibat PRRI/Permesta. Ia kecewa melihat Soekarno yang kian dekat dengan komunis, juga kian otoriter dan kurang memperhatikan pembangunan di luar Pulau Jawa.

Masyumi pun dibubarkan dan ia ditangkap dan dipenjarakan. Rezim Soeharto juga tak memberi ruang kepada Natsir dan partai yang didirikan pada 1945 itu. Padahal, ia banyak membantu melobi negara seperti Jepang dan Timur Tengah untuk berinvestasi di Indonesia. Pikiran Natsir banyak mengilhami para pemuda Islam Malaysia. Anwar Ibrahim salah satu yang menjadi pelopornya. Nasihatnya kepada Anwar, “Jangan kita membangun sambil merobohkan.

Membangun gedung sambil merobohkan akhlak, membangun industri sambil menindas pekerja, membina prasarana sambil memusnahkan lingkungan. Inilah memang inti dari konsep pembangunan berkelanjutan.” Natsir kemudian mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan dipercaya memimpin beberapa organisasi Islam seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami, Majelis Ala al-Alami lil Masjid, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris.

Ia juga memimpin Liga Muslim Sedunia (World Muslim Congress), dan Ketua Dewan Masjid Seluruh Dunia. Natsir sungguh tak basi menjadi inspirasi bagaimana memformulasikan antara Islam di satu pihak dan urusan kebangsaan di lain pihak. Bukan kami, kamu, melainkan kita. Proses menjadi ‘kita’ memang tak mudah. Ia perlu memahami arti kesepakatan kebangsaan yang terkristal dalam Pancasila. Ia perekat dan panduan utama negeri multikultur ini menatap masa depannya.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima