Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTEMANAN urusan personal. Bukan urusan negara. Bukan urusan publik. Siapa berteman dengan siapa sepenuhnya berada dalam ranah pribadi dan tanggung jawab pribadi. Pernyataan itu menegaskan supremasi ruang privat. Bahkan, pernyataan itu sepertinya menyelesaikan batas-batas hubungan orang yang berteman yang sepatutnya dimaklumi, bahkan dihormati siapa pun.
Suatu hari saya menonton di sebuah televisi perihal seorang artis tertangkap tangan menggunakan narkoba. Temannya diwawancara via telepon. Apa kata sang teman? Temannya bilang dia tidak tahu bahwa temannya itu pengguna narkoba. Dia baru tahu justru setelah temannya itu tertangkap dan diberitakan di media. Terlepas Anda dan saya tidak percaya omongan temannya itu, bukan urusan kita bila kemudian temannya itu menjenguk temannya di rumah tahanan.
Bukan urusan orang lain karena mereka sama-sama warga negara biasa, sesama ‘partikelir’. Akan tetapi, urusan tentu menjadi besar jika dengan alasan yang sama, pertemanan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjenguk temannya di rumah tahanan karena tertangkap tangan sebagai pengguna narkoba. Masak tidak boleh menjenguk teman sendiri?
Apalagi teman itu bukan pengedar, bukan penyelundup, melainkan pasien yang perlu direhabilitasi. Jangan salah paham. Perlu penegasan, contoh itu fiktif, karangan saya belaka. Seandainya pun terjadi di alam nyata, kiranya Bapak Wapres Jusuf Kalla berpikir panjang untuk menjenguk sang teman yang terkait dengan narkoba. Patut ditengarai bahkan JK, yang di dirinya melekat jabatan penyelenggara negara, mungkin sama sekali tidak menjenguk temannya itu.
Berbeda dengan kasus korupsi. Faktual, bukan fiktif, atas nama pertemanan, Wapres Jusuf Kalla menjenguk di rumah tahanan mantan Ketua DPD Irman Gusman yang tertangkap tangan KPK. Sepertinya Wapres tidak perlu berpikir panjang untuk melakukannya. Masak tidak boleh menjenguk teman sendiri, koruptor sekalipun? Contoh fi ktif dan contoh faktual itu cuma mau menunjukkan para pejabat sangat keras terhadap narkoba, teman sekalipun.
Kenapa? Karena menyangkut narkoba terkandung aib besar. Bahkan, demikian malunya, tidak sedikit orang tua yang menyembunyikan fakta anak mereka pengguna narkoba. Sebaliknya koruptor tidak malu. Tidak jarang mereka tersenyum, melambaikan tangan, ketika berada di Kantor KPK. Bahasa tubuh mereka seakan hendak memperlihatkan kepada publik bahwa korupsi bukan aib besar.
Ditangkap KPK sepertinya hanya kesialan belaka. Kenapa? Karena korupsi di negeri ini dipandang merupakan kelakuan normal, sepanjang tidak tertangkap. Kenormalan hubungan pertemanan pun menjadi pembenar untuk menjenguk teman atau kolega yang ditangkap KPK. Timbul kritik, hal itu kontraproduktif terhadap kesungguhan memberantas korupsi.
Seorang pejabat menjenguk koruptor, atas nama pertemanan sekalipun, memperlihatkan sikap permisif terhadap korupsi. Pejabat negara mendapat berbagai privilese. Akan tetapi, mereka pun harus memikul yang tidak enak. Sampai derajat tertentu, mereka kehilangan privasi, kehilangan pertemanan.
Untuk itu, tidak bisa lain, sang pejabat harus keras terhadap diri sendiri. Sekental apa pun pertemanan, mereka harus keraskan diri untuk tak menjenguk sampai temannya yang korupsi itu divonis pengadilan. Bahkan, sampai berkekuatan hukum tetap.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved