Teksas Wonocolo

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/10/2016 05:31
Teksas Wonocolo
(MI/ARYA MANGGALA)

AKHIR bulan lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke Wonocolo, Cepu. Daerah ini menamakan dirinya ‘Teksas’ karena seperti Texas di Amerika Serikat yang merupakan ladang minyak. Tidak jauh dari Wonocolo memang ada Blok Cepu yang akan menjadi penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia. Di Wonocolo sendiri banyak ladang minyak peninggalan Belanda yang kini diolah masyarakat.

Ada sekitar 2.500 kepala keluarga yang bekerja menimba minyak dari sumur-sumur tua. Minyak itu langsung diolah dengan dibakar menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan bensin dan solar. Setiap hari setidaknya didapatkan 200 barel atau sekitar 30 ribu liter minyak. Tumpahan minyak yang ada di manamana membuat kawasan menjadi kotor.

Apalagi ketika pembakaran sedang dilakukan, bau minyak begitu menyengat. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa karena kegiatan itu sudah berlangsung turun-menurun. Harus ada cara yang tepat agar tidak menimbulkan gejolak. Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Amin Sunaryadi mengatakan pi haknya mencoba menghitung kandungan minyak yang ada di Wonocolo.

Namun, kajian geologi hanya bisa dilakukan apabila kegiatan masyarakat berhenti dulu. Karena itu, dicarikan kegiatan yang memungkinkan masyarakat memperoleh pendapatan dari kegiatan yang lain. Wonocolo merupakan potret industri migas yang sedang meredup. Kita masih terlena dengan bayangan Indonesia sebagai negeri yang kaya energi. Senyatanya kita sudah menjadi importir minyak. Setiap hari kita harus mengimpor sampai 1 juta barel.

Cara pandang yang keliru membuat si kap kita juga keliru. Kebijakan energi nasional tidak pernah berubah seperti zaman bonanza minyak dulu. Bahkan kita beranggapan, Indonesia masih menjadi tempat menarik untuk investasi migas. Padahal, sumber-sumber minyak baru berada di wilayah timur. Sumber itu bukan lagi berada di darat, melainkan lebih banyak di laut. Investasi yang diperlukan untuk eksplorasi jauh lebih mahal.

Sementara itu, harga minyak dunia cenderung rendah dan tidak menarik untuk investasi. Perubahan cara pandang diperlukan agar kita tidak melihat migas sebagai sumber pendapatan negara. Migas harus dilihat sebagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mendorong kegiatan ekonomi. Tidaklah mungkin kita membangun negara tanpa ditopang ketersediaan energi.

Bahkan bauran energi harus dirumuskan secara jelas agar kemudian arahnya di pahami semua orang. Kita harus belajar dari pengalaman gas. Kita berteriak gas dalam negeri lebih mahal daripada gas di Singapura atau Vietnam. Persoalannya kita tidak pernah melihat gas sebagai sumber energi yang penting. Selama ini kita terlalu bertumpu kepada minyak.

Ketika ditemukan cadangan gas, tidak ada yang mau memakainya. Karena tidak bisa disimpan, dijuallah gas dengan harga murah dan kontrak jangka panjang. Ketika sekarang kita ingin beralih ke gas, tidak mungkin kontrak yang ada dibatalkan. Kita terpaksa mengandalkan sumber gas baru dan harganya tentu dengan harga yang sekarang lebih mahal. Apalagi pemerintah juga sering tidak peduli. Infrastruktur gas tidak disediakan negara, tetapi diserahkan kepada para kontraktor minyak.

Otomatis investasinya dihitung sebagai biaya produksi dan akibatnya harga gasnya pun menjadi lebih mahal. Pertanyaan sekarang, maukah kita berubah? Kita membutuhkan perubahan visi dalam melihat energi. Visi itu harus jauh ke depan dan jelas yang hendak dituju. Apalagi seluruh dunia mengaitkan persoalan energi dengan lingkungan. Itu tantangan yang jauh lebih berat lagi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima