Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIR bulan lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke Wonocolo, Cepu. Daerah ini menamakan dirinya ‘Teksas’ karena seperti Texas di Amerika Serikat yang merupakan ladang minyak. Tidak jauh dari Wonocolo memang ada Blok Cepu yang akan menjadi penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia. Di Wonocolo sendiri banyak ladang minyak peninggalan Belanda yang kini diolah masyarakat.
Ada sekitar 2.500 kepala keluarga yang bekerja menimba minyak dari sumur-sumur tua. Minyak itu langsung diolah dengan dibakar menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan bensin dan solar. Setiap hari setidaknya didapatkan 200 barel atau sekitar 30 ribu liter minyak. Tumpahan minyak yang ada di manamana membuat kawasan menjadi kotor.
Apalagi ketika pembakaran sedang dilakukan, bau minyak begitu menyengat. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa karena kegiatan itu sudah berlangsung turun-menurun. Harus ada cara yang tepat agar tidak menimbulkan gejolak. Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Amin Sunaryadi mengatakan pi haknya mencoba menghitung kandungan minyak yang ada di Wonocolo.
Namun, kajian geologi hanya bisa dilakukan apabila kegiatan masyarakat berhenti dulu. Karena itu, dicarikan kegiatan yang memungkinkan masyarakat memperoleh pendapatan dari kegiatan yang lain. Wonocolo merupakan potret industri migas yang sedang meredup. Kita masih terlena dengan bayangan Indonesia sebagai negeri yang kaya energi. Senyatanya kita sudah menjadi importir minyak. Setiap hari kita harus mengimpor sampai 1 juta barel.
Cara pandang yang keliru membuat si kap kita juga keliru. Kebijakan energi nasional tidak pernah berubah seperti zaman bonanza minyak dulu. Bahkan kita beranggapan, Indonesia masih menjadi tempat menarik untuk investasi migas. Padahal, sumber-sumber minyak baru berada di wilayah timur. Sumber itu bukan lagi berada di darat, melainkan lebih banyak di laut. Investasi yang diperlukan untuk eksplorasi jauh lebih mahal.
Sementara itu, harga minyak dunia cenderung rendah dan tidak menarik untuk investasi. Perubahan cara pandang diperlukan agar kita tidak melihat migas sebagai sumber pendapatan negara. Migas harus dilihat sebagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mendorong kegiatan ekonomi. Tidaklah mungkin kita membangun negara tanpa ditopang ketersediaan energi.
Bahkan bauran energi harus dirumuskan secara jelas agar kemudian arahnya di pahami semua orang. Kita harus belajar dari pengalaman gas. Kita berteriak gas dalam negeri lebih mahal daripada gas di Singapura atau Vietnam. Persoalannya kita tidak pernah melihat gas sebagai sumber energi yang penting. Selama ini kita terlalu bertumpu kepada minyak.
Ketika ditemukan cadangan gas, tidak ada yang mau memakainya. Karena tidak bisa disimpan, dijuallah gas dengan harga murah dan kontrak jangka panjang. Ketika sekarang kita ingin beralih ke gas, tidak mungkin kontrak yang ada dibatalkan. Kita terpaksa mengandalkan sumber gas baru dan harganya tentu dengan harga yang sekarang lebih mahal. Apalagi pemerintah juga sering tidak peduli. Infrastruktur gas tidak disediakan negara, tetapi diserahkan kepada para kontraktor minyak.
Otomatis investasinya dihitung sebagai biaya produksi dan akibatnya harga gasnya pun menjadi lebih mahal. Pertanyaan sekarang, maukah kita berubah? Kita membutuhkan perubahan visi dalam melihat energi. Visi itu harus jauh ke depan dan jelas yang hendak dituju. Apalagi seluruh dunia mengaitkan persoalan energi dengan lingkungan. Itu tantangan yang jauh lebih berat lagi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved