Dimas Kanjeng

Suryopratomo
08/10/2016 08:42
Dimas Kanjeng
(MI/Abdus Syukur)

NAMA ini mendadak menjadi terkenal di Indonesia. Dimas Kanjeng Taat Pribadi mampu mengecoh banyak orang dengan janji menggandakan uang yang disetor kepadanya. Miliaran rupiah uang berhasil ia dapatkan, termasuk dari mereka yang terpelajar.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya penipuan yang dilakukan Dimas Kanjeng. Ia menawarkan kepada siapa pun yang percaya untuk melipatgandakan uang yang mereka serahkan.

Dimas Kanjeng cukup bermodal kecil kepada mereka yang pertama kali datang. Kalau uang Rp1 juta dalam satu hari bisa menjadi Rp2 juta, pasti orang itu akan bercerita kepada teman-temannya. Ketika orang kedua datang, uang orang ketiga yang dipakai untuk membayar. Demikian seterusnya sehingga kian banyak orang percaya.

Seperti kasus-kasus penipuan keuangan sebelumnya, persoalan muncul ketika pelaku mulai mau menikmati dan rakus. Mis-match terjadi ketika jumlah pembayaran lebih besar daripada jumlah uang yang masuk.

Orang terakhir yang belum menikmati, tetapi sudah keluar uang yang pertama kali kemudian berteriak. Teriakan itu yang membuat banyak orang yang tersihir kemudian sadar. Mereka baru tahu kalau semua itu hanyalah ilusi.

Secara akal sehat tidak mungkin uang akan berlipat ganda dengan sendirinya. Semua orang harus mau bekerja keras apabila modal yang ditanamkan ingin bertambah.

Bahkan sering dikatakan perlu ada tiga good agar kita bisa berhasil dalam berusaha, yaitu good planning, good execution, dan terakhir good luck. Ketika kita ingin berhasil tanpa mau bekerja keras, kita sedang dihinggapi penyakit sosial.

Salah satu yang menjadi penyebab munculnya penyakit sosial ialah korupsi. Perilaku koruptif merusak mentalitas orang untuk berpikir, tidak perlu bekerja keras agar bisa kaya raya.

Kerusakan akibat korupsi tak hanya hilangnya uang milik rakyat, tapi yang lebih merugikan ialah munculnya sikap malas. Etos kerja bangsa hancur ketika orang berpikiran ada jalan mudah untuk menjadi kaya.

Apa yang dilakukan Dimas Kanjeng melanggar aturan tata kelola keuangan publik. Ketika seseorang mengumpulkan uang milik orang lain dalam jumlah yang banyak, ia harus memiliki izin dari otoritas jasa keuangan.

Bahkan seseorang yang akan diangkat sebagai direksi lembaga keuangan harus melewati uji kelayakan dan kepatutan bahwa ia memang memiliki keterampilan untuk mengelola uang milik masyarakat.

Kasus penipuan oleh Dimas Kanjeng membukakan mata kita betapa daya nalar dari bangsa ini masih rendah. Orang tidak mampu berpikir kritis dan begitu mudahnya untuk dikelabui orang lain.

Kejadian ini sekaligus membukakan mata kita bahwa masih panjang perjalanan dari bangsa ini untuk membangun peradaban tinggi. Kita belum memiliki disiplin yang melahirkan etos kerja tinggi. Kita masih terperangkap dalam budaya instan.

Semua bisa didapatkan dengan cepat tanpa harus bekerja keras. Tugas dari pemimpin bangsa ini untuk mencerdaskan bangsa. Ini tugas konstitusional karena dalam pembukaan UUD 1945 ditegaskan, tanggung jawab pemerintahan ialah menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tanpa mampu melaksanakan tugas konstitusional itu, jangan harap kita bisa bersaing dengan bangsa lain. Negara maju telah selesai dengan tugas membangun disiplin dan etos kerja warga bangsanya.

Untuk itulah, belum waktunya bagi kita berpuas diri dan membanggakan kemajuan yang telah kita raih. Kasus Dimas Kanjeng merupakan cerminan bahwa kita masih jauh untuk membangun peradaban yang bisa dibanggakan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.