Tentara Kita

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
07/10/2016 05:31
Tentara Kita
(ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

DI masa revolusi kemerdekaan, tentara ialah para wira. Merekalah para pemilik epos negeri ini. Mereka tentara rakyat. Doktrinnya jelas, seperti yang kerap digemakan Panglima Besar Jenderal Sudirman, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa.

Sudirman menjadi penggerak pendulum ke mana tentara hendak dibawa. “Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa pun ju ga. Tentara bukan menjadi kasta yang berdiri di atas masyarakat,” kata sang jenderal.

Namun, di masa Orde Baru, tentara kerap me nimbulkan trauma. Tentara justru menjelma menjadi kasta yang berdiri paling tinggi, yang dulu ditakutkan Panglima Besar itu. Masih segar dalam ingatan saya ketika remaja, beberapa tentara menyiksa penduduk desa yang punya pilihan politik berbeda dengan penguasa.

Dibunuhnya aktivis buruh Marsinah dengan keji hanyalah contoh kecil dari fakta yang sesungguhnya betapa tentara seperti berubah menjadi musuh rakyat. Tentara menjadi alat negara yang ‘bayangannya saja tak boleh disentuh’. Menjadi tentara di masa Orde Baru berarti pe nentu segala urusan. Siap menjadi wakil rak yat, wali kota, bupati, gubernur, menteri, dan bahkan beking para durjana. Siapa jenderal yang menjadi pangdam, kasum, kassospol, KSAD, dan terlebih Panglima TNI akan ramai dinujum para ahli politik bakal ke mana langkah berikutnya berlabuh.

Presiden Soeharto berpidato pada acara wisuda Akabri (kini Akmil) di Istana Negara era 1980-an, mempertegas posisi kasta itu. “Kalian memang dipersiapkan untuk menghadapi halhal yang luar biasa. Adapun hal yang biasa ialah urusan mereka yang berada di luar tentara.” Da lam sebuah kuliah umum di universitas, Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti seperti menjawab pidato itu. Intinya ia bilang, satu orang mahasiswa (UI) lebih berharga daripada 100 tentara.

Ini pernyataan untuk memotivasi agar kampus tak minder menghadapi tentara yang merasa segalanya itu. Kini di era demokrasi, saya masih melihat tentara seperti dalam persimpangan jalan: antara cerita kepahlawanan masa lalu yang kian menjauh dan masa depan yang belum pasti. Secara konstitusi ia telah mengalami perubahan amat substansial (lahirnya UU No 34 Tahun 2004), tetapi secara mental-psikologis seperti belum sepenuhnya siaga.

Menjadi kian jelas ketika mencermati kiprah Agus Harimurti Yudhoyono. Ia tentara yang cemerlang, lulusan terbaik Akmil pada 2000, anak Presiden Yudhoyono (2004-2014) yang juga militer, memilih melepas militernya yang baru digeluti 16 tahun demi berkompetisi men jadi calon Gubernur DKI Jakarta. Sebuah perjudian yang berani. Agus yang baru mayor, lulusan S-2 di universitas luar negeri dengan indeks kumulatif tertinggi. Militer Indonesia ke hilangan tunas muda cemerlang.

Terlebih tantangan dan ancaman militer di masa depan kian kompleks. Keputusan Agus pastilah hasil sebuah kalku lasi yang cermat. Bisa jadi ia memang dipersiapkan untuk Pemilihan Presiden 2019 dan setelahnya? Apa pun jawabannya, ini membuktikan bahwa tentara tidak lagi menjadi profesi yang penuh pesona. Terlebih bagi mereka yang punya kehendak untuk berkiprah di politik. Meski politik penuh kegaduhan, tetaplah ia menjadi magnet yang kuat.

Menjadi tentara, kata Jenderal Sudirman lagi, ialah sebuah bakti kepada negeri. “Karena keinsafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.” Kita terjemahkan apa yang dikatakan Jenderal Sudirman dalam konteks hari ini ialah tegaknya profesionalitas TNI. Tentara yang teguh pada konstitusi, pada profesi. Sebab, mengerjakan sesuatu di luar tugasnya tak hanya merendahkan eksistensi TNI, yang pasti akan melemahkan eksistensi negara. Dirgahayu, TNI.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.