Daya Saing Indonesia

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
06/10/2016 05:31
Daya Saing Indonesia
(ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

DI tengah ketidakpercayaan kepada globalisasi, sebagai dampak miring Brexit serta suara negatif capres AS Donald Trump mengenai perdagangan bebas, World Economic Forum kembali menerbitkan hasil survei mengenai persaingan global. Laporan itu disertai pengantar perihal berita buruk dan berita baik. Berita buruk untuk tahun ini (2016-2017) ialah laporan itu dilansir di tengah pertumbuhan ekonomi masih rendah akibat jatuhnya harga-harga komoditas, meningkatnya ketidakseimbangan eksternal, serta tertekannya keuangan pemerintah.

Berita baiknya ialah saat ini dunia paling sejahtera dan damai yang tercatat dalam sejarah. Hal itu dilihat dari penyakit, kemiskinan, serta konflik kekerasan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tentu saja kita boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat Richard Samans, Kepala Pusat Agenda Global World Economic forum, dalam pengantar Laporan Persaingan Global 2016-2017 setebal 400 halaman itu. Dalam dunia yang amat gonjang-ganjing sekalipun, kita mau tahu potret diri kita.

Apa pun hasilnya, seburuk apa pun. Saban kali badan dunia yang berwibawa melansir hasil riset mereka, saban kali itu pula kita i ngin becermin. Lebih cepat buruk muka diketahui, lebih baik bagi pengambil kebijakan publik. Dari 138 negara yang disurvei, posisi daya saing Indonesia berada pada peringkat 41, turun empat peringkat dari survei sebelumnya. Indonesia mengalami kontras. Dari segi besarnya pasar, Indonesia merupakan negeri kinclong, berada di peringkat 10.

Pilar makroekonomi pun relatif ba gus, berada di posisi 30. Inovasi pun relatif bagus, peringkat 31. Perkembangan pasar fi nansial juga naik tujuh peringkat, menjadi peringkat 42. Akan tetapi, pilar pendidikan dasar dan kesehatan sangat buruk, yaitu peringkat 100, anjlok 20 peringkat. Jika dilihat dari kampanye Jokowi sewaktu pilpres, itu berarti pemerintah belum berhasil mewujudkan janji Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat. Rakyat mestinya masih terbayang
se cara visual di televisi, dalam debat capres, bagaimana Jokowi dengan mantap mengeluarkan dua kartu penting Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat, dua program menyangkut rakyat yang tidak dimiliki capres Prabowo.

Pilar kesehatan buruk akibat penyakit tuberkulosis, HIV/AIDS, serta harapan hidup (68,9 ta hun). Sebagai perbandingan, harapan hidup anak bangsa ini lebih baik daripada Ethiopia (64 tahun), tapi lebih buruk bahkan bila dibandingkan dengan Bangladesh (71,6 tahun). Tak elok, belum waktunya (untuk tidak mengatakan malu), membandingkannya dengan negara maju Jerman, yang harapan hidup rakyat mereka mencapai 80,8 tahun. Tentu saja masih terlalu dini memvonis janji
Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar itu karena pemerintahan Jokowi, Oktober ini, baru berjalan dua tahun. Belum separuh masa berkuasa.

Akan tetapi, peringkat 100 dari 138 negara dalam hal kesehatan dan pendidikan dasar kiranya terlalu buruk untuk cuma dimengerti. Yang lebih buruk menyangkut efisiensi pasar tenaga kerja, peringkat 108. Buruk akibat berbagai kekakuan serta rendahnya rasio perempuan dalam angkatan kerja. Survei juga mencari tahu lima faktor yang paling problematik dalam berbisnis di suatu negara. Hasilnya, untuk Indonesia, korupsi paling teratas, lalu di bawahnya berturut-turut ketidakefi sienan birokrasi pemerintah, infrastruktur yang tidak memadai, akses ke finansial, serta infl asi.

Jelaslah korupsi masih masalah besar. Tanpa World Economic Forum melakukan survei, publik tahu korupsi masih mengganas. Dalam hal ini pun terjadi kontras. KPK sangat berwibawa, tapi dalam pencegahan, kinerja mereka buruk. Orang takut tertangkap KPK, tapi orang tidak takut korupsi. Dari segi kelembagaan KPK paling dipercaya, tetapi dari segi raison d’etre, alasan kelahiran mereka, KPK sebetulnya masih ‘di situ-situ saja’.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima