Setelah Jabat Tangan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
30/9/2016 05:31
Setelah Jabat Tangan
(AFP PHOTO / STR)

INI jabat tangan paling mengguncang di Malaysia. Dalam sebuah perjalanan tak terjadwal, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad bersua bekas seterunya, Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Senin pekan pertama September ini. Mereka bersua di Pengadilan Tinggi Kota Kuala Lumpur. Keduanya hangat berjabat tangan, saling melempar senyum, berbincang, seperti sahabat lama sekian waktu tak bertemu.

Inilah jabat tangan setelah 18 tahun keduanya berseteru. Politik Malaysia pun berdegup. Kita ingat Mahathir memecat Anwar pada 2 September 1998, kemudian aparat negara menjebloskan ke penjara dengan tuduhan asusila (sodomi). Namun, politik jualah yang memberi ruang kemungkinan bersatu ketika kepentingan bertemu. Mahathir baru saja mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia dan Anwar memang tokoh penting Partai Keadilan Rakyat yang memimpin Aliansi Harapan melawan PM Najib Razak yang dibelit tuduhan korupsi hebat senilai US$700 juta.

Keduanya nyaring meneriakkan pelengseran Najib. Setelah jabat tangan, nujum pun jadi ramai. Mereka pasti bersekutu. Tak mungkin berhenti sebatas jabat tangan. Seorang petinggi Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) Azalina Othman Said berang. "Sekarang saya persoalkan apakah setelah ini Mahathir akan membuat pengakuan mengenai tuduhan pada Anwar tidak berlaku?" Menteri Multimedia dan Komunikasi Salleh Said Keruak menyebut tindakan itu laku politik terdesak.

"Mahathir's kiss is a kiss of death." "Kalau saya boleh bekerja sama dengan Kit Siang (dari Partai Aksi Demokratik/DAP), kenapa saya tidak boleh bekerja sama dengan Anwar?" kata Mahathir menjawab orang yang ramai berbincang tentang manuvernya. Benar juga. Pada 19 September, kedua bekas petinggi UMNO itu membuat pernyataan yang ditandatangani bersama. Keduanya menentang pemberlakuan Akta Majlis Keselamatan Negara yang dinilai mengancam demokrasi di Malaysia.

Mahathir dan Anwar memang kedua tokoh yang populer di Indonesia. Keduanya dipersepsikan bukan sosok yang kerap diamsalkan serupa politikus burung unta, yang menyembunyikan kepala dan lari terbirit-birit ketika bahaya datang. Banyak orang Indonesia yang menamai anak lelaki mereka Mahathir. Beberapa universitas juga memberikan gelar doktor honoris causa kepadanya. Anwar Ibrahim, ketika itu, siapa yang tak terpesona? Ia nyaris di puncak kuasa, muda, berkarisma, cerdas, dan bersahabat.

Bukunya, The Asian Renaissance (1997), menjadi perbincangan ramai di banyak negara, juga Indonesia. Majalah Time pun menobatkan Anwar sebagai pemimpin muda paling bersinar. "Namun, apakah Mahathir akan memberikan kesempatan kepadanya?" Tidak. Ia bahkan membunuhnya. Kini keduanya bersekutu. Anwar kerap menyeru ke penguasa Malaysia agar belajar demokrasi kepada Indonesia. Pada 2004, setelah enam tahun ia diterungku, Indonesia negara pertama yang dikunjunginya.

Selama lima hari rombongan Anwar disambut layaknya sahabat dekat, digelar acara di banyak kota, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Anwar tetap memesona. Ketika bicara di Gedung Kesenian Jakarta, ia fasih bicara sastra Indonesia. Ia hafal sajak-sajak Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan seterusnya. Ia pecinta sastra Indonesia sejati. Ketika masih di pemerintahan, jika ke Indonesia, ia rajin memborong karya sastra dan membagikannya kepada sesama anggota kabinet.

Bagaimana pemimpin Indonesia? Mereka kerja, kerja, kerja? Setelah jabat tangan di mahkamah itu, Mahathir-Anwar kian merapat melawan Najib Razak. Padahal, dari sisi genealogis, Najib paling dekat dengan kita. Ia keturunan Bugis. Namun, ia seperti tak pernah menyapa Indonesia dengan mesra seperti Anwar. Terlebih jika kelak terbukti korupsi, Najib kian menjadi 'orang jauh'. Ia 'saudara sebangsa' yang tak punya pengaruh apa-apa. Untuk Anwar, ia masih menjadi sebuah kerinduan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.