Riset

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/9/2016 05:31
Riset
(ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)

PADA peringatan ulang tahun emas, pendiri Kalbe Farma Boenjamin Setiawan menyampaikan bagaimana negara-negara di dunia bisa maju. Ia mencontohkan Korea Selatan yang sama merdekanya dengan Indonesia. Mereka kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia karena menjadikan riset sebagai kekuatan. Menurut data Bank Dunia 2013, Korsel merupakan negara dengan persentase dana riset paling tinggi jika dilihat dari produk domestik bruto. Dana riset mereka mencapai 4,1% dari PDB melewati Jepang (3,9%), AS (2,8%), Jerman (2,9%), Prancis (2,2%), dan Tiongkok (2,0%). Tidak usah heran bila Korsel kemudian mempunyai produk-produk unggulan dunia.

Bagaimana dengan kita Indonesia? Dana riset kita hanya 0,1% dari PDB. Kalau PDB kita sekarang sekitar US$900 miliar, itu artinya dana riset yang tersedia hanya US$900 juta atau sekitar Rp10 triliun saja. Tidak usah heran bila berkebalikan dengan Korsel, kita tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah sebagai kekuatan. Selama 32 tahun era Orde Baru, praktis kita hanya mengandalkan minyak untuk ekspor.

Kita jual semuanya dalam bentuk mentah. Sepuluh tahun era reformasi, kita juga hanya mengeksplorasi komoditas sebagai andalan ekspor. Tujuh puluh tahun kita merdeka, kita tidak tergugah untuk mendorong riset sebagai kekuatan. Doktor-doktor hebat yang kita miliki tidak didorong untuk membuat karya besar. Malah banyak doktor yang hanya menggunakan gelar mereka untuk mengejar jabatan politik.

Tidak usah heran apabila orang-orang hebat Indonesia kemudian dimanfaatkan negara lain. Banyak riset pertanian di Malaysia dikerjakan doktor asal Indonesia. Mereka pergi ke sana bukan karena tidak cinta kepada Tanah Air, melainkan karena di negeri jiran mereka diberi kesempatan dan penghargaan untuk mengaplikasikan ilmu mereka. Kalau kita ingin menjadi negara industri baru, yang harus didorong ialah riset. Tidak mungkin kita mempunyai produk berkelas dunia kalau tidak ditopang riset yang andal.

Tidak perlu negara yang melakukan, tetapi swasta harus didorong untuk mau melakukan riset. Republik Irlandia menjadi salah satu yang maju risetnya karena mereka memberikan insentif kepada swasta yang mau melakukan penelitian. Mereka bahkan melindungi karya dari hasil riset yang dilakukan swasta sebagai hak kekayaan intelektual. Pada tingkat tertentu, swasta Indonesia sudah mengembangkan riset. Kalbe Farma merupakan salah satu yang melakukan riset di bidang
farmasi. Karena kekayaan plasma nuftah yang kita miliki, Kalbe Farma melakukan kerja sama dengan swasta dari negara lain.

Di bidang perkebunan, kita melihat riset yang dilakukan perusahaan kelapa sawit. Mulai Sinar Mas, Raja Garuda Mas, hingga Grup Salim melakukan riset untuk mendapatkan bibit kelapa sawit berkualitas. Melalui pengembangan kultur jaringan, mereka bisa mendapatkan bibit kelapa sawit yang dalam setahun sudah berbuah dan hasilnya bisa 10 ton minyak kelapa sawit per hektare.

Kita melihat juga riset di bidang kehutanan. Melalui pengembangan kultur jaringan, ditemukan jenis tanaman yang bisa mencapai ketinggian 30 meter dalam waktu lima tahun. Indonesia akan bisa menjadi kekuatan industri kehutanan dunia karena pohon yang sama butuh waktu 40 tahun ketika ditanam di daerah subtropis. Pertanyaannya sekarang, sampai sejauh mana kita akan mendorong riset di Indonesia?

Apakah kita mau membangun sistem perpajakan yang mendukung pengembangan riset? Ataukah kita puas dengan keadaan sekarang dan tidak mau menjadikan riset sebagai budaya? Kita tidak akan pernah menjadi bangsa maju apabila kita tidak pernah berani berinvestasi di bidang riset. Saatnya bagi kita untuk mengubah orientasi dengan mendorong riset agar kita mempunyai banyak produk unggulan.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.