Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI

POLITIK kerap tak dimulai dari rasa lega, tapi rasa gelisah, rasa gundah.
Bagi sebagian orang, politik kerap hadir dengan rasa ngeri, rasa jeri.
Pun di era demokrasi ini.
Era yang muskil jadi mungkin, yang di tubir jadi di muka, yang kelam jadi terang, yang tersembunyi jadi terbuka, yang sunyi jadi riuh.
Justru karena semuanya jadi boleh, gibah bahkan laku anarki kerap tak terhindari.
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta agaknya berbeda. Setelah mencermati tiga pasang bakal calon gubernur dan wakil gubernur, seorang ibu mengungkapkan rasa bahagianya.
Mereka ialah pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (didukung NasDem, Hanura, Golkar, PDIP); Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno (Gerindra dan PKS); dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (PD, PAN, P3, PKB).
"Saya merasa bahagia," kata Nani, warga Jakarta, ketika mengomentari Bedah Editorial berjudul 'Mencegah Polarisasi, Menepis Isu Sara' Sabtu (24/9).
Kenapa seorang ibu yang bukan sanak saudara merasa bahagia menghadapi kompetisi politik? Karena ketiganya disebut sebagai calon yang derajat kepantasannya tinggi dan potensi konfliknya rendah.
Mereka generasi baru: muda, terpelajar, dipersepsikan punya gagasan dan visi.
Kata Nani lagi, mereka berasal dari keluarga yang tak punya kontroversi korupsi.
Ahok putra Indra Tjahaja Purnama-Buniarti Ningsih, pengusaha di Belitung Timur yang dermawan. Anies putra Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid, kakeknya, AR Baswedan, pejuang kemerdekaan; Agus putra Susilo Bambang Yudhoyono-Kristiani Herawati, Presiden Ke-6 RI yang terpelajar itu.
Ahok antikorupsi, berani, dan tegas.
Banyak yang bilang ia pemimpin yang urat takutnya sudah putus.
Ikrarnya, "Demi konstitusi saya siap mati."
Insinyur geologi lulusan Universitas Trisakti dan master manajemen dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya itu ialah politikus nirpartai yang punya karakter.
Ia mantan Bupati Belitung Timur, anggota DPR, serta Wakil Gubernur dan kini Gubernur DKI Jakarta.
Anies, doktor ilmu politik dari Northen Illinois University, dikenal sebagai intelektual yang punya reputasi.
Ketika ditunjuk menjadi Rektor Universitas Paramadina, ia berusia 38 tahun (2007).
Anies salah satu deklarator ormas Nasional Demokrat, peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, dan tim sukses capres Jokowi-JK.
Mantan mendikbud yang punya banyak penggemar.
Agus, berpangkat mayor, lulusan terbaik Akmil Magelang pada 2000, perwira menengah Angkatan Darat yang gemilang.
Ia peraih tiga master berbeda dari universitas yang berbeda pula.
Salah satunya master administrasi publik dari John F Kennedy School of Government Harvard University.
Keputusan pensiun untuk turun di gelanggang politik mengejutkan banyak pihak.
Pastilah ini keputusan yang telah dikalkulasi matang.
Sosok calon Gubernur Jakarta telah menjadi pengharapan dan rasa bahagia.
Pilkada Jakarta ialah satu dari 101 pilkada serentak pada 2017.
Pilkada Jakarta menjadi perhatian publik di seantero negeri.
Pro-kontra tentang Ahok, misalnya, serupa cerita bersambung yang tiada habis-habisnya.
Pembicaraan di mana pun, termasuk di grup-grup media sosial, tak ada yang tak bicara Ahok.
Pendukungnya meyakini ia bakal menang mudah. Penentangnya berdebar menanti siapa yang paling layak sebagai penantang petahana.
Dalam politik, kemungkinan ialah dewi yang selalu dinanti.
Pengharapan itu telah terjawab. Dua nama penantang Ahok itu bukanlah nama yang 'jauh di seberang', melainkan 'kawan dekat' dari sisi pemahaman keberagaman, tentang Indonesia.
Saya percaya pilkada Jakarta benar-benar akan menjadi perhelatan politik yang membuat kita bahagia.
Kebahagiaan itu mestinya pula menjadi inspirasi kebahagiaan dalam pesta demokrasi di berbagai daerah.
Terlalu sayang Jakarta untuk tidak dicintai.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved