Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
INI tulisan saya yang kedua di forum ini mengenai Ahok-Djarot, sebagai pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jakarta, setelah tulisan yang pertama (15/8). Kala itu PDIP belum berkeputusan resmi mengusung Ahok-Djarot. Pokok pikiran tulisan yang pertama itu ialah pasangan Ahok-Djarot kiranya pasangan yang pas untuk dicalonkan kembali memimpin Jakarta. Sebagai petahana, bila terpilih, mereka bisa langsung tancap gas melanjutkan apa-apa yang selama ini telah mereka kerjakan dan rencanakan untuk ibu kota negara yang jauh lebih baik.
Fakta memprihatinkan ialah tidak banyak pasangan petahana kembali berpasangan dalam pilkada berikutnya. Umumnya pekong’, pecah kongsi. Bahkan, bulan madu kemesraan hanya seumur jagung. Selebihnya kepala daerah meninggalkan wakilnya seperti laskar tak berguna. Sang wakil sakit hati, kemudian menjadi pesaing yang tangguh. Fakta ‘pekong’ itu menunjukkan, di satu pihak ketidakmampuan kepala daerah berbagi peranan, di lain pihak sang wakil tidak tahu diri sebagai wakil.
Tidak berlebihan untuk mengatakan lebih sulit menjadi wakil daripada bos. Barang siapa yang bernama orang muda lulus sebagai wakil, orang nomor 2 yang mumpuni, kiranya suksesi berwajah dan bersubstansi regenerasi bakal berjalan efektif. Sekalipun Ahok-Djarot bukan pasangan orisinal dalam pilkada sebelumnya mereka menggantikan posisi Jokowi-Ahok, karena Jokowi terpilih menjadi presiden keutuhan mereka sebagai petahana merupakan modal yang besar dan contoh yang baik. Pemerintahan DKI Jakarta diurus dengan sigap, cekatan, dan bersih, telah dimulai oleh Jokowi-Ahok, kemudian dilanjutkan oleh Ahok-Djarot.
Mereka berani melawan legislatif yang pikirannya sarat proyek. Menjelang injury time, PDIP akhirnya resmi mengusung Ahok-Djarot. Bukan persoalan besar karena segala sesuatu indah pada waktunya. Bukan pula persoalan besar, apakah Ahok itu melamar atau dilamar PDIP. Bangsa ini tidak kelebihan pemimpin, tidak pula kelebihan gubernur bagus, karena itu tidak punya kemewahan untuk berkutat dan berkukuh dalam perkara lamar-melamar. Dalam spirit itulah PDIP mengusung
Ahok, bersama NasDem, Hanura, dan Golkar, yang telah lebih dulu mengusungnya.
PDIP memberlakukan kontrak politik kepada Ahok. Apa yang salah? Apa pula yang baru? Dalam politik, aneh benar mengusung tanpa paham ‘apa dan siapa’ yang diusung, bak membeli kucing dalam karung. Apakah who’s who itu juga berlaku untuk seorang berkarakter seperti Ahok, fi gur yang terlalu gamblang untuk dibaca? Jawabnya, siapa pun yang diusung, apa pun karakternya, harus menjunjung tinggi komitmen membangun masyarakat, bangsa, dan negara.
Apakah wujudnya lisan, ataukah hitam di atas putih berupa kontrak politik, mangga kersa. Yang masih belum terjawab hingga Selasa (20/9), siapa saingan Ahok-Djarot. Belum jelas, Sandiaga Uno bakal berpasangan dengan siapa. Juga belum jelas, apakah Yusril Ihza Mahendra jadi diusung. Kalau jadi, siapa pula wakilnya. Semua itu menunjukkan hebatnya dinamika politik lokal, yang berspektrum nasional.
Warga Jakarta tentu dapat bersabar, menantikan kejutan politik, yaitu Ahok-Djarot mendapat kompetitor yang setanding dalam visi dan misi membangun Jakarta, sebagai ibu kota negara. Bukan jualan kebencian, bukan jualan SARA yang bikin negara dan bangsa ini mundur.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved