Tragedi Impor

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/9/2016 05:31
Tragedi Impor
(MI/ARYA MANGGALA)

KASUS tertangkap tangannya Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman pantas membuat kita prihatin. Setelah Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, inilah untuk kedua kalinya ketua lembaga tinggi negara terjerat operasi tangkap tangan di rumah jabatan. Dalam kasus Irman Gusman sempat muncul pertanyaan, sebegitu murahnyakah harga sebuah integritas?

Saat ia tertangkap tangan, ditemukan uang kontan sebanyak Rp100 juta. Padahal, saat kasus korupsi menimpa Akil Mochtar, nilainya miliaran rupiah. Komisi Pemberantasan Korupsi menjelaskan kasus yang menimpa Irman berkaitan dengan kasus impor gula yang sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Padang, Sumatra Barat. Penyuap Irman ialah pengusaha yang selama ini memegang izin impor gula dan beras untuk wilayah Sumbar. Irman sendiri ialah wakil masyarakat Sumbar.

Kita tidak hendak masuk ke kasus hukum yang sedang disidik KPK. Kita ingin mengungkap persoalan impor pangan yang dua pekan lalu juga diangkat pada kolom ini. Betapa negeri agraris ini dirusak para pedagang yang sekadar mencari margin. Sudah lama pangan dipakai sebagai ajang untuk mengeruk keuntungan. Sejak peran Badan Urusan Logistik diselewengkan sebagai ajang untuk mendapatkan uang segar dalam bentuk cepat, pembangunan pertanian menjadi korban.

Padahal, di awal Orde Baru, pembangunan lima tahun yang dicanangkan dimaksudkan untuk membangun sektor pertanian guna mencapai swasembada pangan. Perjuangan sejak 1967 mencapai hasilnya 17 tahun kemudian ketika Indonesia mencapai swasembada beras. Setelah itu, pertanian dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan. Ketika hendak pemilihan umum, keran impor pangan dibuka lebar-lebar.

Swasta dijadikan importir untuk memasukkan mulai beras, gula, jagung, bahkan hingga kemudian daging. Mereka diwajibkan menyetorkan sebagian keuntungan yang diperoleh apabila ingin kuota impor aman. Seorang mantan staf khusus menteri perdagangan menyebutkan margin dari impor gula luar biasa besarnya. Setidaknya dari setiap kilogramnya, keuntungan Rp2.000 bisa diperoleh. Padahal, impor gula Indonesia per tahun mencapai 4 juta ton. Artinya keuntungan yang didapatkan bisa mencapai Rp8 triliun.

Dengan keuntungan seperti itu, tidak usah heran bila orang berani melanggar aturan. Orang akan mati-matian mempertahankan kuota impor yang didapatkan karena keuntungan sudah pasti di depan mata. Kelompok itu pasti tidak suka apabila Indonesia mencapai kedaulatan pangan. Dengan berbagai cara, mereka menjegal upaya pembangunan pertanian. Selalu yang didengungkan adalah inefi siensi. Mereka bahkan berupaya memengaruhi anggota legislatif untuk menghapuskan bea masuk.

Kita tentu masih ingat sekitar 2013 ketika muncul desakan agar bea masuk kedelai dihapuskan supaya harga bisa turun dan pengusaha tahu ataupun tempe tidak gulung tikar. Ketika pemerintah mencabut bea masuk, harga kedelai bergeming dan pengusaha tahu ataupun tempe tetap menjerit. Para pejabat sering kali tidak sadar (atau pura-pura tidak sadar) akan semua fakta itu. Pemerintahan Jokowi yang saat kampanye mendengungkan soal kedaulatan pangan bahkan begitu mudah membuka keran impor.

Atas nama kepentingan masyarakat untuk mendapatkan harga yang murah, kita menghamburkan devisa untuk mengimpor kebutuhan pokok masyarakat. Padahal, di belakang keputusan itu, ada segelintir orang yang bertepuk tangan. Mereka berpesta pora di balik kebijakan impor itu karena bisa mengeruk keuntungan tanpa harus berkeringat banyak. Mereka cukup melobi pejabat untuk mendapatkan kuota impor dan menelepon rekanan di luar supaya mengirimkan produk.
Sementara itu, jutaan rakyat yang hidup dari pertanian tidak pernah bisa menikmati keuntungan yang layak. Saat panen raya, harga jatuh dan Bulog pun tidak mau menyerap jerih payah mereka. Ironis!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima