Reklamasi Lagi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/9/2016 05:31
Reklamasi Lagi
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

“ISUK dele, sore tempe,” itulah cerminan kebijakan di Indonesia. Semua tidak bisa dipegang karena bisa berubah setiap saat. Terakhir yang berubah-ubah ialah keputusan tentang reklamasi di Teluk Jakarta. Ratas di Kemenko Maritim mencabut moratorium yang sebelumnya diputuskan Menko Maritim Rizal Ramli.

Menko yang baru, Luhut Pandjaitan, mengatakan tidak ada yang salah dengan reklamasi. Presiden Joko Widodo, menurut Luhut, meminta pro yek dilanjutkan. Selesaikah persoalan? Tidak. Menko Maritim memang memiliki kewenangan koordinasi, tetapi tidak kewenangan eksekusi. Keputusan un tuk mencabut moratorium berada di kementerian teknis, yaitu Ke menterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baik Menteri LHK Siti Nurbaya maupun Menteri KP Susi Pudjiastuti mengatakan tidak bisa membuat keputusan pencabutan moratorium tanpa payung lebih tinggi. Kementerian LHK menunggu keputusan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tentang pembangunan tembok laut sebagai dasar keluarnya izin analisis mengenai dampak lingkungan. Kementerian Kelautan dan Perikanan hanya akan mengeluarkan keputusan jika izin amdal dikeluarkan KLHK.

Silang pendapat para menteri sangat tidak elok dan menunjukkan ketidakkompakan. Penyebabnya ialah ketidaksabaran dalam mengeluarkan pernyataan. Kalau saja Menko Mari tim bertindak lebih bijak dengan mendengar pandangan Menteri LHK dan Menteri KP, kegaduhan tidak perlu terjadi. Di tengah keinginan pemerintah menarik investasi, kasus itu menjadi kampanye buruk.

Orang kian tidak berani berinvestasi di Indonesia karena ketidakjelasan keputusan. Semua tidak didasarkan aturan berlaku, tetapi preferensi dari pejabat. Apalagi, kasus reklamasi ini sudah masuk ke ranah hukum. Nelayan di pantura Jakarta sudah menggugat ke PTUN dan dimenangkan oleh pengadilan. Pemerintah semestinya menghormati keputusan itu. Tidak bisa pemerintah unjuk kekuasaan dan menganggap keputusan PTUN itu tidak memiliki kekuatan hukum.

Belum lagi sikap kelompok masyarakat penentang reklamasi. Mahasiswa Universitas Indonesia berunjuk rasa menyatakan ketidaksetujuan ter hadap kebijakan baru pemerintah. Dalam negara demokrasi, tugas pemerintah memang menjadi lebih berat. Mereka harus mendengarkan suara penentang dan meyakinkan bahwa kebijakan itu memberi manfaat kepada masyarakat yang lebih besar. Komunikasi harus dibangun dan tidak bisa menafi kan suara para penentang begitu saja.

Tanpa ada konsensus, proyek reklamasi akan terus menuai masalah. Itu akhirnya akan menyulitkan semua pihak, termasuk pengusaha. Pembangunan seperti apa yang sebenarnya kita inginkan? Jika hanya mengandalkan kekuasaan apa bedanya dengan sistem lama? Kita tidak boleh lupa saat kita memilih Jokowi sebagai presiden, salah satu pertimbangannya ialah kekuatan persuasi yang ia miliki. Jokowi dikenal sabar membangun komunikasi dengan rakyat saat hendak memindahkan
mereka ke lokasi baru.

Kini, kita pantas bertanya, ke mana kekuatan persuasi Jokowi itu? Me ngapa para menterinya tidak cukup sabar membangun komunikasi bahkan dengan sesama menteri sendiri. Kalau semua didekati dengan prinsip ‘pokoknya’, kita bukan sedang membangun negara ini. Kita sedang memupuk kebencian di antara warga bangsa. Tentu tidak ada kata terlambat sepanjang ada kemauan untuk memperbaiki kelemahan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima