Haji Malcolm X

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
13/9/2016 06:00
Haji Malcolm X
(AFP/AHMAD GHARABLI)

PERJALANAN haji telah membuka cakrawala berpikir saya dengan menganugerahkan cara pandang baru selama dua pekan di Tanah Suci.

Saya melihat hal yang tidak pernah saya lihat selama 39 tahun hidup di AS.

Saya melihat semua ras dan warna kulit bersaudara dan beribadah kepada satu Tuhan tanpa menyekutukanNya.

Benar pada masa lalu saya bersikap benci pada semua orang kulit putih namun saya tidak merasa bersalah dengan sikap itu lagi,

karena sekarang saya tahu bahwa ada orang kulit putih yang ikhlas dan mau bersaudara dengan orang negro'.

Demikian Malcolm X menulis dalam biografinya The Autobiography of Malcolm X, As Told to Alex Haley (1992).

Menurut pria kelahiran Omaha, AS, 19 Mei 1924 itu, Islam menunjukkan kepadanya bahwa kebencian membabi buta kepada semua orang kulit putih sungguh sikap tak islami.

Seperti halnya jika sikap yang sama dilakukan orang kulit putih terhadap orang negro.

Labbaik Allahumma labbaik....

Haji telah mentransformasi jiwa dan pikiran Malcolm X. Kulit putih yang telah merasuki bawah sadarnya sebagai manusia paling jahanam di muka bumi mulai melisut.

Memang kebencian itu bukan datang dari langit.

Empat abad kaum negro hidup dalam kubangan rasialisme kelam di negeri yang menjunjung tinggi demokrasi.

Ketika Malcolm masih dalam kandungan, pasukan berkuda Ku Klux Klan kerap meneror rumahnya seraya mengacungkan senjata.

Ayah Malcolm, Earl Little, pendeta Gereja Baptis, aktif dalam UNIA (Asosiasi Perbaikan Kaum Negro Sedunia).

Wajar ia menjadi sasaran empuk pasukan pembasmi kaum negro.

Rumahnya pun kemudian dibakar dan Little dibunuh ketika Malcolm enam tahun.

Sempurnalah derita itu: negro, miskin, dan yatim.

Kesaksian hidupnya, seperti umumnya negro yang hidup dalam ghetto-ghetto yang kumuh, terlibat kriminalitas, dan narkotika merupakan ekspresi rasa frustrasi tak tertahankan.

Malcolm akhirnya meringkuk di penjara selama tujuh tahun.

Penjara kemudian menjadi universitasnya.

Ia belajar agama (Islam), sejarah, sastra, bahasa, dan filsafat. Intelektualitasnya terasah.

Setelah bebas, ia bergabung dengan Nation of Islam (NOI) yang dipimpin Elijah Mohammad.

Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi mubalig di organisasi itu dan dikenal sebagai pendakwah karismatik.

Untuk memberi efek derita kaum negro, Malcolm selalu merujuk pada buku Black Like Me karya James Baldwin dan John Griffin.

Griffin ialah kulit putih yang menghitamkan diri menjadi negro selama dua bulan.

Dua bulan menjadi negro saja, derita sudah tak tertahankan.

Apalagi negro asli yang dihina selama empat abad.

Ketika naik haji, ia melihat betapa sesama manusia (muslim) benar-benar bersaudara.

Ia terpesona dengan kehidupan di Tanah Suci, yang kontras dengan negerinya yang rasial.

Terlebih, ketika ia menjadi tamu Raja Arab Saudi Pangeran Faisal.

Baginya tak masuk akal, seorang yang di negerinya kenyang hinaan bisa menjadi tamu raja.

Namun, ironi telah menjadi takdirnya.

Ia dibunuh tiga kulit hitam di New York pada 21 Februari 1965.

Kini, berjuta-juta muslim berhaji ke Tanah Suci.

Transformasi jiwa dan pikiran Malcolm X agaknya perlu digemakan kembali.

Bahwa sesama muslim bersaudara.

Jika sesama muslim bersaudara, haji mestinya menjadi inspirasi perdamaian di Timur Tengah.

Jika haji yang menjadi bukti nyata persaudaraan tak mampu merekatkan kemanusiaan, berhaji menjadi kehilangan pelajarannya yang paling autentik.

Di dalam negeri, kini kian terasa merapuhnya solidaritas dan menguatnya individualitas.

Jiwa altruistis melisut dan nafsu serakah menguat.

Kian mudah kaum beragama menyatakan diri paling benar dan mengafirkan mereka yang tak sepaham.

Transformasi Malcolm X setelah berhaji agaknya perlu dibaca kembali.

Bahwa berhaji kian meneguhkan untuk mencintai sesama.

Bahwa Islam rahmat bagi alam semesta.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima