Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH Indonesia berada dalam kondisi krisis? Jawabnya tentu tidak. Perekonomian kita masih tumbuh positif pada Kuartal II lalu. Neraca pembayaran juga dalam kondisi baik. Defisit neraca transaksi berjalan berada pada tingkat yang terkendali dan bahkan cenderung menurun. Namun, bukan berarti kita tidak perlu waspada. Di samping ketidakpastian perekonomian global, anggaran negara kita berada dalam posisi tertekan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terpaksa melakukan pemotongan anggaran dalam jumlah besar untuk mengantipasi bolongnya sisi penerimaan. Anggaran kementerian dan lembaga dan juga dana transfer ke daerah diminta untuk diturunkan lagi. Dalam posisi seperti ini memang kita harus mengendalikan pengeluaran. Jangan sampai kita lebih besar pasak daripada tiang.
Penghematan bukan hanya dalam pengeluaran pemerintah, tetapi juga dalam penggunaan devisa. Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono mengkhawatirkan sikap kita yang mudah untuk mengimpor. Sebentar-sebentar impor. Padahal, kalau digerakkan kemampuan ekonomi dalam negeri terlebih dahulu, bukan hanya devisa yang bisa dihemat, tetapi menggeliatnya kegiatan ekonomi dalam negeri.
Terutama impor yang kita sayangkan ialah impor kebutuhan pangan. Impor ini bukan hanya sekadar habis dan tidak menyisakan apa-apa kecuali kotoran, tetapi meninggalkan kekuatan kita sebagai negara agraris. Sekarang ini kita membuka lagi impor untuk daging kerbau dari India. Tidak tanggung-tanggung DPR pun menyetujui dan mengizinkan Perum Bulog mengimpor daging kerbau sampai 80 ribu ton.
Dengan harga impor daging kerbau Rp48 ribu per kilogram, artinya kita harus menyediakan devisa sekitar Rp6 triliun. Dengan bisnis sebesar itu tidak heran apabila Duta Besar India Nengcha Lhouvum hadir langsung dalam acara Economic Challenges, Selasa (6/9) malam lalu karena membahas daging kerbau India. Bagi India, bisnis US$500 juta per tahun tentu merupakan peluang yang bagus.
Bukan hanya dunia usaha mereka yang akan bergairah, melainkan peternak di negeri itu punya kesempatan kerja yang luar biasa. Lalu apa yang kita dapatkan dari impor itu? Pertama, keinginan Presiden Joko Widodo untuk membuat harga daging di bawah Rp80 ribu per kg memang bisa tercapai. Kedua, seperti dikatakan Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, pemenuhan protein hewani masyarakat bisa terpenuhi.
Tetapi selebihnya tidak ada. Coba kalau dana Rp6 triliun itu dipakai untuk membangun industri peternakan di Indonesia, ribuan orang akan bisa bekerja di bidang ini. Dari sana tidak hanya bisa lahir pengusaha peternakan yang andal, tetapi riset peternakan pun bisa berkembang. Kita teringat ketika Presiden Soeharto dikritik karena terlalu banyak berutang dari luar negeri.
Saking kesalnya Presiden Soeharto mengatakan, utang luar negeri itu dipakai untuk membangun infrastruktur yang membuat masyarakat bisa menjadi lebih produktif. Bukan dipakai untuk membeli makanan yang kemudian hanya menjadi kotoran. Kita harus berpikir ulang dalam melakukan impor. Sama dengan kita mengekspor produk dalam bentuk bahan mentah, kita sebenarnya hanya memberikan bangsa lain mempunyai pekerjaan dan menikmati nilai tambah.
Sementara kita di sini terbelenggu dalam persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan sosial. Kita selalu diingatkan, negeri ini mempunyai kekayaan alam yang luar biasa. Masyarakatnya pun cepat untuk belajar apabila diberikan pengarahan yang benar. Sayangnya berpuluh tahun kita tidak memiliki arah kebijakan yang memberdayakan kekuatan dari bangsa ini.
Tidaklah keliru apabila dikatakan, kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan alam yang dimilikinya. Namun, ditentukan oleh seberapa banyak manusia yang tercerahkan bisa mencerdaskan bangsanya.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved