Jiwa-Jiwa Mati

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/9/2016 05:31
Jiwa-Jiwa Mati
(Foto: MI/Antara)

DUNIA memang tak dihuni para malaikat, tetapi juga (tak boleh) dikuasai para bandit dan durjana. Kita tetap ingin dunia dihuni para manusia yang jiwa-jiwanya hidup, bukan jiwa-jiwa 'menemui ajal' seperti dalam novel Jiwa-Jiwa Mati karya pujangga Nikolai Gogol. Jiwa yang tidak menghidupi kemanusiaan.

Amerika Serikat, pernah punya seorang bandit sekaliber Alphonse Gabriel Capone (Al Capone), yang membuat para penegak hukum jeri. Ia memang punya darah mafioso Italia. Pembunuhan sadis ialah reputasinya. Ia akhirnya masuk penjara Alcatraz, tapi bukan karena pembunuhan dan perampokan. Inilah durjana terbesar abad ke-20. Kredonya jelas.

"Untuk mendapatkan keuntungan banyak, selain dengan kata manis, juga perlu senjata yang menyalak." Al Capone memang punya bakat genetis, yakni mafioso Italia. Mafia Italia mempunyai aturan perilaku internal yang sangat kuat, l'omerta. Keluarga mafioso mempunyai kedudukan istimewa sebagai manusia terhormat (men of honor). Mereka meyakini apa yang dilakukan demi kehormatan keluarga. Nilai yang mereka anut jelas: "Ambilah keuntungan sebanyak-banyaknya dari orang lain yang ada di luar keluargamu pada setiap kesempatan. Jika tidak, mereka akan akan mengambil keuntungan terlebih dahulu darimu."

Para mafioso mereka melakukan kejahatan tanpa menyadari mereka salah. Seperti juga terjadi di Somalia, para bajak laut itu merupakan idaman para keluarga yang punya anak gadis. Menikah dengan para penjahat laut jauh lebih pasti, lebih bergengsi. Mungkin realitas mafioso dan para lanun di Somalia itulah yang disebut Hannah Arendt sebagai kejahatan yang banal (?).

Kejahatan yang pelakunya tak merasa bersalah. Mereka merasa benar, bahkan mulia. Dalam cara yang berbeda, para bandit ekonomi di Indonesia, para koruptor yang punya gairah luar biasa dalam merampok uang negara, dengan menyalahgunakan kekuasaan, sesungguhnya ini contoh serupa seperti yang dikatakan Arendt. Dengan melihat fakta-fakta yang silih berganti dengan gaya hidup mereka yang gemerlap, seperti bekas Gubernur Banten Ratu Atut, yang tubuhnya dibalut busana serbamahal, motif apa jika bukan ingin menunjukkan kemuliaan?

Motif apa lagi jika orang berjual beli perkara dilakukannya di Tanah Suci ketika pergi haji, seperti besan bekas Sekjen Mahkamah Agung Nurhadi, kalau bukan kemuliaan sebagai orang alim? Apa yang bisa kita jelaskan jika dua menteri agama terlibat korupsi perkara haji, kalau bukan kealiman? Mereka merasa mulia sebab yang mereka melakukannya sebagai pembesar Kementerian Agama.

Mereka tak berprinsip sebaliknya, justru karena ibadah agama sakral, maka jangan dilakukan dengan cara-cara cemar. Tembok-tembok kita untuk menahan laku korupsi hampir semuanya telah jebol. Dari partai apa pun, dari perguruan tinggi unggul atau biasa-biasa saja, mereka yang punya kecerdasan intelektual tinggi maupun yang rendah, dari keluarga yang sekuler atau yang agamis, yang awam hukum ataupun penegak hukum, semuanya mempunyai potensi yang sama.

Mereka serupa benteng-benteng yang luruh. Tertangkap tangannya Bupati Banyuasin yang muda usia, Yan Anton Ferdian, yang hanya beberapa hari setelah KPK menetapkan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam sebagai tersangka korupsi, dan begitu banyak kasus korupsi yang bertubi-tubi, bukti mereka melakukannya dengan rasa tak bersalah.

Dari banyak kasus korupsi umumnya diwujudkan dengan rumah megah, kendaraan mewah, tanah (bahkan ada yang begitu dermawan), dan tak ada rasa bersalah. Pajangan harta seperti itu bukti amat nyata betapa mereka merasa mulia. Itulah jiwa-jiwa mati. Jiwa-jiwa yang tak punya lagi kepekaan soal kepantasan. Itulah kenapa korupsi terus silih berganti.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima