Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA memang tak dihuni para malaikat, tetapi juga (tak boleh) dikuasai para bandit dan durjana. Kita tetap ingin dunia dihuni para manusia yang jiwa-jiwanya hidup, bukan jiwa-jiwa 'menemui ajal' seperti dalam novel Jiwa-Jiwa Mati karya pujangga Nikolai Gogol. Jiwa yang tidak menghidupi kemanusiaan.
Amerika Serikat, pernah punya seorang bandit sekaliber Alphonse Gabriel Capone (Al Capone), yang membuat para penegak hukum jeri. Ia memang punya darah mafioso Italia. Pembunuhan sadis ialah reputasinya. Ia akhirnya masuk penjara Alcatraz, tapi bukan karena pembunuhan dan perampokan. Inilah durjana terbesar abad ke-20. Kredonya jelas.
"Untuk mendapatkan keuntungan banyak, selain dengan kata manis, juga perlu senjata yang menyalak." Al Capone memang punya bakat genetis, yakni mafioso Italia. Mafia Italia mempunyai aturan perilaku internal yang sangat kuat, l'omerta. Keluarga mafioso mempunyai kedudukan istimewa sebagai manusia terhormat (men of honor). Mereka meyakini apa yang dilakukan demi kehormatan keluarga. Nilai yang mereka anut jelas: "Ambilah keuntungan sebanyak-banyaknya dari orang lain yang ada di luar keluargamu pada setiap kesempatan. Jika tidak, mereka akan akan mengambil keuntungan terlebih dahulu darimu."
Para mafioso mereka melakukan kejahatan tanpa menyadari mereka salah. Seperti juga terjadi di Somalia, para bajak laut itu merupakan idaman para keluarga yang punya anak gadis. Menikah dengan para penjahat laut jauh lebih pasti, lebih bergengsi. Mungkin realitas mafioso dan para lanun di Somalia itulah yang disebut Hannah Arendt sebagai kejahatan yang banal (?).
Kejahatan yang pelakunya tak merasa bersalah. Mereka merasa benar, bahkan mulia. Dalam cara yang berbeda, para bandit ekonomi di Indonesia, para koruptor yang punya gairah luar biasa dalam merampok uang negara, dengan menyalahgunakan kekuasaan, sesungguhnya ini contoh serupa seperti yang dikatakan Arendt. Dengan melihat fakta-fakta yang silih berganti dengan gaya hidup mereka yang gemerlap, seperti bekas Gubernur Banten Ratu Atut, yang tubuhnya dibalut busana serbamahal, motif apa jika bukan ingin menunjukkan kemuliaan?
Motif apa lagi jika orang berjual beli perkara dilakukannya di Tanah Suci ketika pergi haji, seperti besan bekas Sekjen Mahkamah Agung Nurhadi, kalau bukan kemuliaan sebagai orang alim? Apa yang bisa kita jelaskan jika dua menteri agama terlibat korupsi perkara haji, kalau bukan kealiman? Mereka merasa mulia sebab yang mereka melakukannya sebagai pembesar Kementerian Agama.
Mereka tak berprinsip sebaliknya, justru karena ibadah agama sakral, maka jangan dilakukan dengan cara-cara cemar. Tembok-tembok kita untuk menahan laku korupsi hampir semuanya telah jebol. Dari partai apa pun, dari perguruan tinggi unggul atau biasa-biasa saja, mereka yang punya kecerdasan intelektual tinggi maupun yang rendah, dari keluarga yang sekuler atau yang agamis, yang awam hukum ataupun penegak hukum, semuanya mempunyai potensi yang sama.
Mereka serupa benteng-benteng yang luruh. Tertangkap tangannya Bupati Banyuasin yang muda usia, Yan Anton Ferdian, yang hanya beberapa hari setelah KPK menetapkan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam sebagai tersangka korupsi, dan begitu banyak kasus korupsi yang bertubi-tubi, bukti mereka melakukannya dengan rasa tak bersalah.
Dari banyak kasus korupsi umumnya diwujudkan dengan rumah megah, kendaraan mewah, tanah (bahkan ada yang begitu dermawan), dan tak ada rasa bersalah. Pajangan harta seperti itu bukti amat nyata betapa mereka merasa mulia. Itulah jiwa-jiwa mati. Jiwa-jiwa yang tak punya lagi kepekaan soal kepantasan. Itulah kenapa korupsi terus silih berganti.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved