Membaca Tanda

08/5/2015 00:00
Membaca Tanda
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

KINI alangkah susah membaca aneka 'tanda'. Betapa 'tanda-tanda' dan 'lambang' hampir semuanya bergerak, saling bersiasat, mengelabui, menyerang, dan menyakiti.

Memang tak ada makna tunggal di balik sebuah 'tanda'. Juga tak ada tanda yang bisa setia mengawal sebuah makna. Atau sebaliknya, tak ada makna yang teguh berada di balik tanda.

Para ahli semiotik, yang punya otoritas membedah urusan tanda dan lambang, mungkin bisa mengungkap makna di balik aneka 'tanda' itu. Sebab, anomali, ambivalensi, bahkan paradoks kini tengah menjadi persoalan kita.

Tanda juga dibongkar. Dalam sebuah kuliah di Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, era 1980-an, penyair Sapardi Djoko Damono 'berintermeso'. Salah besar, katanya, jika sikap nrimo ing pandum itu milik orang Jawa.

"Kalau orang Jawa nrimo, Pak Harto nggak mungkin jadi presiden terus," katanya.

Saya lupa, dalam konteks apa Sapardi yang 'steril' dari politik menyentil Pak Harto. Sebelumnya, dalam sebuah seminar, almarhum Umar Kayam, sosiolog-sastrawan Universitas Gadjah Mada, juga membongkar kesantunan orang Jawa.

Siapa bilang orang Jawa bijak bestari? Ken Arok yang bramacorah kelas kakap itu orang Jawa. Raja Mataram, Amangkurat I, juga raja paling lalim; membunuh ribuan santri dan ulama.

Pembongkaran 'tanda' Jawa oleh Sapardi dan Kayam karena ada pemahaman keliru bahwa Jawa pemegang hegemoni kesantunan dan kebaikan.

Jawa sebagai pusat! Ada banyak contoh keluarga di Sumatra memberi anak-anaknya bernama Jawa.

"Ayah saya memberi nama pada semua anaknya nama Jawa. Supaya mudah sekolah di Jawa dan mudah pula cari kerja," kata kawan saya Mulyono, asli Palembang, yang kuliah di Yogya dan bekerja di Jakarta.

Aneh dan lucu! Kini semua tanda di luar suku tengah bergerak liar. Simbol-simbol Islam yang disalahgunakan sekelompok orang dengan bertindak destruktif, jelas pencemaran.

Simbol militer dan bunyi voorijder yang 'intimidatif' mengawal kaum pembesar di tengah kemacetan Jakarta yang akut membuat kita gondok. Jatah jalan pun diambil pula!

Presiden yang secara konstitusi menyandang simbol sebagai kepala pemerintahan, kepala negara, dan panglima tertinggi angkatan perang, juga dirusak oleh institusi di bawahnya.

Tak diberi panggung yang layak ketika menghadiri Kongres PDIP, instruksinya yang tak segera diindahkan oleh Polri dalam kasus Novel Baswedan, juga memperlemah terhadap Presiden sebagai simbol pemimpin tertinggi di Republik ini.

Tanda dan lambang yang melekat pada setiap institusi, terutama institusi negara, pastilah mulia. Presiden, menteri, KPK, DPR, MPR, DPD, TNI, Polri, dan seterusnya, tanda-tanda negara yang harus dijaga.

Kinerja terbaik itulah penjagaan lambang negara terbaik. Kinerja buruk, terlebih pelanggaran terhadap sumpah jabatan, adalah perusakan akan simbolnya sendiri.

Terasa kini, di tengah kesulitan rakyat karena harga-harga bergerak liar, penegasian antarlembaga negara terasa sebagai problem amat serius. Ini menguatkan, meminjam pengategorian Francis Fukuyama, masuk sebagai bangsa yang low trust societies. Bangsa yang serupa ini rendah produktivitasnya, sulit untuk maju.

Bangsa-bangsa yang masuk kategori high trust societies saja terus kerja kian keras, sementara kita justru kian gagal membaca dan memaknai 'tanda'.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.