KTP-E

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
08/9/2016 05:31
KTP-E
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingg)

KETIDAKBERESAN KTP-E, sejujurnya, sebagian merupakan warisan ketidakberesan pemerintah di masa Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, di era Presiden SBY jilid 2. Sampai masa pemerintahan itu berakhir, KTP-E tak tuntas terselesaikan. Sekarang, di masa Mendagri Tjahjo Kumolo, di era Presiden Jokowi jilid I, pemerintah memberi batas waktu kepada warga
dengan ancaman, seakan ketidakberes an KTP-E sepenuhnya kesalahan warga.

Ancaman itu sangat menakutkan warga. Bila warga tidak melakukan perekaman data pada 30 September ini, nomor induk kependudukan (NIK) mereka bakal dinonaktifkan. Padahal, tanpa NIK, warga tidak bisa mengurus BPJS, tidak bisa mengurus paspor, tidak bisa mengurus NPWP, bahkan terancam tidak bisa menggunakan hak konstitusional mereka baik dalam pilkada, pileg, maupun pilpres.

Demikian takutnya rakyat dengan ancaman Kemendagri itu, berduyun-duyunlah warga hendak mengurus KTP-E. Mereka mendatangi kelurahan. Ada yang dioper ke kecamatan lalu dilempar ke dinas kependudukan. Banyak warga yang minta izin tak kerja sehari, ternyata urusan tidak selesai sehari, dua hari, bahkan tiga hari pun tidak rampung.

Di sebuah kelurahan warga telah antre mulai pukul 6 pagi. Kantor kelurahan baru buka pukul 08.00. Anehnya, 1 jam kantor kelurahan buka, nomor antrean habis. Kelurahan hanya melayani 200 warga. Warga teriak protes. Pengurusan KTP-E itu semrawut. Tidak dipilah, mana warga yang telah melakukan perekaman data, bahkan telah merekamnya pada awal sekali program KTP-E (2011), tetapi KTP-E itu tiada kunjung terbit hingga sekarang. Semuanya campur aduk dengan warga yang baru akan melakukan perekaman data diri pertama kali.

Menurut Mendagri Tjahjo Kumolo, per 31 Desember 2015, dari total warga wajib KTP sebanyak 182.588.494 jiwa, masih ada 20.541.081 penduduk usia wajib KTP yang belum merekam data diri. Tidak disebutkan berapa banyak warga yang telah merekam data diri bertahun-tahun silam, tetapi KTP-E-nya tidak terbit karena ternyata hasil rekaman komputer di masa lalu itu ‘bolong’.

Itu warisan dari pemerintahan sebelumnya. Saya menduga, Kemendagri tidak punya data lengkap dan akurat, berapa juta penduduk di seluruh negeri yang rekaman data dirinya ‘bolong’. Kementerian kiranya tidak punya kemampuan menyisir kasus bolong-bolong itu. Contohnya, rekaman data diri warga bolong karena ternyata tanda tangan warga yang bersangkutan tidak ada. Akan tetapi, sekalipun cuma urusan tanda tangan bolong, itu tidak dapat diselesaikan dalam tiga kali kunjungan ke kantor kependudukan, saking banyaknya warga yang urus KTP-E.

Itu baru urusan kolom tanda tangan bolong. Patut dipertanyakan, apakah terjadi, warga dulu sudah difoto, ternyata kolom fotonya bolong? Bolong yang satu ini kiranya bakal jauh lebih lama terselesaikan, sekalipun ini era digital, era orang ber-selfi e ria cukup dengan memakai ponsel. Yang juga memprihatinkan ialah petugas yang melayani gagap komputer.

Orang itu masih diajari mengoperasikannya. Orang itu entah pinjaman dari mana. Yang terjadi ialah semacam cultural lag
yang didefi nisikan sosiolog William F Ogburn. Perkembangan teknologi informasi jauh lebih cepat daripada umumnya kemampuan aparat kelurahan, kecamatan, dan dinas kependudukan menggunakannya.

Demi tercapainya pelayanan publik yang efi sien dan efektif, jurang kultural itu harus bisa diatasi lebih cepat. jangan sampai publik kembali curiga, misalnya, perihal kebenaran data jumlah penduduk yang berhak memilih pada Pemilu 2019 karena KTP-E tidak beres sehingga masih dikerjakan manual.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.