Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Indonesia ada orang yang tidak pernah lelah berteriak meski suara teriakannya kerap tak terdengar.
Mungkin terdengar, tapi tak dihiraukan, atau mungkin didengar, tapi tak dipahami.
Atau mungkin dipahami, tapi tak tahu melaksanakan makna teriakan itu.
Ciputra, pengusaha, tidak pernah lelah berteriak tentang entrepreneurship (kewirausahaan).
Ia meyakini dengan jiwa dan semangat entrepreneurship, pengangguran dan kemiskinan di negeri ini bisa diatasi.
"Saya tak pernah lelah berteriak meskipun teriakannya seperti di padang pasir. Saya tulis surat kepada Presiden SBY, saya tulis surat kepada presiden yang sekarang (Jokowi), untuk memberi tahu betapa pentingnya entrepreneurship," kata Ciputra ketika memberi sambutan pada acara pergantian Rektor Universitas Tarumanagara dari Prof Dr Roesdiman Soegiarso ke Prof Dr Agustinus Purna Irawan, pekan silam.
Menurut Ciputra, Indonesia kini punya sekitar 3.000 perguruan tinggi.
Jika saja banyak kampus yang punya andil mencetak pengusaha, ekonomi Indonesia akan kian bangkit.
Saya setuju Ciputra.
Di negeri ini memang harus kian banyak yang berteriak.
Seperti mendiang Sutan Takdir Alisjahbana yang dulu tanpa lelah berteriak meminta pemerintah Indonesia mengirimkan mahasiswa sebanyak-banyaknya ke luar negeri.
Ia juga berteriak pentingnya penerjemahan besar-besaran buku-buku terbaik dunia ke dalam bahasa Indonesia.
Takdir terinspirasi Jepang dalam Revolusi Meiji.
'Negeri Matahari Terbit' kemudian menjadi amat maju. Namun, Indonesia tak mau mendengar Takdir.
Kita juga ingat bagaimana guru besar ekonomi UGM Mubyarto kerap berteriak tentang ekonomi kerakyatan atau ekonomi Pancasila.
Namun, negara memilih konglomerasi, yang kemudian menciptakan krisis.
Kini kesenjangan antara kaya dan miskin kian melebar.
Ini yang amat berpotensi menjadi bom waktu.
Kita juga juga masih mendegar teriakan nyaring Munir tentang hak asasi manusia yang membuat murka orang-orang yang dulu berkuasa.
Sosok ini seperti telah hilang urat takutnya setiap membela mereka yang diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa.
Munir dibunuh, tetapi bertahun-tahun negara tak mampu menemukan siapa pembunuhnya.
Kini kita terus diingatkan teriakan Syafii Maarif tentang toleransi dan penghargaan akan perbedaan yang kian merapuh.
Ia juga tak pernah berhenti berteriak betapa bahayanya permainan para politikus yang sudah amat kotor ini.
Ia minta para politikus punya kehendak kuat bertransformasi menjadi negarawan.
Untuk perubahan itu, ia meminta masyarakat berzikir demi perubahan orang-orang politik.
Dalam sastra, kita kerap mendengar teriakan Taufiq Ismail tentang anak-anak sekolah kita yang rabun membaca dan lumpuh menulis karena berpuluh-puluh tahun pengajaran satra di sekolah tidak merangsang siswa untuk membaca dan menulis.
Dalam temuan Taufiq tak ada buku yang diwajibkan dibaca di SMA di Indonesia seperti di negara lain.
AS mewajibkan anak SMA membaca 32 buku, Jepang 15 buku, dan beberapa negara ASEAN 5-7 buku. Indonesia nol buku.
Kita beryukur ada Yudi Latif yang terus berteriak tentang Pancasila yang kini seperti melisut dalam literasi, terlebih lagi dalam laku kehidupan.
Ia pun menawarkan jika dulu Joko Widodo menawarkan revolusi mental, gerak revolusi itu harus berbasis Pancasila.
Radhar Panca Dahana juga sosok yang tak pernah lelah berteriak betapa miskinnya visi para pemimpin kita akan kebudayaan.
Bangsa yang mengaku punya kebudayaan tinggi ini ternyata hanya punya banyak pembesar yang kecil visinya dalam membuat arah kebudayaan kita.
Kebudayaan tak pernah dilihat sebagai bidang yang adekuat seperti bidang lain. .
Indonesia saya kira perlu lebih banyak lagi orang-orang yang mencintai negeri ini, yang punya energi untuk terus berteriak sesuai bidang masing-masing.
Tentu bukan teriakan model teriakan penguasa korup yang setiap nada teriakannya, konon, punya harga sendiri-sendiri.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved