Teriak

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
06/9/2016 06:00
Teriak
(ANTARA/Fanny Octavianus)

DI Indonesia ada orang yang tidak pernah lelah berteriak meski suara teriakannya kerap tak terdengar.

Mungkin terdengar, tapi tak dihiraukan, atau mungkin didengar, tapi tak dipahami.

Atau mungkin dipahami, tapi tak tahu melaksanakan makna teriakan itu.

Ciputra, pengusaha, tidak pernah lelah berteriak tentang entrepreneurship (kewirausahaan).

Ia meyakini dengan jiwa dan semangat entrepreneurship, pengangguran dan kemiskinan di negeri ini bisa diatasi.

"Saya tak pernah lelah berteriak meskipun teriakannya seperti di padang pasir. Saya tulis surat kepada Presiden SBY, saya tulis surat kepada presiden yang sekarang (Jokowi), untuk memberi tahu betapa pentingnya entrepreneurship," kata Ciputra ketika memberi sambutan pada acara pergantian Rektor Universitas Tarumanagara dari Prof Dr Roesdiman Soegiarso ke Prof Dr Agustinus Purna Irawan, pekan silam.

Menurut Ciputra, Indonesia kini punya sekitar 3.000 perguruan tinggi.

Jika saja banyak kampus yang punya andil mencetak pengusaha, ekonomi Indonesia akan kian bangkit.

Saya setuju Ciputra.

Di negeri ini memang harus kian banyak yang berteriak.

Seperti mendiang Sutan Takdir Alisjahbana yang dulu tanpa lelah berteriak meminta pemerintah Indonesia mengirimkan mahasiswa sebanyak-banyaknya ke luar negeri.

Ia juga berteriak pentingnya penerjemahan besar-besaran buku-buku terbaik dunia ke dalam bahasa Indonesia.

Takdir terinspirasi Jepang dalam Revolusi Meiji.

'Negeri Matahari Terbit' kemudian menjadi amat maju. Namun, Indonesia tak mau mendengar Takdir.

Kita juga ingat bagaimana guru besar ekonomi UGM Mubyarto kerap berteriak tentang ekonomi kerakyatan atau ekonomi Pancasila.

Namun, negara memilih konglomerasi, yang kemudian menciptakan krisis.

Kini kesenjangan antara kaya dan miskin kian melebar.

Ini yang amat berpotensi menjadi bom waktu.

Kita juga juga masih mendegar teriakan nyaring Munir tentang hak asasi manusia yang membuat murka orang-orang yang dulu berkuasa.

Sosok ini seperti telah hilang urat takutnya setiap membela mereka yang diperlakukan sewenang-wenang oleh penguasa.

Munir dibunuh, tetapi bertahun-tahun negara tak mampu menemukan siapa pembunuhnya.

Kini kita terus diingatkan teriakan Syafii Maarif tentang toleransi dan penghargaan akan perbedaan yang kian merapuh.

Ia juga tak pernah berhenti berteriak betapa bahayanya permainan para politikus yang sudah amat kotor ini.

Ia minta para politikus punya kehendak kuat bertransformasi menjadi negarawan.

Untuk perubahan itu, ia meminta masyarakat berzikir demi perubahan orang-orang politik.

Dalam sastra, kita kerap mendengar teriakan Taufiq Ismail tentang anak-anak sekolah kita yang rabun membaca dan lumpuh menulis karena berpuluh-puluh tahun pengajaran satra di sekolah tidak merangsang siswa untuk membaca dan menulis.

Dalam temuan Taufiq tak ada buku yang diwajibkan dibaca di SMA di Indonesia seperti di negara lain.

AS mewajibkan anak SMA membaca 32 buku, Jepang 15 buku, dan beberapa negara ASEAN 5-7 buku. Indonesia nol buku.

Kita beryukur ada Yudi Latif yang terus berteriak tentang Pancasila yang kini seperti melisut dalam literasi, terlebih lagi dalam laku kehidupan.

Ia pun menawarkan jika dulu Joko Widodo menawarkan revolusi mental, gerak revolusi itu harus berbasis Pancasila.

Radhar Panca Dahana juga sosok yang tak pernah lelah berteriak betapa miskinnya visi para pemimpin kita akan kebudayaan.

Bangsa yang mengaku punya kebudayaan tinggi ini ternyata hanya punya banyak pembesar yang kecil visinya dalam membuat arah kebudayaan kita.

Kebudayaan tak pernah dilihat sebagai bidang yang adekuat seperti bidang lain. .

Indonesia saya kira perlu lebih banyak lagi orang-orang yang mencintai negeri ini, yang punya energi untuk terus berteriak sesuai bidang masing-masing.

Tentu bukan teriakan model teriakan penguasa korup yang setiap nada teriakannya, konon, punya harga sendiri-sendiri.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.