Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TERSANGKA koruptor yang mengenakan rompi warna jingga itu tertawa amat lepas. Saat duduk di mobil tahanan, Guntur Manurung, sang tersangka itu, terlihat amat ceria seusai diperiksa KPK tiga hari lalu. Ia seperti tak tertekan, tak memikul beban. Mungkin ia belajar dari para pendahulunya, orang-orang rantai kasus rasywah. Ada bekas menteri, presiden partai, dirjen, anggota dewan di Senayan, kepala daerah, yang kerap tertawa seusai diperiksa KPK sebagai tersangka.
Benarkah tawa itu bukti mereka tak tertekan? Tak menghadapi beban? Ada yang menafsirkan tawa dan senyum mereka mengejek KPK, menghina kita. Mengejek hukum yang di mata mereka bisa ditransaksikan. “Mereka (tersangka dan terpidana korupsi) tertawa, mungkin mereka bahagia karena uang jarahan banyak. Namun, kami yang menyaksikan amat sakit hati,” kata Ny Lia dari Makassar. Ia rajin me nanggapi acara TV di Jakarta, terlebih jika membahas korupsi.
Namun, benarkah mereka tak tertekan? Benar kah mereka tak punya rasa malu? Siapa tahu tertawa atau senyum bagian dari cara mengatasi tekanan dan rasa malu? Tertawa mungkin sebagai ruang pelepasan. Ada juga, ketika namanya diumumkan sebagai tersangka, ia langsung sakit. Bahkan, kemudian meninggal tanpa pernah merasakan duduk di ruang mahkamah.
Yang pasti, meskipun menurut lembaga Transparency International (TI) indeks persepsi korupsi Indonesia dari tahun ke tahun membaik, sesungguhnya pejabat kita tak takut korupsi. Bahkan, lembaga seperti MA diterpa kasus berkali-kali. Bagaimana kita menyikapi para hakim tipikor yang justru tertangkap tangan seperti di Bengkulu? Bagaimana pula Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam jadi tersangka korupsi karena penyalahgunaan izin tambang, padahal sudah banyak kasus serupa?
Bagaimana kita menyikapi gaya hidup Kepala Subdirektorat Kasasi Perdata Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata MA, Andri Tristianto Sutrisna, yang bergaji sekitar Rp30 juta, tapi memiliki rumah mewah yang cicilannya per bulan Rp70 juta? Ada begitu banyak pejabat yang punya harta di mana-mana, dan dianggap biasa-biasa saja.
Dari mana pula Sekretaris MA Nurhadi bisa membeli rumah di Jalan Hang Lekir yang besar dan bertanah amat luas? Jika tak terkena sebuah kasus, gaya hidup mewah pejabat kita dianggap biasa. Siapa pejabat yang berani menjalani pemeriksaan terbalik terhadap seluruh kekayaan mereka?
Wajarlah ada yang mengatakan senyum dan tawa para koruptor ialah ejekan dan perlawanan serius terhadap hukum. Ini bukti konkret gagalnya negara mempermalukan koruptor. Guru Besar UI bidang psikologi politik Hamdi Muluk memastikan fenomena koruptor senyum tanpa malu itu hanya terjadi di Indonesia. Padahal, pelaku korupsi di Indonesia berpakaian khusus tahanan.
Namun, tidak juga menunjukkan sikap terhina, menyesal, ataupun takut sebab korupsi belum dianggap kejahatan luar biasa, seperti narkoba dan terorisme. Alihalih merunduk, mereka malah berjalan gagah, penuh senyum, tawa, dan melambaikan tangan. Sebuah aksi yang tak salah jika diterjemahkan, “Kabar kami baik-baik saja. Kami bahagia.”
Rupanya jaket warna jingga tak cukup berarti untuk membuat efek jera para pencuri harta negara. Mungkin rompi jingga plus tangan terborgol, hukuman yang berat (pemiskinan), bisa menjadi ‘paket’ yang bisa membuat nyali para koruptor menciut. Mungkin! Tertawa hak setiap warga, juga koruptor. Namun, betul kata Ny Lia, setiap melihat aksi para koruptor dengan aneka tawa, ada jutaan orang yang tersakiti hatinya. Semakin sering koruptor tertawa semakin banyak hati yang tersakiti.
Tawa dan lambaian tangan ekspresi dan aksi yang jamak diartikan kabar gembira. Penjahat korupsi kok berkabar gembira? Perlakuan terhadap koruptor yang keras dan tangan hukum yang bekerja kian tegak lurus salah satu cara yang mungkin bisa mengobati hati rakyat yang terluka. Namun, sejauh korupsi disikapi dengan cara-cara biasa-biasa saja, pasti akan lebih banyak penjahat yang ceria, lebih banyak lagi yang tersenyum dan tertawa.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved