Membuat Mobnas

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
18/2/2015 00:00
Membuat Mobnas
(Antara/Maulana Surya)
ADA sebuah film pendek di penerbangan Garuda Indonesia. Judulnya Billion Dollar Car. Film itu menceritakan bagaimana BMW memproduksi mobil listrik. Pertama mereka membuat dua mobil prototipe yang diberikan kepada seorang warga di New York, AS, dan sopir taksi di Tokyo, Jepang.

Tugas mereka yang menerima mobil prototipe itu tidak hanya menggunakannya, tapi juga menyosialisasikan kepada masyarakat. Warga yang tinggal di New York menjelaskan kepada setiap orang yang bertanya tentang mobil listrik yang dikendarainya. Pertanyaannya berkisar tentang bagaimana mengisi baterai setiap harinya, berapa jauh jarak yang bisa ditempuh, bagaimana ketika harus mengisi di perjalanan, sampai soal kenyamanannya. Sopir taksi di Tokyo bertugas memberi kesempatan kepada warga untuk mengendarai sendiri mobil listrik itu. Kemudian mereka yang mencoba ditanyai tentang rasanya mengendarai mobil listrik.

Semua masukan itu kemudian dijadikan bahan oleh para insinyur BMW di Muenchen, Jerman, untuk membuat mobil yang sesungguhnya. Ada yang bekerja untuk membuat desain. Ada yang memikirkan bahan karbon yang akan dipergunakan dan bagaimana membentuknya agar kuat. Ada yang memikirkan penempatan baterai penyimpan energi untuk menggerakkan mobil. Ada yang membuat bagaimana ada suara yang bisa didengar pengemudi ketika menginjak gas.

Para insinyur bertugas menjadikan mobil konsep menjadi mobil sesungguhnya yang bisa diandalkan. Bagaimana misalnya baterai yang disimpan di dasar mobil tidak mati ketika melewati genangan air. Terakhir mereka mengetes kekuatan mobil ketika mengalami kecelakaan di jalan raya, baik ketika mengalami benturan dari depan maupun benturan dari samping.

Ketika mobil idaman itu jadi, dibawalah ke Stuttgart. Para pekerja di kota itu harus memikirkan bagaimana production line dibuat agar bisa menjadi produksi massal yang bisa dikirim ke pasar. BMW membutuhkan waktu empat tahun untuk mengembangkan mobil listrik sebelum menjadi produk massal pada 2014. Miliaran dolar dana disiapkan untuk membuat mobil impian menjadi mobil yang bisa dipasarkan. Penerimaan pasar menjadi pertimbangan utama karena mobil listrik itu bukan untuk dibagi-bagikan. Konsumen harus membeli. Untuk itu, produsen mobil harus memahami kebutuhan konsumen agar mereka mau merogoh kantong untuk membelinya.

Ketika sekarang orang ramai membicarakan mobil nasional ataupun Mobil Indonesia, yang tidak pernah kita dengar ialah penerimaan masyarakat atas rencana pembuatan mobil tersebut. Apakah masyarakat sudah tahu seperti apa Mobil Indonesia itu? Apakah mereka mau membeli apabila kelak diproduksi? Tanpa ada pelibatan masyarakat, semua itu hanya utopia. Dulu kita pernah mencoba membuat mobnas bernama Timor. Mobnas di zaman Presiden Soeharto itu tamat karena tidak dibeli masyarakat.

Kita selalu ingin serbacepat. Tanpa persiapan dan sosialisasi kepada masyarakat, tiba-tiba bermimpi memiliki Mobil Indonesia. Padahal produsen mobil seperti BMW saja butuh empat tahun untuk melakukan riset sebelum memproduksi massal mobil listriknya.

Kalau ingin melakukan lompatan, kita harus berani seperti Korea Selatan, bukan Malaysia. Korea berhasil membangun industri otomotif karena mampu memaksa rakyatnya untuk tidak menggunakan mobil lain, kecuali buatan Korea. Beranikah Presiden Jokowi memaksa masyarakat menggunakan Mobil Indonesia?


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.