Buton

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
27/8/2016 06:00
Buton
(ANTARA/Zabur Karuru)

PEKAN lalu saya berkesempatan mengunjungi Pulau Buton.

Pulau yang terletak di Sulawesi Tenggara itu menakjubkan.

Sejarah demokrasi mereka lebih dulu dari demokrasi di Republik ini.

Sejak abad ke-14, mereka sudah mengenal sistem demokrasi.

Tiga partai yang mengawal jalannya Kasultanan Buton menjalankan sistem musyawarah mufakat yang dikenal dengan prinsip 'Bersatu tidak menguatkan, bercerai tetapi tidak melemahkan'.

Kekayaan alam yang dimiliki Buton juga luar biasa.

Karena letaknya di teluk, laut biru di depan Kota Baubau sangat tenang seperti danau besar.

Hutannya pun terpelihara dengan baik sehingga 35 ribu hektare hutan di kawasan Lambusango ditetapkan sebagai paru-paru dunia.

Kekayaan di dalam tanah juga tidak terkira besarnya.

Buton memiliki aspal alam yang merupakan 80% aspal alam dunia.

Sejak 1924, Belanda menemukan cadangan aspal dunia tersebut.

Beruntung mereka tidak mengeksploitasinya.

Belanda lebih sibuk untuk memperdagangkan rempah-rempah yang melimpah di timur Nusantara ini.

Sayangnya, setelah Indonesia merdeka, aspal alam itu dibiarkan tidur.

Padahal, aspal yang ada mampu untuk melicinkan jalan di seluruh Indonesia untuk masa 350 tahun ke depan.

Kita asyik untuk menggunakan aspal cair yang berasal dari impor.

Setiap tahun setidaknya kita keluarkan devisa Rp4,6 triliun untuk mengimpor aspal cair.

Padahal, kalau kita fokuskan kepada potensi yang ada di dalam negeri, devisa sebesar itu akan bisa memutar perekonomian di daerah.

Sebelum 1980, puluhan kapal mengantre di Pelabuhan Baubau untuk mengangkut aspal, sekarang pelabuhan itu seperti mati suri.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah Sulawesi Selatan Zulkarnaen Arief mengkhawatirkan adanya tangan-tangan kotor yang tidak ingin Indonesia maju.

Mereka lebih suka berdagang daripada melakukan kegiatan usaha yang membuka lapangan pekerjaan.

Mereka memegang izin usaha pertambangan aspal, tetapi membiarkannya karena lebih menikmati mengimpor aspal yang pasti memberikan margin keuntungan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno tidak menutupi fakta bahwa unit usaha di bawahnya belum responsif.

Meski PT Wijaya Karya menjadi BUMN yang ditugasi mengolah aspal alam di Buton, progresnya begitu lambat.

Kondisi itulah yang sering membuat masyarakat di Indonesia Timur merasa tidak diperhatikan.

Mantan Bupati Merauke John Gluba Gebze pernah mencurahkan keprihatinannya bahwa percuma saja matahari terbit di timur.

Meski orang Papua bangun lebih awal, mereka sejahtera lebih akhir.

Bupati Kepulauan Buton Umar Samiun berharap pemerintah berorientasi kepada potensi yang ada di daerah.

Hal itu bisa dimulai dengan menata ulang izin usaha pertambangan (IUP) yang sudah dikeluarkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Para pemegang IUP yang tidak pernah mengerjakan hak penambangan aspal lebih baik dicabut saja.

Kalau tidak ada pengusaha yang mau mengolah aspal alam, Umar berharap PT Wijaya Karya menjadi pelopor.

Di tengah gegap gempitanya Presiden Joko Widodo untuk membangun infrastruktur, pengolahan aspal alam seharusnya bisa menjadi bisnis yang menguntungkan.

Kita sering diingatkan, musuh utama dari bangsa ini bukanlah dari luar, melainkan dari dalam sendiri.

Terlalu banyak warga bangsa ini yang hanya memikirkan diri sendiri.

Padahal, pepatah Inggris mengatakan kalau kita ingin menjadi orang kaya, kita harus menjadikan tetangga kita juga kaya.

Revolusi mental yang sering didengungkan harus dimulai dari sikap mau memikirkan sesama dan membangun kesejahteraan bersama.

Kekayaan alam harus dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Jangan malah memberi kesempatan bangsa lain mendapatkan pekerjaan karena kita lebih suka mengimpor.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima