Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TRADISI emas bulu tangkis Olimpiade terajut kembali. Adalah Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet) pahlawannya. Mereka menyambung emas yang putus pada Olimpiade 2012. Mereka sekaligus mengukir sejarah, yakni pertama kali ganda campuran bulu tangkis merebut emas olahraga akbar sejagat itu. Palagan Riocentro Pavillon 4, Rio de Janeiro, menjadi saksi keperkasaan Owi/Butet mengempaskan duet Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dua gim langsung.
Gloria jawara yang diraih tepat di hari kemerdekaan itu menjadi kian istimewa. Perlu disebut, di Olimpiade ini, Malaysia menempatkan tiga finalis, tetapi tak satu pun meraih emas. Kita yang hanya menempatkan satu finalis langsung berjaya. "Akan kian tenggelamlah Indonesia jika tiga finalis Malaysia semuanya mendapat emas," kata mantan pebulu tangkis Chandra Wijaya dalam di Metro TV.
Namun, di tengah sambutan emas bulu tangkis hingga ke Istana Merdeka, saya teringat Liem Swie King. Salah satu legenda bulu tangkis 1970-an/1980-an yang sempat menyimpan rapat prestasi hebatnya pada putra-putrinya. Juga 'Pengantin Olimpiade 1992', Susi Susanti-Alan Budi Kusuma, yang lebih tegas lagi. Mereka melarang anak-anaknya menapaki karier bulu tangkis.
Karena tidak ada jaminan masa depan. Padahal, selain peraih emas Olimpiade, Susi peraih lima kali juara All England, berkali-kali juara dunia, berkali-kali pula juara di berbagai negara. Di era 1990-an, Susi ialah penguasa tunggal putri badminton dunia. Dengan begitu banyak prestasi Susi, juga Liem, mestinya amat banyak keistimewaan dan tentu imbalan (materi).
Ternyata prestasi tinggi tak berkorelasi dengan jaminan masa depan. Menurut Susi, bagi atlet, tangga menuju prestasi puncak tak mudah. Akan tetapi, setelah berprestasi tinggi pun, negara abai. Bersama Alan, sang suami, Susi merintis bisnis. Bagaimana mantan atlet yang tak terampil berbisnis? Memang tak semua atlet seperti King dan Susi.
Namun, cerita mereka menjadi contoh ironis. Prestasi tinggi bisa suram hidupnya kalau tak jatuh bangun mencari penghidupan sendiri. Tak sedikit cerita pilu atlet kenamaan yang kemudian hidupnya merana. Kita sedih, ketika menyaksikan Owi/Butet berjaya, ada ironi, yakni seorang mantan atlet dayung wanita kelas dunia, menjadi penyapu jalanan di Jawa Tengah.
Padahal, kisah sukses atlet ialah cerita panjang yang berliku, jatuh bangun, menyisihkan segala kepentingan pribadi. Hidupnya penuh jadwal ketat latihan dan pertandingan. Umumnya mereka mengorbankan pendidikan formal. Sementara masa prestasi puncak atlet maksimal 10 tahun, tetapi proses menuju puncak ialah perjalanan panjang yang melelahkan. Saya membayangkan kebanggaan ketika Indonesia Raya dinyanyikan di Rio Janeiro, sambutan meriah Owi-Butet, juga atlet angkat besi peraih perak, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan, akan menjadi tak bermakna jika penghargaan pada atlet tak jelas.
Bonus besar bagai para peraih medali, juga rencana tunjangan bulanan, saya melihat sesuatu yang bisa meningkatkan motivasi atlet dan calon atlet. Namun, itu sesuatu yang belum di tangan. Tentu sebagai kebijakan ini menggembirakan. Namun, bersamaan dengan imbalan besar, bagaimana visi membangun olahraga yang tak setengah hati sungguh amat penting.
Program pemusatan latihan yang terburu-buru, dana terlambat cair, uang saku atlet yang minim, sistem pembinaan atlet jalan di tempat, ialah fakta-fakta yang selalu berulang. Mestinya tersambungnya tradisi emas di Olimpiade kali ini menjadi titik berangkat memperbaiki pembangunan olahraga di Indonesia.
Fakta membuktikan negara-negara maju berada di 10 terbaik perolehan medali emas Olimpiade kali ini. Kini kita berada di urusan ke-46, meningkat dibandingkan tahun lalu di urutan ke-63. Namun, mestinya Indonesia bisa meraih prestasi lebih baik daripada hari ini. Ini jika sejumlah ironi tak terjadi lagi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved