Sang Dalang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
23/8/2016 05:31
Sang Dalang
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PENGUASA alim dan zalim selalu menarik diceritakan kembali. Terlebih mereka lama berkuasa. Mantan Presiden Soeharto salah satu contohnya. Bagaimana ia menghabisi lawannya dan siapa yang berpotensi menjadi seteru menjadi cerita tak pernah basi. Terlebih yang dihabisi justru para jenderal, pendukung utama ketika ia naik takhta dan berkuasa.

Menarik karena pertama ada drama, intrik politik militer yang penuh konflik; bagaimana orang-orang dekat Soeharto saling menjatuhkan, yang sesungguhnya itu bagian dari permainan Soeharto sendiri. Kedua, ia pelajaran berharga agar tak terulang bahwa sekuat apa pun tembok kekuasaan dibangun, saat ia harus roboh, tak ada yang bisa menjaganya.

Di mata Soeharto, kelompok yang berpotensi menjadi musuh terbesar, ya tentara sendiri. Karena itu, jenderal yang namanya mulai populer harus bisa dipastikan dibuat layu. Alasannya bisa masuk akal, pur basangka, hasil fitnah sesama jenderal, atau hasil nubuat juru ramal. Inilah yang diungkap Salim Haji Said dalam buku terbarunya, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, yang diluncurkan awal Agustus silam.

Ikrar Nusa Bakti, profesor riset LIPI, menyampaikan orasi ilmiah dengan judul lebih menantang, Babad Orde Baru: Dalang itu Bernama Soeharto. Selama 30 tahun berkuasa Soeharto memainkan wayangnya kapan ia suka, juga kapan harus masuk kotak. Setelah membereskan PKI, pengikut Soekarno, Islam politik target berikutnya. Ali Murtopo jenderal yang bertugas menggarap ini. Maka, Komando Jihad pun dilahirkan dan dihabisi.

Para jenderal korban pertama Soeharto ialah trio king maker Sarwo Edhi, HR Dharsono, dan Kemal Idris. Sarwo disingkirkan karena menurut juru ramal ia mendapat wahyu untuk naik takhta. Ketiga jenderal itu ke mudian ‘dibuang’. Kemal ke Yugoslavia, Sarwo ke Korea Selatan, dan HR Dharsono ke Kamboja. Dharsono lebih tragis lagi. Ia dipenjara dikaitkan dengan tindak kriminal.

Tanda jasanya dicabut, ditolak dimakamkan di taman pahlawan, ekonominya dipersulit. Jenderal Soemitro yang berani me nolak dan memilih ber bisnis. Ia pula yang berani mewacanakan perlunya pengganti Soeharto. Ia pun disingkirkan. Menurut Salim, Soeharto seorang Machiavelian yang mempraktikkan stick and carrot. Yang menguntungkan mendapat anugerah, yang berpotensi membahayakan ditumbangkan.

Para loyalis seperti Ali Murtopo dan Benny Moerdani akhirnya juga digergaji. Padahal, betapa dekatnya Soeharto-Benny. Tentara dibiarkan tak kompak karena kompak artinya berbahaya bagi Soeharto. Dengan kondisi seperti itu para jenderal tak bisa berontak. Soeharto aman-aman saja meski kian sibuk mengurus bisnis keluarganya. Para jenderal itulah yang oleh Salim disebut menderita ‘kesadaran pal su’, yakni mereka masih berteguh pendirian bahwa Soeharto masih ba gian dari tentara yang yang menjalankan roda pemerintahan sesuai yang dirancang tentara pada 1966.

Mereka menyadari Soeharto bersimpang jalan ketika perjalanannya sudah amat jauh. ‘Siapa yang merusak ABRI?’ Letjen (Purn) Harsudiono Hartas, mantan Kepala Staf Sosial Politik ABRI, menjawab dengan geram, ‘Soe harto’. Salim mengungkapkan intrik politik militer tanpa tedeng aling-aling. Ada beberapa cerita pernah kita dengar, tetapi banyak pula yang selama berpuluh tahun jadi informasi tersembunyi. Kita bersyukur Salim mengungkapkan bagaimana dalang Orde Baru memulai pekelirannya hing ga tancep kayon yang tragis itu. Ini penting dan sehat bagi kita.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.