17 Agustus

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
20/8/2016 06:00
17 Agustus
(MI/M Irfan)

PIDATO kenegaraan yang disampaikan Presiden Joko Widodo mengapresiasi sumbangsih yang diberikan para pemimpin bangsa ini.

Baik Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berupaya membangun bangsa dan negara ini.

Tantangan yang dihadapi setiap pemimpin berbeda.

Seperti dikatakan Presiden Jokowi, tiga tantangan yang kita hadapi sekarang ialah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial.

Pengakuan terhadap tiga persoalan besar ini sungguh merupakan sebuah keberanian.

Selama ini kita tidak pernah berani berterus terang dan menganggap semua baik-baik.

Untuk itu yang perlu dilakukan pemerintah ialah bagaimana membuat masyarakat dan dunia usaha mempunyai ruang gerak untuk menjalankan kegiatan yang bisa meningkatkan kehidupan mereka.

Apabila masyarakat memiliki daya beli tinggi yang merata, perekonomian negeri ini akan tumbuh secara lebih sehat.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak ada manfaatnya apabila hanya dinikmati segelintir anggota masyarakat. Pepatah Inggris mengatakan 'Apabila ingin hidup lebih kaya, kita harus membuat tetangga juga kaya'.

Pendistribusian kemakmuran dilakukan negara dengan menerapkan sistem perpajakan yang berkeadilan.

Mereka yang memiliki pendapatan lebih besar harus mau membayar pajak yang lebih besar.

Pajak itulah yang kemudian dipergunakan negara, baik untuk membangun infrastruktur atau melakukan kegiatan sosial untuk memberdayakan mereka yang belum beruntung.

Kita hargai langkah pemerintah untuk mengembalikan kredibilitas dalam penyusunan anggaran.

APBN yang kita susun dua tahun terakhir tidak bertumpu pada realitas yang ada.

Sisi penerimaan menetapkan besaran angka yang tidak logis sehingga akhirnya menghasilkan rencana pembangunan yang terlalu ambisius.

Di tengah lesunya pasar ekspor dan merosotnya harga komoditas produk andalan, kita menetapkan penerimaan pajak sebesar Rp1.240 triliun pada 2015.

Kenyataannya kita hanya mampu mendapatkan Rp 1.055 triliun.

Tahun ini kita masih percaya diri untuk bisa mendapatkan penerimaan pajak Rp 1.360 triliun.

Sampai akhir Juli penerimaan pajak baru mencapai 33%.

Pemerintah mencoba menutup dengan pengampunan pajak, tetapi besaran yang ditetapkan terlalu ambisius.

Pemerintah harus menyadari, mereka bukanlah Superman. Apabila kita ingin membangun negeri ini, yang harus dilakukan ialah membangun sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat madani.

Tugas pemimpin, membangun kesadaran seluruh bangsa untuk mau bersama-sama menangani masalah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.