Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA bangsa pendoa. Kelahiran, kematian, kesakitan, dan kegembiraan perlu lafal doa. Menjelang masuk dan ujian sekolah, hajatan politik, naik pangkat, pertandingan olahraga, doa jadi tumpuan. Bagi bangsa religius seperti kita, tak tamam rasanya sebuah acara sekecil apa pun tanpa doa. Seperti ada perasaan khianat pada Sang Pencipta jika meminggirkan doa.
Ada perasaan Tuhan akan menjauh dan tak memberi berkah. Doa tak hanya permohonan, pujian, pengharapan; juga kepasrahan, mengingatkan, dan penghiburan. Kita bangsa pendoa. Tempat-tempat ibadah kian banyak dibangun; kian penuh dengan umat yang berdoa. Televisi kian kerap pula menyiarkan doa bersama, lengkap dengan para pendoa yang bercucur air mata.
Di sebuah penahbisan peserta dianjurkan merekonstruksi perjalanan panjang hidupnya yang berliku dan 'berdebu'. Mereka diminta mengingat 'jalan-jalan yang bersimpang' untuk kemudian merefleksi diri, memohon ampunan Ilahi. Mungkin jemawa, mungkin banal, mungkin kikir, mungkin korup, mungkin syirik. Bukankah, seperti difirmankan dalam Alquran, sesungguhnya salat, yang penuh doa itu, mencegah perbuatan keji dan mungkar?
Kita bangsa pendoa. Wajar salah seorang penyiar TVRI, Sambas, dulu, selalu meminta para pemirsa Tanah Air memanjatkan doa setiap pertandingan penting atlet kita melawan atlet luar negeri. Beberapa tahun lalu menjelang pertandingan kejuaraan tingkat ASEAN, pemain timnas sepak bola kita berkunjung ke sebuah pesantren di Jakarta. Para pemain dan para santri menggelar doa bersama agar menang.
Sayang, timnas kita jadi pecundang. Penyair juga banyak menulis sajak doa. Bahkan, Chairil Anwar, seniman paling jalang, berdoa dalam sajak. Sajak 'Doa' yang ditujukan 'kepada pemeluk teguh', menunjukkan kerendahhatian 'aku lirik' yang 'hilang bentuk' dan 'remuk'. Baris terakhirnya: "Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling."
Kita bangsa pendoa. Namun, doa politikus Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafii dari Komisi III DPR, pada acara sidang paripurna yang dihadiri Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta para pejabat tinggi negara, 16 Agustus lalu, menjadi doa tak biasa. Doa yang berisi teguran keras kepada penguasa.
Demokrasi tak menjadikan sang pendoa jadi subversi. Doa itu menjadi viral di media sosial. Lewat Youtube, doa yang diberi judul Doa yang Menggemparkan, segera menyebar. Penggusuran, brutalitas aparat negara di Medan, pemimpin-pemimpin yang khianat, dan ekonomi kita yang dikuasai asing, terkandung dalam doa itu. Saya melihat ada raut ketegangan, gelisah, cemas, dan tak suka saat doa dipanjatkan.
Meski kemudian tepuk tangan membahana. Mungkin baru kali ini doa ditepuktangani. Respons pro-kontra meruah.
Sang pendoanya banjir pesan pendek. Di grup medsos, seorang kawan berkomentar, "Negeri ini selalu menggetarkan hati kalau berdoa, tetapi menghancurkan harapan kalau bertindak." Komentar yang banyak pula mendapat tanda sepakat.
Dalam artikel Revolusi Doa, Sindhunata menulis, "Mengapa doa tidak berefek bagi kebaikan moral bangsa? Dari penjelajahan singkat mengenai tradisi doa di atas, kita bisa menjawab: doa kita mandul karena terpisah dari masalah-masalah etika, sosial, dan moral yang dihadapi bangsa. Doa melulu menjadi praktik formal-ritual yang tidak bersentuhan dengan permasalahan masyarakat. Doa hanya menjadi kesalehan yang steril terhadap masalah sosial."
Saya setuju Sindhunata. Doa mestinya tak hanya untuk doa. Doa mestinya tak hanya praktik formal-ritual yang menjauh dari masalah sosial. Saya sepakat sang kawan. Doa mestinya tak hanya menggetarkan hati, tetapi mengobarkan pikiran untuk bertindak mewujudkan harapan.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved