Siapa Mencintai Indonesia?

Saur Hutabarat
18/8/2016 06:12
Siapa Mencintai Indonesia?
(ANTARA/Yudhi Mahatma)

PERTANYAAN itu mengandung ketololan.

Terus terang, di tengah suasana kebatinan patriotis merayakan Hari Kemerdekaan Ke-71 RI, saya bersedia dinilai tolol karena merasa tidak tahu siapa mencintai Indonesia, siapa pula membenci Indonesia.

Apakah Bung Karno mencintai Indonesia?

Pertanyaan tolol sekali. Rakyat tahu, bahkan dunia tahu, Bung Karno ialah proklamator kemerdekaan RI.

Presiden pertama itu pernah dibahasakan sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

Namun, oleh kekuasaan dan tuntutan Angkatan 66 yang juga mencintai Indonesia, Bung Karno akhirnya wafat dalam status tahanan politik.

Apakah Pak Harto mencintai Indonesia?

Pertanyaan tak kalah tolol.

Presiden kedua itu membawa perubahan besar melalui Repelita demi Repelita, demi kehidupan rakyat yang lebih baik.

Ia pernah dibahasakan sebagai Bapak Pembangunan, tetapi oleh kekuasaan dan tuntutan reformasi yang mencintai Indonesia, Pak Harto pun wafat dalam status 'tawanan' politik.

Sri Mulyani suatu hari meletakkan jabatan selaku menteri di masa Presiden SBY untuk menjadi Direktur Bank Dunia.

Apakah Sri Mulyani tidak mencintai Indonesia?

Pertanyaan tolol banget.

Suatu hari kemudian, Sri Mulyani kembali ke Tanah Air, kembali menjadi menteri di masa Presiden Jokowi.

Apakah itu berarti Sri Mulyani 'kembali' mencintai Indonesia?

Pertanyaan bertambah tolol.

Sri Mulyani tidak pernah berhenti mencintai Indonesia.

Pertanyaan tolol itu diragukan ketololannya ketika ditujukan kepada Arcandra Tahar, menteri ESDM, yang diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena kewarganegaraan ganda, AS dan Indonesia.

Padahal, Indonesia menganut kewarganegaraan tunggal.

Apakah Arcandra mencintai Indonesia?

Itu pertanyaan 'pintol', pintar-pintar tolol.

Setelah 20 tahun di AS, kembalinya Arcandra membawa keahlian dan pengalamannya kiranya dapat dimaknai sebagai anak yang hilang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Tidak penting benar mempersoalkan apa motif tinggalnya di luar negeri, seperti tidak dipersoalkan hal yang sama terhadap Sumitro Djojohadikusumo dan BJ Habibie.

Indonesia memerlukannya.

Sekarang marilah pertanyaan serupa dialamatkan kepada anak bangsa pemilik uang yang menyimpannya bertahun-tahun di luar negeri.

UU Pengampunan Pajak mengampuni uang yang stateless itu agar kembali ke Indonesia.

Apakah mereka yang punya uang di luar negeri itu tidak mencintai Indonesia?

Jawaban konsisten seperti terhadap Arcandra, dengan kembalinya aset itu ke Indonesia, di situ bersemayam kesadaran mencintai Indonesia.

Kasus Arcandra menjadi pelajaran.

Pelajaran apa? Apakah ada jawaban praksis, yang mempermudah presiden dapat mendayagunakan anak bangsa di luar negeri, yang berkewarganegaraan ganda, agar kembali ke Tanah Air untuk mengabdi demi bangsa dan negara di jabatan-jabatan strategis selaku penyelenggara negara?

Untuk memperbaiki mutu sepak bola, kita menaturalisasi pemain asing.

Apakah mereka mencintai Indonesia? Itu pertanyaan ketinggalan sepur.

Naturalisasi pemain asing tak memperbaiki mutu sepak bola nasional.

Sebaliknya, kini, kita menghabisi anak bangsa sendiri yang berkualitas internasional seperti Arcandra.

Baiklah dikutip kebijakan pintu terbuka Singapura (1997) untuk memikat foreign talent bekerja dan tinggal di Singapura.

Semua itu demi kemajuan ekonomi Singapura.

Bapak bangsa Lee Kuan Yew yakin benar, anak-anak orang asing bertalenta yang lahir di Singapura bakal menjadi Singaporean sejati.

Arcandra asli Indonesia, beristri perempuan asli Indonesia.

Ironisnya, dia dicopot dari kabinet karena berstatus foreign talent.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima