Ahok-Djarot

15/8/2016 05:31
Ahok-Djarot
(ANTARA FOTO/Reno Esnir)

TIDAK lucu membayangkan Ahok, berpasangan entah dengan siapa pun, menjadi calon tunggal dalam Pilkada Jakarta 2017. Juga tidak lucu bila ternyata Risma meninggalkan jabatan Wali Kota Surabaya hasil pilihan rakyat hanya demi menghadapi Ahok. Akan tetapi, kiranya jauh lebih tidak lucu jika koalisi keluarga besar ternyata gagal memutuskan siapa calon Gubernur Jakarta yang bakal diusung. Ketidaklucuan sebetulnya telah terjadi sejak DPR membuat Undang-Undang Pilkada yang mempersulit warga dari calon independen.

Di satu pihak, warga dipersulit untuk menjadi calon kepala daerah dari perseorangan. Di lain pihak, warga juga dipersulit untuk mengusungnya. Sebuah undang-undang yang mencekik hak konstitusional warga, hanya karena kerdilnya pembuat undang-undang dalam memaknai calon perseorangan. Undang-Undang Pilkada dibuat sedemikian rupa ruwet dan berat sehingga lolos menjadi calon perseorangan samalah dengan gajah lolos dari lubang jarum. Ahok tentu saja tidak mau terganjal Undang-Undang Pilkada. Sekalipun pengusungnya, Teman Ahok, telah mengumpulkan kartu tanda penduduk sebanyak yang disyaratkan, ia akhirnya memutuskan diusung partai politik.

Apakah Teman Ahok kecewa? Tentu tidak. Bagi siapa pun yang menginginkan Ahok kembali memimpin Jakarta, persoalan paling pokok ialah Ahok berhasil lolos di KPU. Tiga partai (Golkar, Hanura, dan NasDem) cukup kursi di DPRD untuk mengusungnya. Apakah ia masih memerlukan partai lain? Sebetulnya, juga tidak lucu, PDIP tidak mengusung kadernya, petahana, Wakil Gubernur Djarot, kembali berpasangan dengan Ahok. Bertambah tidak lucu kalau Djarot tidak dicalonkan sama sekali. Djarot Saiful Hidayat menjadi Wakil Gubernur Jakarta untuk mengisi kekosongan karena Wagub Ahok naik menjadi gubernur menggantikan Jokowi yang dipilih rakyat menjadi presiden.

Mengapa Djarot yang dipilih PDIP, tentu, karena ia mumpuni. Tidak ada bukti PDIP berubah penilaian terhadap Djarot. Hingga saat ini, Djarot masih dipercaya sebagai Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPP PDIP. Pasangan Ahok-Djarot kiranya pasangan yang pas untuk dicalonkan kembali memimpin Jakarta. Keduanya tidak perlu lagi belajar 'kenal', karena sudah 'kenal'. Bila terpilih, mereka bisa langsung tancap gas melanjutkan apa-apa yang selama ini telah mereka kerjakan dan rencanakan untuk ibu kota negara yang jauh lebih baik.

Dalam perspektif berbangsa dan bernegara, kiranya bukan persoalan lagi, apakah Ahok-Djarot melamar atau dilamar. Bukan juga urusan besar bila keduanya diusung menjelang injury time. Pilkada Jakarta wajar mengundang perhatian publik nasional, bukan semata karena Jakarta ibu kota negara, melainkan lebih karena calon gubernur yang dikompetisikan. Di pilkada sebelumnya, petahana Gubernur Fauzi Bowo, misalnya, didukung koalisi besar, dan Jokowi-Ahok seakan dikeroyok. Semua itu menyebabkan pilkada Jakarta menjadi ajang demokrasi yang menawan. Karena itu, kita sangat berharap koalisi kekeluargaan mengusung calon yang kuat sehingga pilkada Jakarta tetap menjadi ukuran tersendiri.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima