Natuna

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
13/8/2016 06:01
Natuna
(Dok. MI/Immanuel Antonius)

PERNYATAAN Menko Maritim Luhut Pandjaitan untuk mengembangkan wilayah Natuna dengan membuka perikanan tangkap bagi pihak asing membuat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meradang.

Ia mengancam meletakkan jabatan apabila langkah yang bertentangan dengan peraturan presiden itu dilaksanakan.

Susi merasa selama dua dekade ini pemerintah terlalu memanjakan asing.

Jumlah kapal asing yang beroperasi mulai ukuran 1.000 gross tonnage (gt) sampai 10.000 gt lebih dari 10.000 kapal. Padahal yang terdaftar hanya sekitar 1.300 kapal.

Berapa kontribusi yang diberikan nelayan asing kepada negara? Penerimaan negara bukan pajak hanya sekitar Rp300 miliar per tahun.

Sementara itu pajak badan yang dibayarkan nol rupiah.

Padahal ikan yang dikeruk membuat perusahaan asing menangguk untung besar.

Atas dasar itulah Kementerian Kelautan dan Perikanan menjalankan tiga strategi pembangunan perikanan, yakni kedaulatan, keberlanjutan, dan kemakmuran.

Melalui Perpres No 44/2016, pemerintah melarang perikanan tangkap untuk asing.

Asing hanya diberi izin untuk pengolahan.

Susi tidak main-main dengan kedaulatan.

Bekerja sama dengan Angkatan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal-kapal yang melakukan penangkapan secara ilegal.

Kapal yang tertangkap ditenggelamkan dan pada 17 Agustus nanti akan ada 71 kapal yang ditenggelamkan.

Tindakan tegas itu bukan sekadar untuk menegakkan kedaulatan, melainkan juga menjaga keberlanjutan ikan di laut.

Penangkapan tak boleh dilakukan berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan.

Sekarang ini dirasakan ikan lebih banyak berada di perairan Indonesia dan nelayan kita mendapatkan manfaat.

Tantangan selanjutnya ialah bagaimana meningkatkan kemakmuran. Kemampuan nelayan kita harus ditingkatkan.

Mereka harus didukung kapal yang layak dan teknologi memadai.

Tanpa itu, ikan-ikan yang ada di perairan Indonesia tidak bisa dieksploitasi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan baru mau masuk ke pembiayaan bagi pengembangan nelayan.

Kalau kita membuka perikanan tangkap kepada asing, nelayan Indonesia hanya menonton karena tidak didukung kapal dan teknologi memadai.

Di sinilah pemerintah harus konsisten. Perpres yang baru beberapa bulan dikeluarkan harus menjadi pegangan dalam pengembangan sektor perikanan.

Tanpa itu, kita tidak hanya memperlemah kemampuan perikanan nasional, tetapi juga membuat pemerintah tidak kredibel karena perpres tidak menjadi acuan.

Keberpihakan kita kepada nelayan nasional harus dilihat juga dari aspek keamanan nasional.

Kehadiran kapal asing ilegal ikut menyedot subsidi bahan bakar minyak negara.

Bahkan, selama ini kegiatan mereka ditumpangi bisnis narkoba dan perdagangan manusia.

Lebih menakutkan lagi, kapal-kapal itu melakukan kegiatan mata-mata.

Karena merasa bebas masuk Indonesia, mereka melakukan kegiatan lebih dari menangkap ikan.

Mereka mengamati dan mencuri informasi tentang berbagai hal berkaitan dengan negara kita.

Atas dasar itulah kita mendukung langkah tegas Menteri Susi.

Kita harus teguh dengan prinsip pengembangan perikanan yang akan melakukan tiga strategi.

Presiden Joko Widodo harus memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak berubah.

Apalagi sekarang ini sudah dirasakan sedikit perbaikan dari sektor perikanan.

Sektor ini bisa tumbuh hampir 9%.

Nilai tukar nelayan juga mulai meningkat. Memang masih jauh dari yang ideal, tetapi Roma pun tidak dibangun dalam semalam.

Kita harus terus melangkah maju memperbaiki kehidupan kita melalui kebersamaan di antara kita.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.