Lapak Keputusan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
11/8/2016 05:31
Lapak Keputusan
(Ilustrasi Seno)

BISAKAH semua hakim agung serentak diganti? Itulah pertanyaan seorang rekan yang spontanmuncul begitu membaca berita, 'Besan Nurhadi Urus Perkara Golkar di MA'. Terus terang, tiba-tiba 'ditodong' perta nyaan itu, otak normal saya tidak langsung bisa menjawabnya. Sebaliknya, otak miring langsung teringat kelakuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sehari setelah kudeta militer gagal, memecat ribuan hakim dan jaksa.

Akan tetapi, Republik ini bukan republik kacau-balau. Republik ini rasanya tidak memerlukan otak miring untuk mengatasi persoalan-persoalan miring, termasuk hebatnya kelakukan miring di Mahkamah Agung. Kendati demikian, pertanyaan bisakah semua hakim agung diganti serentak, tetaplah pertanyaan yang substansial, relevan, untuk dipikirkan, karena mengandung solusi menyeluruh.

Ketidakpercayaan kepada MA telah sampai di titik nadir. MA bukan lagi Mahkamah Agung, melainkan mahkamah amblas, mahkamah ambruk, mahkamah amburadul. Namun, siapakah yang bisa menjamin, setelah semua hakim agung dan juga panitera dicopot dari fungsi dan jabatannya, Mahkamah Agung bakal bersih, berintegritas? Salah satu penyebab MA rusak berat ialah karena MA sebagai organ negara tertinggi di dunia pengadilan teramat mudah masuk angin.

MA terlalu gampang dikunjungi, dimasuki, bahkan dibeli pihak yang beperkara. "Seakan sudah bukan lagi pengadilan, melainkan menjadi lapak jualan keputusan," kata Melli Darsa, Ketua Masyarakat Pemberdayaan Hukum Nasional. Publik sudah lama berpandangan bahwa mafia peradilan menggurita. MA memang harus dibenahi dan diselesaikan secara menyeluruh.

Caranya? MA harus dijauhkan agar tidak gampang dikunjungi oleh pembeli keputusan. Lapak itu ditempatkan si sebuah kota yang sedemikian rupa tidak gampang-gampang didatangi, serta siapa yang mendatanginya, mudah terpantau. Saya pernah mengusulkan agar MA dipindahkan ke Bukittinggi, ibu kota negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Kompleks kantor MA hendaknya juga dipasang CCTV sehingga bila suatu waktu KPK membutuhkan untuk keperluan barang bukti, mudah diperoleh.

MA tidak mengadili para pihak, dalam arti menyidangkan mereka. MA pada dasarnya memeriksa berkas. Berkas hendaknya wajib dikirimkan melalui teknologi informasi, dan sebaliknya, putusan MA dipublikasikan melalui situs MA. Pertemuan fisik orang-orang MA, entah itu hakim agung ataupun panitera dengan pihak yang beperkara, benar-benar diputus. Kembali ke pertanyaan awal, tidakkah sebaiknya semua hakim agung dan panitera diganti?

Kita paham, pertanyaan itu mengekspresikan tamatnya kepercayaan terhadap Mahkamah Agung. Pertanyaan itu menunjukkan kekesalan yang amat sangat kepada MA. Apakah jawabannya harus dengan mencopot, khususnya, hakim agung? Menjawabnya 'ya', samalah mengikuti otak miring, yaitu menjalankan negara ini buat sementara, tanpa MA. Rasanya negara ini tak kiamat, bila sementara waktu, hidup bernegara tanpa MA.

Kiranya buat sementara lebih baik daripada punya MA yang korup. Buat sementara, anggap saja MA sedang pingsan, sampai negara berhasil menyusun hakim agung dan panitera darah baru. Selama MA 'pingsan' itu, keadilan hendaknya ditegakkan maksimal di pengadilan negeri. Naik banding, apalagi kasasi, mestinya merupakan pengecualian. Bukan malah menjadikannya peluang besar untuk memenangi perkara karena di situlah berlangsung lapak jualan keputusan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima