Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MARI kita luangkan waktu ‘menengok’ Rio de Janeiro, Brasil. Di tengah ancaman terorisme global dan krisis ekonomi negeri itu, 5-21 Agustus ini, Olimpade 2016 digelar. Sebanyak 10.000 at let dari 206 negara berlaga di situ. Indonesia mengirim 28 atlet, masih lebih banyak jika dibandingkan dengan Olimpiade 2008 di Beijing dan Olimpiade 2012 di London, masing-masing 24 dan 22 atlet. Perlu kita apresiasi, wasit Indonesia, Rahadewineta, kali pertama jadi pengadil di ajang olahraga sejagat itu, untuk taekwondo.
Jumlah atlet bulu tangkis masihlah yang terbanyak. Olahraga inilah yang memang membangun tradisi medali emas di Olimpiade. Kita masih mengingat dengan bangga dan penuh haru ketika Susy Susanti dan Alan Budikusuma untuk pertama kalinya mengukir prestasi emas di Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol. Gambar Susy Susanti yang berdiri di podium dengan cucuran air mata di tengah kumandang la gu kebangsaan Indonesia Raya dan bendera ‘Merah Putih’ yang bergerak naik terus menjadi in spirasi dan gairah kebangsaan kita.
Prestasi ini serupa maklumat pada dunia: Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata! Sejak Susy-Alan berjaya di Olimpiade 1992, medali emas dari ajang bulu tangkis seperti menjadi ‘cerita bersambung’. Berturut-turut ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja (Olimpade 1996 di Atlanta), Tony Gunawan/Candra Wijaya (Olimpiade 2000 di Sydney), Taufi k Hidayat (Olimpiade 2004 di Athena), Hendra Setiawan/Markis Kido (Olimpiade 2008 di Beijing).
Sayang, tradisi emas terhenti di Olimpiade 2012. bahkan, perak dan perunggu pun lepas. Indonesia mendapat medali perak dan perunggu di cabang angkat besi, melalui lifter Triyatno dan Eko Yuli Irawan. Padahal, bulu tangkis, selain mendapat emas, perak, dan perunggu selalu menyertainya. Mi salnya, ketika Susy-Alan mendapat dua emas, Ar di B Wiranata, Eddy Hartono/Rudy Gunawan masing-masing mendapat perak, dan Hermawan Susanto mendapat perunggu.
Panahan, yang juga menjadi pembuka perolehan medali sejak keikutsertaan Indonesia pada Olimpiade 1952 di Helsinki, juga terputus. Adalah Trio Srikandi Lilies Handayani, Nurfi triyana Saiman, dan Kusuma Wardhani para pengukir medali perak di Ompiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. Kisah nyata itu difi lmkan dengan judul Trio Srikandi yang kini diputar di bioskop Indonesia.
Total bulu tangkis telah membukukan 6 medali emas, 6 perak, dan 6 perunggu. Angkat besi 3 perak dan 5 perunggu, sementara panahan 1 perak. Cabang lain masih dalam mimpi sendiri-sendiri. Padahal, berjaya di ajang sekelas Olimpiade ialah gelora semangat yang akan beresonansi dalam ba nyak hal. Kebanggaan, kepercayaan diri, dan pro duktivitas. Kita penting menengok Olimpiade di tengah banyak urusan karena setidaknya dua hal. Pertama, biasanya prestasi olahraga juga menjadi indikasi kemajuan. Indonesia kini anggota G-20, tetapi prestasi olahraganya kalah jauh dengan negara G-20 yang lain.
Bertolak dari Olimpiade 2012, mereka umumnya berada di peringkat ke-15 dunia, Indonesia berada di peringkat ke-63. Padahal, prestasi olahraga tingkat dunia bisa menjadi dasar mengembangkan industri di bidang olahraga. Sayangnya, atletik yang menjadi ibu dari semua cabang olahraga belum mendapat perhatian serius alias masih lemah. Bagaimana kita bicara ‘anak-anaknya’ dengan ‘ibu’ yang tak sehat itu?
Kedua, tradisi emas dari bulu tangkis mestinya kian menyadarkan kita, betapa para pengharum bangsa tingkat dunia umumnya saudara-saudara kita dari keturunan Tionghoa. Ini menjadi penting ketika kini isu SARA kian kerap diembuskan para penyuka destruksi. Padahal, kita tahu destruksi kerap menjadi luka, dan luka serupa itu kerap tak mudah obatnya. Kita berharap Olimpiade Brasil mengembalikan tradisi emas bulu tangkis yang hilang. Agar menjadi salah satu obat luka itu. Selamat berjuang, kon tingen Indonesia. Selamat mengembalikan tradisi!
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved