Mengembalikan Tradisi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
05/8/2016 05:31
Mengembalikan Tradisi
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

MARI kita luangkan waktu ‘menengok’ Rio de Janeiro, Brasil. Di tengah ancaman terorisme global dan krisis ekonomi negeri itu, 5-21 Agustus ini, Olimpade 2016 digelar. Sebanyak 10.000 at let dari 206 negara berlaga di situ. Indonesia mengirim 28 atlet, masih lebih banyak jika dibandingkan dengan Olimpiade 2008 di Beijing dan Olimpiade 2012 di London, masing-masing 24 dan 22 atlet. Perlu kita apresiasi, wasit Indonesia, Rahadewineta, kali pertama jadi pengadil di ajang olahraga sejagat itu, untuk taekwondo.

Jumlah atlet bulu tangkis masihlah yang terbanyak. Olahraga inilah yang memang membangun tradisi medali emas di Olimpiade. Kita masih mengingat dengan bangga dan penuh haru ketika Susy Susanti dan Alan Budikusuma untuk pertama kalinya mengukir prestasi emas di Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol. Gambar Susy Susanti yang berdiri di podium dengan cucuran air mata di tengah kumandang la gu kebangsaan Indonesia Raya dan bendera ‘Merah Putih’ yang bergerak naik terus menjadi in spirasi dan gairah kebangsaan kita.

Prestasi ini serupa maklumat pada dunia: Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata! Sejak Susy-Alan berjaya di Olimpiade 1992, medali emas dari ajang bulu tangkis seperti menjadi ‘cerita bersambung’. Berturut-turut ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja (Olimpade 1996 di Atlanta), Tony Gunawan/Candra Wijaya (Olimpiade 2000 di Sydney), Taufi k Hidayat (Olimpiade 2004 di Athena), Hendra Setiawan/Markis Kido (Olimpiade 2008 di Beijing).

Sayang, tradisi emas terhenti di Olimpiade 2012. bahkan, perak dan perunggu pun lepas. Indonesia mendapat medali perak dan perunggu di cabang angkat besi, melalui lifter Triyatno dan Eko Yuli Irawan. Padahal, bulu tangkis, selain mendapat emas, perak, dan perunggu selalu menyertainya. Mi salnya, ketika Susy-Alan mendapat dua emas, Ar di B Wiranata, Eddy Hartono/Rudy Gunawan masing-masing mendapat perak, dan Hermawan Susanto mendapat perunggu.

Panahan, yang juga menjadi pembuka perolehan medali sejak keikutsertaan Indonesia pada Olimpiade 1952 di Helsinki, juga terputus. Adalah Trio Srikandi Lilies Handayani, Nurfi triyana Saiman, dan Kusuma Wardhani para pengukir medali perak di Ompiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. Kisah nyata itu difi lmkan dengan judul Trio Srikandi yang kini diputar di bioskop Indonesia.

Total bulu tangkis telah membukukan 6 medali emas, 6 perak, dan 6 perunggu. Angkat besi 3 perak dan 5 perunggu, sementara panahan 1 perak. Cabang lain masih dalam mimpi sendiri-sendiri. Padahal, berjaya di ajang sekelas Olimpiade ialah gelora semangat yang akan beresonansi dalam ba nyak hal. Kebanggaan, kepercayaan diri, dan pro duktivitas. Kita penting menengok Olimpiade di tengah banyak urusan karena setidaknya dua hal. Pertama, biasanya prestasi olahraga juga menjadi indikasi kemajuan. Indonesia kini anggota G-20, tetapi prestasi olahraganya kalah jauh dengan negara G-20 yang lain.

Bertolak dari Olimpiade 2012, mereka umumnya berada di peringkat ke-15 dunia, Indonesia berada di peringkat ke-63. Padahal, prestasi olahraga tingkat dunia bisa menjadi dasar mengembangkan industri di bidang olahraga. Sayangnya, atletik yang menjadi ibu dari semua cabang olahraga belum mendapat perhatian serius alias masih lemah. Bagaimana kita bicara ‘anak-anaknya’ dengan ‘ibu’ yang tak sehat itu?

Kedua, tradisi emas dari bulu tangkis mestinya kian menyadarkan kita, betapa para pengharum bangsa tingkat dunia umumnya saudara-saudara kita dari keturunan Tionghoa. Ini menjadi penting ketika kini isu SARA kian kerap diembuskan para penyuka destruksi. Padahal, kita tahu destruksi kerap menjadi luka, dan luka serupa itu kerap tak mudah obatnya. Kita berharap Olimpiade Brasil mengembalikan tradisi emas bulu tangkis yang hilang. Agar menjadi salah satu obat luka itu. Selamat berjuang, kon tingen Indonesia. Selamat mengembalikan tradisi!



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima