Eksekusi Mati

Djadjat Sudradjat | Dewan Redaksi Media Group
05/5/2015 00:00
Eksekusi Mati
(ANTARA/Fanny Octavianus)
DI masa kanak-kanak di desa, saya mengalami masa yang gelap itu. Setiap habis magrib, bunyi bedil dari sebuah kuburan yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah selalu mengguntur. Lebih dari sepekan bedil-bedil beraktivitas di malam hari. Setelah beberapa kali didesak, ibu saya menjelaskan, itu bunyi bedil tentara yang tengah mengeksekusi orang-orang komunis setelah Gerakan 30 September 1965 yang gagal itu.

Tahun-tahun yang sama, di Jakarta, saudara kami yang anggota RPKAD (Resimen Parakomando Angkatan Darat), berhari-hari menjadi algojo orang-orang kiri. Berminggu-minggu setelah menghabisi banyak nyawa, ia kehilangan semangat hidup. Tubuhnya melisut, jiwanya terguncang. Ia tinggalkan korps tentara kebanggaannya. Tahun lalu ia meninggal di RS Gatot Subroto. Teman-temannya mengenangnya sebagai tentara berani! Ia bilang tentara gagal. "Saya tentara, tapi tak pernah bermimpi membunuh sesama manusia."

Kematian bagi bangsa ini bukan cerita yang jauh, melainkan amat dekat. Bukankah negeri ini diperjuangkan dengan darah dan air mata? Perang itulah yang menempa kita sebagai bangsa pejuang. Dalam sejarah kita di zaman Hindia Belanda, hukuman mati juga menjadi sesuatu yang biasa. Di awal abad ke-18 misalnya meski di Batavia penduduknya hanya sekitar 130 ribu, kira-kira 10 orang dihukum mati. Eksekusi mati dengan siksaan kejam dan itu menjadi tontonan masyarakat umum.

Dalam gemuruh eksekusi mati Bali Nine, ada suasana kita menyambut hukuman mati dengan menepuk dada. Terlebih mereka para pelaknat narkoba. Seperti ada kemenangan melawan kekuatan lain di situ; bahwa Indonesia tak gentar menghadapi tekanan asing seperti Australia, Brasil, Prancis. Seperti sebuah katarsis, keberanian mengeksekusi mati pada banyak orang dari banyak negara semacam pembebasan dari perasaan takut, dari perasaan kalah selama ini.

Karena itu, saya menangkap, hukuman mati tidak semata karena di negeri ini ada 18 ribu nyawa manusia terenggut gara-gara benda laknat itu, tetapi juga semata tengah menunjukkan pesan berani yang tengah ditumbuhkan, atau dikembalikan. Dikembalikan karena di masa lalu kita tak hanya berani, tetapi menjadi kiblat Asia-Afrika. Konferensi Bandung pada 1955 salah satu buktinya.

Sama dalam keberanian menenggelamkan kapal pencuri ikan, ia menjadi nikmat pertunjukan. Sebagai warning, begini bunyinya: 'Pemerintah Indonesia tidak ada kompromi dengan para pelanggar hukum. Dari mana pun negaranya. Karena itu, jangan macam-macam'. Kedua unjuk keberanian itu mendapat dukungan di parlemen dan publik.

Keberanian sudah ditunjukkan. Ketegasan sudah dibuktikan. Kelak, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjunjung tinggi nyawa manusia, hukuman mati, apa pun kesalahannya, kehidupan jauh lebih berharga daripada kematian. Menghargai kehidupan juga menghargai masa depan. Kematian bukan semata hak prerogatif Tuhan, tetapi kata sebuah pepatah, mayat hanya layak dikenang, tetapi tak bisa diajak berjuang.

Saya kira sebesar apa pun dosa penjahat yang hidup, ia masih bisa diajak berjuang sementara hartanya disita untuk negara. Indonesia yang ditempa sejarah dan kenyang baku bunuh layak memikirkan kapan mengumumkan menghapus hukuman mati. Bangsa ini lebih memilih menghargai kehidupan daripada kematian.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.