Kompak

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/7/2016 05:31
Kompak
(ANTARA FOTO/Widodo S)

APA yang menjadi kunci keberhasilan pada awal pemerintahan Joko Widodo sehingga semua agenda bisa dilaksanakan? Kekompakan. Pada awal pemerintahan, semua menteri tahu ke mana mereka harus berjalan dan mereka bahumembahu untuk melaksanakannya. Kita lihat beberapa hal yang selama ini nyaris tidak bisa tersentuh bisa diselesaikan. Petral yang menjadi momok bagi tingginya subsidi bahan bakar minyak bisa dibubarkan karena Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Menteri Badan Usaha Milik Negara kompak. Proyek kilang Trans-Pacifi c Petrochemical Indotama Tuban pun bisa diserahkan ke Pertamina. Tol Cipali yang terkendala pembebasan lahan bisa dituntaskan karena Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bekerja sama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang.

Dengan pengalaman itu, seharusnya tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan. Pembangunan pembangkit listrik 35 Gw, misalnya, seharusnya bisa kita mulai laksanakan. Pembangunan kereta api cepat Bandung-Jakarta seharusnya bisa berjalan mulus. Mengapa semua itu kemudian menjadi tersendat? Karena kekompakan itu tidak bisa dijaga. Sekarang para menteri mulai berjalan sendiri-sendiri. Koordinasi kembali sulit untuk dilakukan.Di sinilah Presiden seharusnya tampil sebagai penyelaras. Sungguh aneh apabila para menteri dibiarkan berjalan dengan agenda sendiri. Apalagi ketika perbedaan di antara mereka di biarkan mencuat ke publik. Para menteri saling tunjuk
jari, sementara pekerjaan utama tidak bisa dilaksanakan.

Ketidakkompakan antaranggota kabinet bu kan pertama kali ini terjadi. Ketika perombakan kabinet pertama kali dilakukan Presiden Jokowi, yang segera mencuat ialah sa ling serang di antara anggota kabinet. Kita menangkap kegaduhan yang luar biasa, yang akhirnya mengganggu kinerja. Cara penyelesaian yang dilakukan Presiden ketika itu cenderung informal. Presiden tidak pernah mempertemukan para menteri yang berselisih. Akibatnya, tidak ada pembelajaran yang bisa dipetik. Tidak usah heran jika perselisihan mencuat kembali sekarang ini. Ironinya, para menteri diadu domba bawahan. Sidang kabinet yang seharusnya bisa menuntaskan semua perbedaan tidak juga mencarikan jalan keluar.

Kalau kondisi ini terus dibiarkan, yang akan terganggu ialah program besar pemerin tah. Elektrifi kasi yang diharapkan tuntas pada 2019 tidak mungkin terlaksana apabila program 35 Gw tidak mampu direalisasikan. Pembangunan industri, pengembangan usaha kecil dan menengah, pembangunan pertanian, dan pengembangan perikanan tidak akan bisa ber jalan tanpa ada ketersediaan listrik yang memadai. Tepatlah apabila sekarang Presiden Jokowi harus kembali membangun kekompakan di antara anggota kabinet. Keberhasilan pemerintahan ini hanya bisa tercapai apabila seluruh anggota kabinet memiliki satu visi dan satu kemauan untuk meraih keberhasilan.

Dukungan politik dan masyarakat tidak per lu diragukan. Sekarang ini semua partai politik nyaris berada di belakang Presiden Jo kowi. Bahkan, Partai Golkar yang semula men jadi oposisi sudah mengambil ancangancang untuk mencalonkan Jokowi sebagai presiden periode 2019-2024. Di tingkat masyarakat, tingkat kepuasan ke pada pemerintah cenderung meningkat. Masyarakat percaya kehidupan mereka akan lebih baik pada tahun-tahun mendatang. Ini tentunya merupakan modal yang luar biasa bagi Presiden Jokowi. Namun, semua itu tidak akan berarti kalau program pembangunan yang direncanakan tak bisa berjalan. Ibaratnya musuh itu tidak lagi berada di luar, tetapi di dalam pemerintahan. Kalau pemerintah tidak kompak dalam menjalankan program kerja, semuanya tidak akan bisa memuaskan seperti diharapkan rakyat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima