Dasar Monyet

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
21/7/2016 05:31
Dasar Monyet
(Ilustrasi ebet)

TULISAN ini hendak dibuka dan diakhiri dengan nalar kurangajar. Berhentilah memaki seseorang dengan menyebut penghuni kebun binatang karena makian itu menghina sampai jauh ke orangtua yang bersangkutan. Berkata ‘dasar monyet’ kepada seseorang, misalnya, samalah mengatakan ayah dan ibunya monyet sebab belum pernah ada emak dan bapaknya monyet melahirkan anak bukan monyet, melainkan manusia. Monyet beranak monyet!

Demikianlah, orangtua yang tiada terkait dengan konteks persoalan terkena pula makian. Terjadilah dua perkara kurang ajar. Pertama, menyebut seseorang monyet. Kedua, secara tidak langsung memonyetkan orangtuanya. Jadi, berhentilah memaki bermonyet-monyet. Kita pun mestinya berhenti memaki-maki penyelenggara negara. Sekalipun saya belum pernah mendengar di ruang publik, DPR (misalnya) dimaki sebagai monyet, sebaiknya kita berhenti memaki DPR. Tentu, bertepuk tidak sebelah tangan, kecuali bermaksud menepuk angin.

Salah satu faktor utama untuk berhenti memaki DPR ialah DPR berhenti memperlakukan rakyat sebagai sekrup, apalagi sebagai monyet. Rakyat bukan sekrup, mestinya menjadi pegangan hakiki bagi siapa pun yang berkuasa. Apabila DPR menganggap rakyat sekrup, dengan analogi yang sama, anggota DPR merupakan wakil sekrup. Kalau DPR memperlakukan rakyat bak monyet, yang bahagia diberi kacang ketika reses dan kampanye, sesungguhnya anggota DPR memang menjadikan dirinya sendiri pun wakil monyet, yang nilainya pun kacangan.

Serupa halnya bila pemerintah menganggap rakyat sekrup; mereka pun pemerintahan sekrup. Kalau menteri menganggap rakyat monyet, dia pun menteri monyet. Padahal monyet tak perlu kabinet, tak perlu menteri, tak pula perlu presiden. Namanya juga monyet. Dalam pemilu, rakyat bukan sekrup, berapa pun harganya, apalagi seharga kacang. Dalam pemilu legislatif, partai ialah peserta pemilu. Akan tetapi, hak suara bukan hak konstitusional partai, melainkan hak konstitusional warga sebagai person.

Dalam relasi institusional dan personal, yang institusional itu ialah peserta pemilu (partai), penyelenggara pemilu (KPU), pengawas pemilu (Bawaslu), dan pengadil pemilu (MK). Dalam pilpres, partai bahkan hanya pengusung, bukan peserta pemilu. Yang punya hak suara, yang menentukan, ya rakyat. Akan tetapi, setelah pemilu usai, produk pemilu yang dihasilkan, apakah itu lembaga legislatif maupun eksekutif, mereka menarik otonomi hak personal konstitusional dari rakyat menjadi sepenuhnya milik mereka.

Kekuasaan itu amanah, ternyata dipakai sesukanya, bahkan memperlakukan rakyat yang punya hak konstitusional personal itu sebagai sekrup. Bahkan, bak monyet yang cukup diberi kacang. Contohnya, apakah DPR dan pemerintah bertanya, rakyat lebih memilih sistem terbuka atau tertutup, suara terbanyak atau nomor urut, dalam penentuan pileg? Inisiatif siapa pun, pemerintah atau DPR, tiap 5 tahun bongkar pasang undang-undang pemilu, tidakkah hal itu lebih menunjukkan ekspresi kegelisahan elite puncak partai yang khawatir tidak mendapat suara terbanyak dalam pileg, karena memang rakyat tidak percaya lagi, karena memperlakukan rakyat sekrup, bahkan monyet? Saya ingin mengajak, marilah kita berhenti memaki pemerintah atau parlemen. Sebaliknya, yang berkuasa, berhentilah memperlakukan rakyat sebagai sekrup. Apalagi mengatakan, ‘dasar monyet’, kepada siapa pun. Tidak hanya karena saya bersimpati kepada monyet asli, yang dinilai lebih rendah, tetapi lebih karena demokrasi memerlukan kritik
daripada makian.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima