Dilema Turki

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
19/7/2016 06:00
Dilema Turki
(AFP/DIMITAR DILKOFF)

'MASJID adalah barak kami. Kubah adalah penutup kami. Menara adalah bayonet kami. Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini yang akan menjaga agama kami'.

Sepenggal sajak penyair Turki, Ziya Gokalp, dulu konon kerap dibacakan Recep Tayyip Erdogan.

Itu merupakan sajak sindiran, dan tentara justru menjadi pihak yang paling tersindir.

Mereka naik pitam, menuduh pria pemberani itu memprovokasi.

Pada 1998, Erdogan pun dibui.

Tentara lalu menyatakan menyesal.

Ketika Erdogan menjadi perdana menteri, tentara dibereskan, ditertibkan, agar tak lagi ikut serta dalam politik praktis.

Akan tetapi, bagi tentara, sejarah rupanya telanjur jadi inspirasi.

Hubungan tentara dan Erdogan memang relasi yang penuh syak wasangka. Keduanya saling 'mengintai', saling 'menundukkan'.

Tak ada loyalitas penuh militer atas sipil, sebab tentara menyimpan memori kemenangan dalam menentukan kekuasaan.

Karena itu, tak ada yang mengejutkan di Turki hari ini.

Tentu saja termasuk soal kudeta militer yang gagal, Jumat lalu.

Di Turki, kudeta memang bukan peristiwa tanpa sebab, tanpa sejarah.

Sejarah di negeri itu mengajarkan tentang ketidakpuasaan terhadap rezim berkuasa ditunjukkan dengan bedil.

Berkali-kali. Bedil yang menyalak dalam kudeta tempo hari sedikitnya mencabut nyawa 260 manusia.

Tentara negeri itu selalu merasa menjadi penentu setiap ada yang mereka anggap keliru.

Mereka menganggap suksesi bukanlah seperti dalam demokrasi pada galibnya.

Militer menganggap suksesi yang tertib hanya ada dalam kitab-kitab demokrasi sebagai teori. Bukan demokrasi dalam praktik!

Sejarah mencatat sejak 1960 telah terjadi lima kali kudeta di negeri yang didirikan Kemal Pasha Ataturk itu.

Dukungan publik yang padu waktu awalnya, sejak Jenderal Cemal Gursel merebut kursi Perdana Menteri Menderes, 27 Mei 1960, seperti jadi 'candu' tentara melakukan suksesi.

Di masa lalu, kudeta memang seperti menjadi hobi negeri-negeri berkembang pada umumnya.

Sebuah cara yang kini jadi olok-olok para pecinta demokrasi.

Untunglah kudeta gagal.

Untunglah rakyat Turki tak lagi punya nostalgia dengan kudeta.

Rakyat justru antipati.

Marah!

Mereka melawan tentara makar itu.

Rakyat mengikuti seruan Presiden Erdogan turun ke jalan. Mendukung penuh pemerintah yang sah.

Tak kurang dari 6.000 ribu tentara dan pelaku makar diburu dan ditangkap.

Pastilah penjara bakal menanti mereka.

Kita tahu Erdogan memang bukan pemimpin yang sempurna.

Bagi Turki, ia harapan, tetapi belakangan menjadi kecemasan juga.

Sejak terpilih menjadi presiden pada 2014, sang harapan itu memberangus musuh-musuh politiknya tanpa ampun.

Pers kritis, oposisi, dan para penegak demokrasi mengalami mimpi buruk.

Beberapa wartawan dipenjarakan karena dituduh berkomplot dengan oposisi.

Mereka dituduh berada di barisan Fethullah Gulen, ulama yang dulu jadi karib Erdogan.

Kebencian Erdogan kepada Gulen memang telah berada di titik didih.

Kini dalam soal kudeta, telunjuk pemerintah pun diarahkan kepada Gulen yang bermukim di Amerika.

Erdogan yakin ulama yang juga pengusaha itu menjadi sang dalang makar.

Turki, setelah beberapa kali dihajar bom bunuh diri, problem pengungsi, dan kudeta, akan menghadapi hari-hari mereka yang kian penuh syak wasangka kepada tentara, kepada seluruh lawan politik.

Keberhasilan Erdogan memajukan ekonomi ialah satu hal yang membuat rakyat masih mencintainya.

Namun, cara-cara yang kian represif agaknya tak akan berhenti.

Itulah dilema demokrasi di Turki hari ini.

Indonesia mesti mengambil pelajaran yang amat berharga itu.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.