Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM pengaturan kesehatan dan pengendalian penyakit, dunia mengenal dua organisasi, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Mengapa hewan mendapat perhatian yang sama dengan manusia? Karena ada penyakit hewan yang bisa menular kepada manusia atau disebut zoonosis. Pada masa perang, banyak penyakit hewan yang dipergunakan untuk menyerang lawan.
Kita mengenal penyakit anthrax. Bakteri bacillus anthracis itu bisa membuat orang tersiksa kalau sampai tertular dan bahkan mematikan. Oleh karena sifatnya yang menular, dunia membuat pengaturan perdagangan produk asal ternak. Pengaturan dibuat sangat ketat karena jangan sampai manusia menjadi korban.
OIE mendata penyakit-penyakit hewan yang ada di setiap negara dan memberikan peringatan kepada semua negara untuk berhati-hati apabila ingin melakukan importasi. Amerika Serikat, misalnya, dikategorikan sebagai negara yang tidak bebas penyakit sapi gila atau mad cow.
Negara lain boleh saja melakukan importasi daging dari Amerika Serikat, asal sadar akan konsekuensinya. Jika virus itu masuk ke manusia, sistem saraf otak akan diserang dan menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob. Karena begitu menakutkannya penularan penyakit hewan ke manusia dan juga hewan, semua negara di dunia memiliki badan kesehatan hewan.
Badan itulah yang bertanggung jawab merekomendasikan importasi ternak dan produk ternak agar tidak ada dampak merugikan. Aturan importasi dibuat ketat karena semua negara tidak ada yang mau mengambil risiko. Jangan sampai kita asal melakukan importasi dan sekadar mencari harga yang murah, tetapi akibat jangka panjangnya akan jauh lebih mahal.
Kita pernah punya pengalaman buruk ketika penyakit mulut dan kuku menyerang sapi di Indonesia. Kita membutuhkan waktu 100 tahun untuk mengeradikasi penyakit itu. Sekarang Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang terbebas dari penyakit mulut dan kuku. Terus terang kita kaget dengan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membuka keran impor daging sapi dan jeroan.
Hanya karena terpukul janjinya untuk menjual harga daging sapi Rp80 ribu per kilogram pada saat Lebaran lalu tidak tercapai, pemerintah lalu memperbolehkan siapa pun untuk mengimpor daging sapi dan jeroan. Bahkan, importir tidak perlu lagi mendapatkan rekomendasi Direktorat Kesehatan Hewan untuk memasukkan daging dan jeroan ke Indonesia.
Peraturan Menteri Pertanian yang dianggap menghambat dan menyebabkan harga daging mahal diputuskan untuk dicabut. Sungguh mengerikan kebijakan yang dilakukan pemerintah itu. Padahal mahalnya harga daging sapi bukan disebabkan peraturan tentang importasi, melainkan karena kita tidak pernah menangani secara benar sistem produksinya.
Kebijakan itu tidak hanya membuat Indonesia akan dianggap aneh oleh OIE, tetapi juga bisa-bisa harga yang kelak harus dibayar akan lebih mahal lagi. Kita tidak bisa bayangkan kalau kasus sapi gila sampai muncul di Indonesia, atau penyakit mulut dan kuku merebak kembali di Tanah Air.
Kita bukan hanya akan menghadapi larangan ekspor ke negara lain, para turis pun akan ketakutan mengonsumsi produk peternakan karena tidak melewati prosedur pengawasan yang seharusnya. Pepatah Minang mengatakan 'Tak pandai menari dikatakan lantai berjungkit'.
Jangan sampai karena ketidakmampuan kita mengelola sistem peternakan secara benar sehingga harga daging mahal, kesalahannya dilimpahkan kepada sistem penanganan kesehatan hewan. Kita ingin mengulangi, tugas negara bukanlah menciptakan harga daging murah, melainkan membuat harga daging wajar. Harga itu di satu sisi harus membuat konsumen mampu menjangkaunya, tetapi di sisi lain mesti mendorong peternak mau meningkatkan produksi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved