Impor Daging

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/7/2016 05:31
Impor Daging
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

DALAM pengaturan kesehatan dan pengendalian penyakit, dunia mengenal dua organisasi, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Mengapa hewan mendapat perhatian yang sama dengan manusia? Karena ada penyakit hewan yang bisa menular kepada manusia atau disebut zoonosis. Pada masa perang, banyak penyakit hewan yang dipergunakan untuk menyerang lawan.

Kita mengenal penyakit anthrax. Bakteri bacillus anthracis itu bisa membuat orang tersiksa kalau sampai tertular dan bahkan mematikan. Oleh karena sifatnya yang menular, dunia membuat pengaturan perdagangan produk asal ternak. Pengaturan dibuat sangat ketat karena jangan sampai manusia menjadi korban.

OIE mendata penyakit-penyakit hewan yang ada di setiap negara dan memberikan peringatan kepada semua negara untuk berhati-hati apabila ingin melakukan importasi. Amerika Serikat, misalnya, dikategorikan sebagai negara yang tidak bebas penyakit sapi gila atau mad cow.

Negara lain boleh saja melakukan importasi daging dari Amerika Serikat, asal sadar akan konsekuensinya. Jika virus itu masuk ke manusia, sistem saraf otak akan diserang dan menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob. Karena begitu menakutkannya penularan penyakit hewan ke manusia dan juga hewan, semua negara di dunia memiliki badan kesehatan hewan.

Badan itulah yang bertanggung jawab merekomendasikan importasi ternak dan produk ternak agar tidak ada dampak merugikan. Aturan importasi dibuat ketat karena semua negara tidak ada yang mau mengambil risiko. Jangan sampai kita asal melakukan importasi dan sekadar mencari harga yang murah, tetapi akibat jangka panjangnya akan jauh lebih mahal.

Kita pernah punya pengalaman buruk ketika penyakit mulut dan kuku menyerang sapi di Indonesia. Kita membutuhkan waktu 100 tahun untuk mengeradikasi penyakit itu. Sekarang Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang terbebas dari penyakit mulut dan kuku. Terus terang kita kaget dengan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membuka keran impor daging sapi dan jeroan.

Hanya karena terpukul janjinya untuk menjual harga daging sapi Rp80 ribu per kilogram pada saat Lebaran lalu tidak tercapai, pemerintah lalu memperbolehkan siapa pun untuk mengimpor daging sapi dan jeroan. Bahkan, importir tidak perlu lagi mendapatkan rekomendasi Direktorat Kesehatan Hewan untuk memasukkan daging dan jeroan ke Indonesia.

Peraturan Menteri Pertanian yang dianggap menghambat dan menyebabkan harga daging mahal diputuskan untuk dicabut. Sungguh mengerikan kebijakan yang dilakukan pemerintah itu. Padahal mahalnya harga daging sapi bukan disebabkan peraturan tentang importasi, melainkan karena kita tidak pernah menangani secara benar sistem produksinya.

Kebijakan itu tidak hanya membuat Indonesia akan dianggap aneh oleh OIE, tetapi juga bisa-bisa harga yang kelak harus dibayar akan lebih mahal lagi. Kita tidak bisa bayangkan kalau kasus sapi gila sampai muncul di Indonesia, atau penyakit mulut dan kuku merebak kembali di Tanah Air.

Kita bukan hanya akan menghadapi larangan ekspor ke negara lain, para turis pun akan ketakutan mengonsumsi produk peternakan karena tidak melewati prosedur pengawasan yang seharusnya. Pepatah Minang mengatakan 'Tak pandai menari dikatakan lantai berjungkit'.

Jangan sampai karena ketidakmampuan kita mengelola sistem peternakan secara benar sehingga harga daging mahal, kesalahannya dilimpahkan kepada sistem penanganan kesehatan hewan. Kita ingin mengulangi, tugas negara bukanlah menciptakan harga daging murah, melainkan membuat harga daging wajar. Harga itu di satu sisi harus membuat konsumen mampu menjangkaunya, tetapi di sisi lain mesti mendorong peternak mau meningkatkan produksi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima