Pesta sudah Usai

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
13/7/2016 05:31
Pesta sudah Usai
(AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

PESTA sepak bola di Amerika dan Eropa telah usai. Di Eropa, pesta yang berlangsung sebulan penuh mengantarkan Portugal sebagai juara untuk pertama kalinya. Sebelumnya di Amerika, Cile untuk kedua kalinya berturut-turut memenangi Copa America. Claudio Bravo dan kawan-kawan meng antarkan bintang sepak bola Lionel Messi pensiun tanpa mempersembahkan satu pun gelar internasional untuk Argentina.

Di Indonesia kita juga baru melaksanakan ‘pesta’. Pada 6 Juli kita sama-sama merayakan Idul Fitri. Perayaan hari kemenangan tahun ini sayangnya diwarnai peristiwa mengenaskan ketika pemudik harus terjebak kemacetan sampai ada yang 51 jam di pintu Tol Brebes. Kejadian yang diolok-olok sebagai ‘Brexit’ itu menyebabkan 12 pemudik meninggal dunia karena dehidrasi dan kelelahan.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Inggris ketika Perdana Menteri David Cameron mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada perempuan tokoh politik, Theresa May, karena kepemimpinannya dianggap lemah, di Indonesia kejadian luar biasa seperti itu tidak menggerakkan pemimpin untuk meminta maaf. Seorang menteri sempat tidak memercayai pemudik bisa meninggal karena terjebak kemacetan.

Setelah pesta usai, waktunya bagi kita untuk berbenah diri. Banyak hal yang harus kita kerjakan. Ketidakpastian yang harus kita hadapi sangatlah besar. Dibutuhkan kecerdasan untuk bisa merumuskan kebijakan secara tepat. Para pemimpin Eropa sedang merumuskan langkah paling elegan untuk mengantarkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Cameron sendiri tidak tahu bagaimana cara Inggris keluar dari Uni Eropa dan konsekuensinya bagi perekonomian Inggris.

May yang mulai Rabu ini menjadi perempuan perdana menteri pertama Inggris setelah Margaret Thatcher secara diplomatis mengatakan keputusan rakyat harus dilaksanakan. Kepelikan sebenarnya juga sedang kita hadapi. Perekonomian kita menghadapi gerakan spiral ke bawah. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menyebabkan kredit bermasalah meningkat. Kredit macet menyebabkan kredit perbankan menjadi seret. Tersendatnya arus kredit membuat dunia usaha kesulitan mengelola perusahaan. Turunnya keuntungan dunia usaha menyebabkan penerimaan pajak negara menurun. Penurunan penerimaan pajak menyebabkan belanja pemerintah berkurang dan akibatnya pertumbuhan melambat.

Tantangan pemerintah ialah bagaimana memutuskan lingkaran setan ini. Kita membutuhkan pemikiran terobosan seperti pernah dilakukan Menteri Keuangan Boediono saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Ketika itu anggaran negara tertekan karena lebih dari 30% habis untuk membayar cicilan utang negara. Akibatnya, negara tidak memiliki ruang untuk membangun. Menkeu Boediono ketika itu keluar dengan terobosan melakukan reprofiling utang negara, yakni menata ulang waktu pembayaran utang. Langkah itu membuat APBN menjadi lebih realistis dan kita memiliki ruang untuk melaksanakan pembangunan.

Era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menikmati hasil terobosan Menkeu Boediono di saat pertumbuhan ekonomi bisa menembus 6%. Kecerdasan seperti itulah yang kita butuhkan sekarang. Kita tidak bisa mengatakan kondisi yang kita hadapi ini rapopo. Kalau tidak bisa diputus, lingkaran setan ini akan memengaruhi kredibilitas APBN dan kepercayaan kepada pemerintah.

Kita harus mau berpikir keras. Tantangan yang kita hadapi harus dijawab dengan kebijakan terencana dan terukur. Kita harus sadar persoalan ini bukan disebabkan persoalan di dalam negeri, tetapi faktor global. Oleh karena itu, faktor ketidakpastian semakin tinggi karena banyak hal yang tidak ada dalam pengendalian kita.

Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati sering mengingatkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Kita membutuhkan good planning, kedua harus ada good execution, dan terakhir yang tidak kalah menentukan ialah good luck. Hanya dengan kesungguhan, semua persoalan yang sedang kita hadapi akan bisa diselesaikan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima