Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PESTA sepak bola di Amerika dan Eropa telah usai. Di Eropa, pesta yang berlangsung sebulan penuh mengantarkan Portugal sebagai juara untuk pertama kalinya. Sebelumnya di Amerika, Cile untuk kedua kalinya berturut-turut memenangi Copa America. Claudio Bravo dan kawan-kawan meng antarkan bintang sepak bola Lionel Messi pensiun tanpa mempersembahkan satu pun gelar internasional untuk Argentina.
Di Indonesia kita juga baru melaksanakan ‘pesta’. Pada 6 Juli kita sama-sama merayakan Idul Fitri. Perayaan hari kemenangan tahun ini sayangnya diwarnai peristiwa mengenaskan ketika pemudik harus terjebak kemacetan sampai ada yang 51 jam di pintu Tol Brebes. Kejadian yang diolok-olok sebagai ‘Brexit’ itu menyebabkan 12 pemudik meninggal dunia karena dehidrasi dan kelelahan.
Berbeda dengan apa yang terjadi di Inggris ketika Perdana Menteri David Cameron mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada perempuan tokoh politik, Theresa May, karena kepemimpinannya dianggap lemah, di Indonesia kejadian luar biasa seperti itu tidak menggerakkan pemimpin untuk meminta maaf. Seorang menteri sempat tidak memercayai pemudik bisa meninggal karena terjebak kemacetan.
Setelah pesta usai, waktunya bagi kita untuk berbenah diri. Banyak hal yang harus kita kerjakan. Ketidakpastian yang harus kita hadapi sangatlah besar. Dibutuhkan kecerdasan untuk bisa merumuskan kebijakan secara tepat. Para pemimpin Eropa sedang merumuskan langkah paling elegan untuk mengantarkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Cameron sendiri tidak tahu bagaimana cara Inggris keluar dari Uni Eropa dan konsekuensinya bagi perekonomian Inggris.
May yang mulai Rabu ini menjadi perempuan perdana menteri pertama Inggris setelah Margaret Thatcher secara diplomatis mengatakan keputusan rakyat harus dilaksanakan. Kepelikan sebenarnya juga sedang kita hadapi. Perekonomian kita menghadapi gerakan spiral ke bawah. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menyebabkan kredit bermasalah meningkat. Kredit macet menyebabkan kredit perbankan menjadi seret. Tersendatnya arus kredit membuat dunia usaha kesulitan mengelola perusahaan. Turunnya keuntungan dunia usaha menyebabkan penerimaan pajak negara menurun. Penurunan penerimaan pajak menyebabkan belanja pemerintah berkurang dan akibatnya pertumbuhan melambat.
Tantangan pemerintah ialah bagaimana memutuskan lingkaran setan ini. Kita membutuhkan pemikiran terobosan seperti pernah dilakukan Menteri Keuangan Boediono saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Ketika itu anggaran negara tertekan karena lebih dari 30% habis untuk membayar cicilan utang negara. Akibatnya, negara tidak memiliki ruang untuk membangun. Menkeu Boediono ketika itu keluar dengan terobosan melakukan reprofiling utang negara, yakni menata ulang waktu pembayaran utang. Langkah itu membuat APBN menjadi lebih realistis dan kita memiliki ruang untuk melaksanakan pembangunan.
Era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menikmati hasil terobosan Menkeu Boediono di saat pertumbuhan ekonomi bisa menembus 6%. Kecerdasan seperti itulah yang kita butuhkan sekarang. Kita tidak bisa mengatakan kondisi yang kita hadapi ini rapopo. Kalau tidak bisa diputus, lingkaran setan ini akan memengaruhi kredibilitas APBN dan kepercayaan kepada pemerintah.
Kita harus mau berpikir keras. Tantangan yang kita hadapi harus dijawab dengan kebijakan terencana dan terukur. Kita harus sadar persoalan ini bukan disebabkan persoalan di dalam negeri, tetapi faktor global. Oleh karena itu, faktor ketidakpastian semakin tinggi karena banyak hal yang tidak ada dalam pengendalian kita.
Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati sering mengingatkan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Kita membutuhkan good planning, kedua harus ada good execution, dan terakhir yang tidak kalah menentukan ialah good luck. Hanya dengan kesungguhan, semua persoalan yang sedang kita hadapi akan bisa diselesaikan.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved