Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA pekan lalu saya mendapat undangan menghadiri World Journalist Forum di Seoul, Korea Selatan. Ada 100 wartawan dari 60 negara di seluruh dunia diundang hadir pada acara yang ketiga kalinya diselenggarakan di Korsel.
Sebagai tuan rumah, wajar bila kepentingan Korsel masuk agenda. Agenda pertama tentang ketegangan yang masih berlanjut di Semenanjung Korea.
Pemerintah Korea berharap pers internasional ikut terus menyuarakan dan mendorong tercapainya rekonsiliasi di antara dua bangsa bersaudara itu.
Setelah sehari penuh melakukan konferensi, para wartawan diajak melihat Korea. Dengan menggunakan empat bus buatan Korea, para peserta diajak jalan-jalan ke Daegu dan Busan.
Kebetulan di Daegu sedang berlangsung World Water Forum, pertemuan dunia untuk membahas ketersediaan air untuk umat manusia.
Berbagai pembangunan yang dilakukan di Korea diperkenalkan kepada para wartawan. Mulai pembangunan monorel di Daegu sampai penataan kawasan kumuh menjadi Kampung Budaya di Busan. Intinya, mereka ingin menyampaikan inilah Korea dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya.
Dengan mengundang para wartawan, informasi tentang Korea diharapkan bisa tersebar ke seluruh dunia. Prinsip yang ingin mereka terapkan seeing is believing. Dengan orang melihat langsung, informasi akan semakin dekat dengan fakta.
Saya melihat cerdasnya bangsa Korea dalam mempromosikan diri. Memang tidak murah untuk mengundang 100 wartawan dari 60 negara. Namun, tidak ada makan siang gratis.
Jika kita ingin mengundang orang untuk datang ke negeri kita, kita harus berani mempromosikan diri. Kita lihat bagaimana pemerintahan Joko Widodo ingin mendorong pariwisata.
Tidak masuk akal Indonesia yang begitu kaya dengan alam dan budaya setiap tahun hanya dikunjungi 8 juta turis asing. Singapura yang kecil saja mampu mendatangkan turis di atas 20 juta tiap tahun.
Jangan bandingkan dengan Spanyol yang turisnya mencapai 80 juta atau Amerika Serikat yang bisa mencapai 200 juta turis tiap tahun.
Pemerintah belum lama ini mengeluarkan kebijakan memberikan bebas visa kepada 30 negara. Namun, itu tidak otomatis mendorong warga di ke-30 negara tersebut mau datang ke Indonesia. Tetap perlu promosi untuk memperkenalkan Indonesia karena tidak semua orang mengenal Nusantara.
Di sinilah kita perlu belajar dari bangsa lain. Bagaimana mereka cerdas dalam mengemas acara sebagai sarana promosi. Mereka tidak pernah tanggung-tanggung mengeluarkan anggaran. Promosi bukanlah biaya, melainkan investasi.
Kalau kita ingin menangkap paus, tidak mungkin kita menggunakan teri sebagai umpan. Kita harus berani menggunakan tuna. Beban biaya tidak harus ditanggung satu lembaga. Seperti yang dilakukan Korea, bus disediakan KIA Motors. Makan ditanggung bersama oleh Pemerintah Kota Seoul, Daegu, dan Busan.
Perjalanan pulang dengan menggunakan kereta api cepat ditanggung Korea Railroad Corporation. Semua dikoordinasikan dan dilakukan untuk kepentingan ekonomi Korea. Kita sering menyebutkan 'Indonesia Incorporated'. Namun, begitu sulit berkoordinasi.
Sulit bagi kita saling mendukung dan bekerja sama demi kemajuan Indonesia. Selalu ada pertanyaan 'Mengapa dia?' dan 'Bukan saya'. Kita membutuhkan momentum untuk membalikkan kondisi ekonomi yang sedang lesu. Pariwisata salah satu yang bisa mendorong pembalikan perekonomian bangsa ini.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved