Momok Brexit

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
05/7/2016 06:00
Momok Brexit
(ANTARA/ROSA PANGGABEAN)

ADA yang mengamsalkan mudik di Indonesia serupa tawaf raksasa.

Ada yang mempersamakan mudik seperti wisata mahakolosal.

Ada pula yang mengatakan mudik ialah migrasi manusia terbesar di dunia.

Dari yang menempuh ratusan hingga ribuan kilometer.

Perjalanan panjang yang kerap menantang maut. Mudik pun menjadi urusan semua orang.

Namun, apa pun perumpamaan itu, para pemberi istilah ingin mengatakan betapa besar arus pergerakan manusia, utamanya dari kota ke desa.

Ada yang memperkirakan sekitar 20-25 juta manusia melakukan migrasi musiman Idul Fitri kali ini.

Jumlah yang luar biasa, setara dengan jumlah penduduk Malaysia.

Almarhum Umar Kayam sampai tak tahu pasti melihat fenomena mudik yang kian menjadi kebutuhan dan karenanya kian 'mentradisi' itu.

Menurut sosiolog itu, mudik Lebaran serupa menjalani ritus yang tidak jelas apakah suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya.

Keunikan itu justru tak terjadi di Timur Tengah.

Di saat Idul Fitri, kampung halaman serupa ibu yang memanggil anak-anaknya di mana pun untuk segara pulang.

Saya kira, mudik gabungan dari berbagai kemungkinan fenomena yang disebutkan Kayam itu, plus fenomena ekonomi.

Membaiknya perekonomian masyarakat secara umum menjadikan mudik kian menjadi kebutuhan.

Bahkan, mencermati pemudik dengan perlengkapannya, mudik seperti gaya hidup juga.

Idul Fitri tanpa mudik serupa manusia tak berasal usul, alias tercerabut dari lokus kulturalnya.

Udik menjadi tempat yang harus didekati. Ia keren!

Wajarlah jika ada sebuah perkiraan sekitar Rp125 triliun fulus dibelanjakan untuk urusan mudik dan Idul Fitri 2016.

Angka yang fantastis, setara seluruh uang yang dibelanjakan berkaitan hajatan politik bernama Pemilu 2014.

Tak kurang, 158 ribu petugas dari kepolisian, tentara, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, dikerahkan agar mudik aman dan nyaman, dalam kemasan 'Operasi Ramadniya'.

Tak berlebihan jika Google pun turut merayakan tradisi mudik. Senin (4/7) ia memajang doodle khusus di laman pencariannya tentang mudik.

Doodle ini berupa gambar ilustrasi beberapa orang yang bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman.

Mereka membawa kotak berhuruf G, O, O, G, L, E.

Mudik pun menjadi salah satu parameter penting mengukur kinerja pemerintah.

Mudik yang kacau, infrastruktur yang tak memadai, kemacetan yang terus terjadi, dan tingginya angka kecelakaan akan menjadi catatan buruk kinerja pemerintah.

Memang secara umum, ada perbaikan manajemen mudik kali ini.

Presiden Jokowi beberapa kali terjun ke lapangan memastikan mudik kali ini benar-benar aman.

Karena itu, kemacetan berjam-jam di Brebes Timur, masyarakat menamainya 'Brexit' (Brebes exit), menjadi noda dari seluruh keseriusan pemerintah.

Bayangkan, untuk Jakarta-Wangon, Banyumas, yang berjarak 400 km, pemudik harus menempuh lebih dari 40 jam.

Kemacetan itu menjadi ironi justru ketika Tol Cipali telah diresmikan dan menyusul peresmian Tol Pejagan-Brebes Timur pertengahan bulan lalu.

Brebes Timur kali ini menjadi momok bagi para pemudik lintas tengah dan pantura.

Padahal, itu sesuatu yang bisa diprediksi dan diantisipasi, yakni bertemunya jalur tol dan ruas pantura dengan kondisi jalan yang lebih sempit.

Mudik aman dan nyaman ialah hak masyarakat. Kewajiban pemerintah menyediakan infrastruktur dan penjagaan memadai.

Tanpa mengurangi penghargaan pada pemerintah yang berupaya maksimal melayani mudik, kemacetan di Brebes jauh dari rasa nyaman itu.

Tidak hanya waktu habis di jalan, tapi juga fisik, psikis, dan dana.

Kemacetan di Brebes, sungguh, sebuah gerak mundur kehendak perbaikan pelayanan mudik.

Ia luput dari seluruh kalkulasi antisipasi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima