Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA yang mengamsalkan mudik di Indonesia serupa tawaf raksasa.
Ada yang mempersamakan mudik seperti wisata mahakolosal.
Ada pula yang mengatakan mudik ialah migrasi manusia terbesar di dunia.
Dari yang menempuh ratusan hingga ribuan kilometer.
Perjalanan panjang yang kerap menantang maut. Mudik pun menjadi urusan semua orang.
Namun, apa pun perumpamaan itu, para pemberi istilah ingin mengatakan betapa besar arus pergerakan manusia, utamanya dari kota ke desa.
Ada yang memperkirakan sekitar 20-25 juta manusia melakukan migrasi musiman Idul Fitri kali ini.
Jumlah yang luar biasa, setara dengan jumlah penduduk Malaysia.
Almarhum Umar Kayam sampai tak tahu pasti melihat fenomena mudik yang kian menjadi kebutuhan dan karenanya kian 'mentradisi' itu.
Menurut sosiolog itu, mudik Lebaran serupa menjalani ritus yang tidak jelas apakah suatu keajaiban fenomena agama, fenomena sosial, atau fenomena budaya.
Keunikan itu justru tak terjadi di Timur Tengah.
Di saat Idul Fitri, kampung halaman serupa ibu yang memanggil anak-anaknya di mana pun untuk segara pulang.
Saya kira, mudik gabungan dari berbagai kemungkinan fenomena yang disebutkan Kayam itu, plus fenomena ekonomi.
Membaiknya perekonomian masyarakat secara umum menjadikan mudik kian menjadi kebutuhan.
Bahkan, mencermati pemudik dengan perlengkapannya, mudik seperti gaya hidup juga.
Idul Fitri tanpa mudik serupa manusia tak berasal usul, alias tercerabut dari lokus kulturalnya.
Udik menjadi tempat yang harus didekati. Ia keren!
Wajarlah jika ada sebuah perkiraan sekitar Rp125 triliun fulus dibelanjakan untuk urusan mudik dan Idul Fitri 2016.
Angka yang fantastis, setara seluruh uang yang dibelanjakan berkaitan hajatan politik bernama Pemilu 2014.
Tak kurang, 158 ribu petugas dari kepolisian, tentara, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, dikerahkan agar mudik aman dan nyaman, dalam kemasan 'Operasi Ramadniya'.
Tak berlebihan jika Google pun turut merayakan tradisi mudik. Senin (4/7) ia memajang doodle khusus di laman pencariannya tentang mudik.
Doodle ini berupa gambar ilustrasi beberapa orang yang bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman.
Mereka membawa kotak berhuruf G, O, O, G, L, E.
Mudik pun menjadi salah satu parameter penting mengukur kinerja pemerintah.
Mudik yang kacau, infrastruktur yang tak memadai, kemacetan yang terus terjadi, dan tingginya angka kecelakaan akan menjadi catatan buruk kinerja pemerintah.
Memang secara umum, ada perbaikan manajemen mudik kali ini.
Presiden Jokowi beberapa kali terjun ke lapangan memastikan mudik kali ini benar-benar aman.
Karena itu, kemacetan berjam-jam di Brebes Timur, masyarakat menamainya 'Brexit' (Brebes exit), menjadi noda dari seluruh keseriusan pemerintah.
Bayangkan, untuk Jakarta-Wangon, Banyumas, yang berjarak 400 km, pemudik harus menempuh lebih dari 40 jam.
Kemacetan itu menjadi ironi justru ketika Tol Cipali telah diresmikan dan menyusul peresmian Tol Pejagan-Brebes Timur pertengahan bulan lalu.
Brebes Timur kali ini menjadi momok bagi para pemudik lintas tengah dan pantura.
Padahal, itu sesuatu yang bisa diprediksi dan diantisipasi, yakni bertemunya jalur tol dan ruas pantura dengan kondisi jalan yang lebih sempit.
Mudik aman dan nyaman ialah hak masyarakat. Kewajiban pemerintah menyediakan infrastruktur dan penjagaan memadai.
Tanpa mengurangi penghargaan pada pemerintah yang berupaya maksimal melayani mudik, kemacetan di Brebes jauh dari rasa nyaman itu.
Tidak hanya waktu habis di jalan, tapi juga fisik, psikis, dan dana.
Kemacetan di Brebes, sungguh, sebuah gerak mundur kehendak perbaikan pelayanan mudik.
Ia luput dari seluruh kalkulasi antisipasi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved