Perekat Bangsa

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group
04/7/2016 06:06
Perekat Bangsa
(MI/Arya Manggala)

PRANGKO saja butuh perekat, apalagi anak bangsa ini.

Mudik ialah perekat kuat: kembali ke komunitas, ke pangkuan keluarga besar, ke akar-akar kultural.

Untuk 'kembali', dari mana pun dan ke mana pun, memerlukan daya dorong dan daya tarik.

Mudik melampaui semua kalkulasi rasional dan irasional, melampaui apa pun daya tarik dan daya dorong yang beroperasi dalam pengambilan keputusan untuk mudik.

Apa pun moda yang dipilih, bersepeda motor pulang kampung hingga membayar ongkos pesawat terbang yang melangit, semuanya abnormal yang normal.

Di dalam kebahagiaan bermudik, tidak ada perjalanan yang terlalu berat, tidak ada ongkos yang terlalu mahal.

Mudik bukan lagi cuma urusan personal, urusan puak, bukan pula semata urusan antarprovinsi, antarpulau, yang diwakili ekspresi mayoritas penduduk, 'pulang ke Jawa'.

Mudik tentu tanggung jawab kepublikan pemerintah agar fasilitas kepublikan bagi warga terselenggara saksama.

Sebaliknya, dengan mudik, sesungguhnya warga merajut nasion, merawat bangsa.

Bangsa di situ dalam pengertian Benedict Anderson, yaitu 'bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas, yang selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yang masuk mendalam dan melebar-mendatar'.

Sesuatu yang terbayang, katanya, karena sekalipun tak kenal, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka, tetapi toh di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.

Hemat saya, komunitas terbayang itu rasanya sempurna dalam jutaan orang anak bangsa yang mudik itu.

Indonesia menjadi negara bukan hasil pemberian.

Ia hasil perjuangan fisik berdarah dan diplomasi alot tangguh.

Akan tetapi, negara bisa pecah, menjadi bagian-bagian terpisah, terbelah, apabila perekat tidak berkelanjutan dibela dan diperkaya.

Apakah negara hadir di kampung halaman? Jawaban positif bakal menjadi cerita pembawa optimisme, bahwa hidup berbangsa bernegara jauh lebih baik, terasa sampai nun jauh di gunung dan di lembah.

Ketika mudik, perlulah warga menyempatkan diri sejenak untuk merasakan kemajuan kampung halaman.

Apakah perubahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi bermanfaat bagi warga?

Apakah pula maslahat pemekaran wilayah? Bagi kandidat calon kepala daerah yang bakal menjalani pilkada serentak, Februari mendatang, kiranya berguna mendengarkan opini dan persepsi tokoh warga perantau yang mudik, terlebih yang telah melanglang buana.

Di tengah keluarga pun biasanya terjadi perbincangan perihal kinerja petahana, serta siapa yang favorit dalam penilaian mereka.

Bahkan, siapa tahu ada yang kelak layak memimpin Indonesia.

Kian padat arus mudik, kian hebat sebuah nasion/bangsa direkatkan dalam penghormatan yang tinggi kepada akar-akar budaya.

Mudik salah satu energi kehidupan yang diekspresikan setahun sekali, merajut dan merawat kebersamaan, yang sehari-hari cuma tersambung via pesan pendek.

Menikmati kembali riuh rendah tawa keluarga, menelusuri lanskap sosial, memelihara perekat, kiranya romantisme yang tidak pernah terlalu mahal untuk diganjar dengan semua THR.

THR kecil, THR besar, sama-sama habis, sama-sama saling memaafkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima