Angin Depan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
29/6/2016 05:31
Angin Depan
(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

PADA saat menyampaikan proyeksi ekonomi 2015, Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung mengingatkan tantangan berat ekonomi. Apabila sebelumnya ki ta mendapatkan angin buritan (tail wind) yang mendorong laju pertumbuhan, mulai 2015 kita harus menghadapi angin depan (head wind). Peringatan yang disampaikan menjelang pergantian pemerintahan semula dianggap hanya menakut-nakuti.

Kehadiran pemimpin baru, yang oleh majalah Time dikatakan sebagai ‘New Hope’, membuat kita yakin angin depan tidak akan terlalu menghambat. Kini kita harus mengatakan peringatan Chairul Tanjung itu ternyata benar. Turbulensi ternyata benar-benar luar biasa. Perlambatan perekonomian dunia membuat perdagangan menurun tajam. Faktor pemicu pun silih berganti, mulai krisis di Yunani hingga di Brasil.

Belum lagi krisis-krisis itu tertangani secara tuntas, muncul tantangan baru pada Jumat (24/6) lalu. Bangsa Inggris akhirnya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (UE). Sebanyak 52% masyarakat Inggris Raya menjatuhkan pilihan untuk keluar dari Uni Eropa dan hanya 48% memilih tetap bergabung dalam ‘Eropa Raya’. Keputusan rakyat Inggris itu mengguncang dunia.

Setidaknya respons ekonomi mereka sangat negatif. Nilai ma ta uang Inggris, pound sterling, turun 10% ke tingkat terburuk sejak 1985. Semua pasar modal dunia pun terguncang. Itu dapat dilihat di antaranya pada indeks Dow Jones yang terkoreksi 650 poin dalam satu hari atau menghapus semua capaian sepanjang 2016. Bank Sentral AS sudah melakukan stress test, khususnya dalam menghadapi kondisi paling buruk. Setidaknya ada tiga bank besar, Well Fargo, Bank of America, dan JP Morgan-Chase, yang akan terpukul keuntungan mereka meski tidak sampai krisis.

Semua negara tidak ada yang berani untuk menganggap enteng dampak dari Brexit karena pengaruh politiknya tidaklah kecil. Di Inggris Raya sendiri, Skotlandia dan Irlandia Utara yang menginginkan tetap bergabung dengan UE mulai memikirkan untuk memisahkan diri. Sebaliknya, bagi kelompok ultranasionalis, Brexit memunculkan sentimen bubarnya UE. Setidaknya tokoh ultranasionalis Prancis Marie Le Pen dan Belanda Geert Wilders mulai menyuarakan referendum.

Isu Brexit sendiri dipicu perbedaan kelas. Besarnya arus imigran yang setiap tahun mencapai 300 ribu orang dan kaum eksekutif yang hanya memikirkan diri sendiri dengan melupakan kesejahteraan buruh membuat kelas bawah Inggris merasa tidak sejahtera. Apalagi kebijakan UE selalu menekankan pengetatan dan kehati-hatian sehingga membuat pengangguran semakin meningkat. Sikap yang lebih mementingkan diri sendiri akan meningkatkan proteksionisme di dunia. Hal itu mengganggu kelancaran perdagangan dan akan semakin menyulitkan dunia keluar dari perlambatan ekonomi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima