Istiqlal

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/6/2016 06:00
Istiqlal
(ANTARA/ROSA PANGGABEAN)

ARAH dan gerak Masjid Istiqlal kini ada di tangan Nasaruddin Umar.

Ia imam besar Masjid Istiqlal yang baru, periode 2016-2020, menggantikan almarhum KH Ali Mustafa Yaqub.

Di tangannya masjid negara terbesar di Asia Tenggara itu akan kian punya gema atau sebaliknya.

Banyak kalangan berharap Istiqlal menjadi episentrum ibadah, dakwah, dan pemikiran Islam yang benar-benar merepresentasikan Islam sebagai rahmatan lil'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).

Ada alasan betapa pentingnya Nasaruddin menjadikan Istiqlal sebagai perekat umat.

Aksi terorisme yang bertubi-tubi, meskipun berkali-kali pula dibantah itu bukan representasi Islam, sulit membebaskan persepsi identifikasi Islam dengan kekerasan.

Sementara itu, di dalam negeri, survei UNDP dan Kementerian Agama (2013), misalnya, menunjukkan indeks toleransi beberapa daerah yang religiositas mereka dinilai tinggi justru memburuk.

Nasaruddin, mantan wakil menteri agama di masa Susilo Bambang Yudhoyono, tak hanya dikenal sebagai intelektual muslim moderat, tapi juga punya praktik keberagamaan amat tertib.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu juga sosok yang melintasi aneka mazhab.

Ahli tasawuf itu dikenal sebagai muslim yang tawadu, tenang, dan dalam pemahaman ilmunya.

epatlah ia menjadi imam besar masjid yang merupakan simbol persatuan umat Islam Indonesia.

Ia memang terobsesi pada fungsi masjid di masa Nabi Muhammad, yakni tempat berbagai aktivitas kerohanian dan nonkerohanian.

Ia ingin Istiqlal, yang berarti kemerdekaan, menjadi perekat bangsa dan tak dimonopoli kalangan atau mazhab tertentu.

Nasaruddin bercerita, di masa nabi, masjid punya fungsi spiritual, sosial, dan kultural.

Ia ingin Istiqlal serupa madrasah, diramaikan kajian-kajian intelektual.

Masjid tak hanya jadi tempat sunyi umat berserah diri kepada-Nya, tetapi juga tempat ramai pertukaran pikiran.

"Silakan saudara kita dari NU, Muhammadiyah, dan kalangan lainnya menjadikan Istiqlal masjid kita bersama. Silakan beribadah di sini," kata Nasaruddin seperti dikutip Media Indonesia (17/6).

Masjid Nabawi, masjid kedua yang dibangun Muhammad di Madinah, selain sebagai tempat ibadah, berfungsi sebagai rumah sakit, 'rumah tahanan' Perang Badar, dan tempat pengadilan.

Masjid Nabawi juga menjadi tempat pertemuan lintas agama.

Ia mengisahkan Nabawi pernah kedatangan tamu rombongan kaum Nasrani bersilaturahim dan Muhammad menyambut mereka dengan dengan tangan terbuka.

Mereka dipersilakan melakukan kebaktian di halaman masjid ketika tiba waktu ibadah mereka. Keteladanan ini mestinya tak lekang oleh waktu.

Semestinya masjid menjadi rumah Tuhan, membuat damai siapa pun.

Sudah semestinya pula Istiqlal bisa menjembatani hubungan antara ulama dan umara, antara pemerintah dan masyarakat, termasuk kelompok yang berbeda aliran.

Istiqlal, mestinya pula, lokus untuk saling membangun kebajikan.

Sebagai masjid negara yang terletak di Ibu Kota dan kerap menerima tamu agung dari berbagai bangsa, Istiqlal ialah etalase umat Islam di Indonesia.

Di masjid yang dibangun sejak 1950-an berdasarkan gambar arsitek Frederich Silaban, sang pemenang lomba, wajah Islam Indonesia menjadi impresi pertama yang akan dikabarkan kepada dunia.

Secara fisik Masjid Istiqlal yang berhadapan dengan Gereja Katedral mestinya sebuah cerita yang tak perlu banyak penjelasan.

Kita menunggu di bawah Imam Besar Nasaruddin Umar, Istiqlal tak hanya menjadi perekat umat di Indonesia, tetapi juga menjadi model kerukunan muslim dunia.

Kerukunan yang kini terasa melisut.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima