Blunder

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
27/6/2016 06:00
Blunder
(AFP/Rob Bodman)

SETELAH kemenangan Brexit melalui referendum, David Cameron mengundurkan diri dari jabatan PM Inggris disertai berbagai penilaian buruk.

Bahkan, sangat buruk buat biografi seorang tokoh yang telah dua kali menjabat PM.

Ada yang menyebut ia melakukan blunder, kesalahan besar dalam sejarah.

Hanya dalam referendum 11 jam pada 23 Juli 2016, upaya panjang 60 tahun lebih membangun kebersamaan dalam Uni Eropa copot seketika.

Ada yang menilainya sebagai penjudi kalah.

Penjudi menang kiranya dapat dimaafkan oleh sejarah.

Penjudi kalah?

Tanpa pengampunan secuil pun.

Mempertaruhkan pilihan warga atas 'yes' atau 'no' terhadap kompleksitas masalah kenegaraan yang berdampak sangat jauh jelaslah sebuah perjudian terbesar seorang perdana menteri.

Cameron bukan orang bodoh.

Ia pemimpin yang berhasil mengemudikan negaranya mengatasi krisis finansial.

Kenapa ia berjudi?

Jawabnya, karena ia terpenjara kemenangan demi kemenangan.

Kemenangan dikira membawa kemenangan baru.

Padahal, tidak selalu, bahkan tidak ada jaminan.

Kemenangan referendum pertama mengenai cara memilih anggota parlemen pada 5 Mei 2011.

Kemenangan kedua, 18 September 2014, referendum untuk menjawab 'yes' atau 'no' terhadap independensi Skotlandia.

Yang menang, jawaban 'no' (55,3%), menolak Skotlandia keluar dari Inggris Raya.

Cameron kalah berjudi karena banyak warga yang suaranya ditengarai putus dengan elite politik.

Bertambah celaka, pendukung pilihan agar Inggris tetap bersama Uni Eropa tidak menggarap mereka.

Penilaian paling kejam, Cameron telah merampas masa depan orang muda Inggris.

Kemenangan Brexit, kemenangan kaum tua, kekalahan warga kota berusia muda, yang berpendikan lebih baik.

Pendukung Brexit 40% berusia di atas 65 tahun.

Sebaliknya, 73% warga yang berumur 18-24 tahun memilih tetap bersama Uni Eropa.

Yang pasti, kemenangan Brexit lebih merupakan kemenangan koran the Sun dan the Daily Mail, serta Boris Johnson, mantan Wali Kota London, yang sangat bernafsu menjadi PM Inggris, menggantikan Cameron, sang pecundang.

Sanggupkah Johnson mengemudikan Inggris?

Ia dinilai tak punya jawaban, apakah model Norwegia, Swiss, atau Albania yang bakal digunakan Inggris setelah keluar dari Uni Eropa.

Bahkan, ada yang memandangnya 'kecil'. B

eban dan tanggung jawab sebagai Wali Kota London dinilai hanya urusan 'sambilan' (part time) jika dibandingkan dengan urusan raksasa memimpin Inggris setelah Brexit.

Di tengah banyak yang kecewa, antara lain Barack Obama, yang paling gembira kiranya ialah Donald Trump.

Bahkan, ada yang meramalkan Brexit berdampak bagi kemenangannya menjadi Presiden AS.

Rakyat Inggris telah memilih.

Hal yang bukan mustahil diikuti negara lain, apabila setelah bercerai, Inggris berhasil membuktikan kejayaan mereka.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.