Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNYATAAN Menteri Perdagangan Thomas Lembong dikutip menjadi judul berita beberapa surat kabar. Menteri Perdagangan mengakui ketidakmampuan dalam mengendalikan harga bahan kebutuhan pokok disebabkan kelemahan pada kinerja pemerintahan. Pengakuan itu jujur.
Dengan menyadari kelemahan yang ada, lalu kita akan mau melihat ke dalam dan memperbaiki sistem yang tidak berjalan.
Jangan terus berkutat mencari kambing hitam dan lupa menyelesaikan akar persoalan. Selama ini kita mudah untuk menuduh adanya mafia. Sejak zaman Orde Baru kalau ada ketidakberesan, lalu kita ramai-ramai menyebut ada mafia.
Padahal, mafia itu ada di wilayah remang-remang dan tidak pernah bisa diidentifikasi. Kita tentu tidak menutup ada peran kelompok itu dalam mendistorsi pasar. Namun, mereka hadir karena ada kesenjangan antara permintaan dan pasokan. Kelompok ini murni pedagang yang mengambil untung dengan membeli komoditas murah di negara surplus produksi dan menjual mahal di Indonesia yang kekurangan pasokan.
Kenikmatan dari berdagang komoditas membuat mereka berkolusi dengan pejabat untuk tidak perlu memikirkan sisi produksi. Toh masyarakat lebih mementingkan ketersediaan kebutuhan pokok. Tidak peduli bahan pangan yang mereka konsumsi berasal dari impor atau produksi dalam negeri. Banyak pejabat pun puas melihat neraca perdagangan.
Sepanjang masih surplus dianggap semua masih aman-aman saja. Tidak pernah mau mencoba melihat bagaimana postur neraca industri atau neraca pertanian. Padahal, jauh lebih penting dari perdagangan ialah produksi. Apalagi untuk sektor pertanian. Tidak satu pun negara yang tidak memikirkan sektor pertanian.
Termasuk negara di Timur Tengah yang lingkungannya ekstrem, mereka memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Kalau kita melihat negara-negara Eropa Barat, kita pasti kagum dengan cara mereka mengelola lahan yang mereka miliki. Mereka memang telah menjadi negara industri maju, tetapi sebagian besar lahan yang ada diperuntukkan pertanian.
Sepanjang mata memandang yang kita lihat begitu keluar kota ialah daerah-daerah pertanian. Petani tidak kalah terhormat jika dibandingkan dengan industrialis. Pemerintah memberi insentif dengan harga yang memungkinkan petani untuk mau terus menggeluti profesi dan mempertahankan lahan mereka.
Tugas pemerintah bukan membuat kebijakan pangan murah, melainkan harga wajar yang memungkinkan petani terdorong untuk meningkatkan produksi dan masyarakat umum pun mampu untuk membelinya. Ketika produksi dalam negeri mencukupi, tidak mungkin ada ruang bagi para mafia untuk bisa mendistorsi, apalagi jika pemerintah mampu membangun sistem informasi harga yang bisa membuat petani lebih berdaya untuk menentukan kapan dan dengan harga berapa produk yang dihasilkan itu dijual.
Dengan sistem nformasi itu, masyarakat pun tahu pergerakan harga bahan kebutuhan pokok tanpa harus panik. Kita tidak pernah mengelola sumber daya alam yang kita miliki secara benar. Rencana tata ruang wilayah tidak pernah bisa ditetapkan. Akibatnya, alih fungsi lahan berlangsung secara masif. Kita tidak tahu lagi mana yang sebenarnya wilayah permukiman, wilayah industri, dan wilayah pertanian.
Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Itu disebabkan orientasi hidup kita sepenuhnya hanya kepada materi. Seakan-akan kebahagiaan itu ialah ketika seseorang memiliki kekayaan yang melimpah. Kita lupa ada sebuah pelajaran yang penah diberikan bangsa Indian.
Ketika tinggal pohon terakhir yang bisa kita tebang, ketika tetes air terakhir yang bisa kita minum, dan ikan terakhir yang bisa kita makan, kita baru akan sadar bahwa manusia tidak bisa makan uang.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved