Kami tidak Becus

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/6/2016 05:31
Kami tidak Becus
(ANTARA FOTO/Ampelsa)

PERNYATAAN Menteri Perdagangan Thomas Lembong dikutip menjadi judul berita beberapa surat kabar. Menteri Perdagangan mengakui ketidakmampuan dalam mengendalikan harga bahan kebutuhan pokok disebabkan kelemahan pada kinerja pemerintahan. Pengakuan itu jujur.

Dengan menyadari kelemahan yang ada, lalu kita akan mau melihat ke dalam dan memperbaiki sistem yang tidak berjalan.
Jangan terus berkutat mencari kambing hitam dan lupa menyelesaikan akar persoalan. Selama ini kita mudah untuk menuduh adanya mafia. Sejak zaman Orde Baru kalau ada ketidakberesan, lalu kita ramai-ramai menyebut ada mafia.

Padahal, mafia itu ada di wilayah remang-remang dan tidak pernah bisa diidentifikasi. Kita tentu tidak menutup ada peran kelompok itu dalam mendistorsi pasar. Namun, mereka hadir karena ada kesenjangan antara permintaan dan pasokan. Kelompok ini murni pedagang yang mengambil untung dengan membeli komoditas murah di negara surplus produksi dan menjual mahal di Indonesia yang kekurangan pasokan.

Kenikmatan dari berdagang komoditas membuat mereka berkolusi dengan pejabat untuk tidak perlu memikirkan sisi produksi. Toh masyarakat lebih mementingkan ketersediaan kebutuhan pokok. Tidak peduli bahan pangan yang mereka konsumsi berasal dari impor atau produksi dalam negeri. Banyak pejabat pun puas melihat neraca perdagangan.

Sepanjang masih surplus dianggap semua masih aman-aman saja. Tidak pernah mau mencoba melihat bagaimana postur neraca industri atau neraca pertanian. Padahal, jauh lebih penting dari perdagangan ialah produksi. Apalagi untuk sektor pertanian. Tidak satu pun negara yang tidak memikirkan sektor pertanian.

Termasuk negara di Timur Tengah yang lingkungannya ekstrem, mereka memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Kalau kita melihat negara-negara Eropa Barat, kita pasti kagum dengan cara mereka mengelola lahan yang mereka miliki. Mereka memang telah menjadi negara industri maju, tetapi sebagian besar lahan yang ada diperuntukkan pertanian.

Sepanjang mata memandang yang kita lihat begitu keluar kota ialah daerah-daerah pertanian. Petani tidak kalah terhormat jika dibandingkan dengan industrialis. Pemerintah memberi insentif dengan harga yang memungkinkan petani untuk mau terus menggeluti profesi dan mempertahankan lahan mereka.

Tugas pemerintah bukan membuat kebijakan pangan murah, melainkan harga wajar yang memungkinkan petani terdorong untuk meningkatkan produksi dan masyarakat umum pun mampu untuk membelinya. Ketika produksi dalam negeri mencukupi, tidak mungkin ada ruang bagi para mafia untuk bisa mendistorsi, apalagi jika pemerintah mampu membangun sistem informasi harga yang bisa membuat petani lebih berdaya untuk menentukan kapan dan dengan harga berapa produk yang dihasilkan itu dijual.

Dengan sistem nformasi itu, masyarakat pun tahu pergerakan harga bahan kebutuhan pokok tanpa harus panik. Kita tidak pernah mengelola sumber daya alam yang kita miliki secara benar. Rencana tata ruang wilayah tidak pernah bisa ditetapkan. Akibatnya, alih fungsi lahan berlangsung secara masif. Kita tidak tahu lagi mana yang sebenarnya wilayah permukiman, wilayah industri, dan wilayah pertanian.

Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Itu disebabkan orientasi hidup kita sepenuhnya hanya kepada materi. Seakan-akan kebahagiaan itu ialah ketika seseorang memiliki kekayaan yang melimpah. Kita lupa ada sebuah pelajaran yang penah diberikan bangsa Indian.

Ketika tinggal pohon terakhir yang bisa kita tebang, ketika tetes air terakhir yang bisa kita minum, dan ikan terakhir yang bisa kita makan, kita baru akan sadar bahwa manusia tidak bisa makan uang.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.