Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
'SIAPA yang mengendalikan masa kini akan menguasai masa lalu. Siapa yang mengendalikan masa lalu akan menguasai masa depan', tulis sastrawan Inggris George Orwell.
Penulis novel kondang Nineteen Eighty-Four (1984), yang terbit 1949, tersebut seperti menubuat. Nujum tentang kehidupan politik yang sesak pada 1984, saat partai yang dikendalikan Bung Besar berkuasa.
Tak ada suara warga, yang ada hanya kehendak partai.
Inggris hari ini bisa jadi tak seperti dalam novel 1984 itu.
Namun, Inggris yang gemilang di masa lalu kini dianggap tak lagi menguasai masa depan.
Itu sebabnya mereka seperti bersiap merevisi masa kini, yang akan ditentukan 23 Juni.
Inilah hari yang mendebarkan, apakah Inggris tetap dalam Uni Eropa atau keluar, British exit (Brexit).
Warga Inggris di 53 negara persemakmuran seperti di India, Kanada, Afrika Selatan, dan Australia bisa ikut memilihnya.
Itulah degup kecemasan yang bermula dari sebuah janji.
Janji David Cameron, sang perdana menteri, saat kampanye tahun lalu yang ia menangi.
Saat itu politikus dari Partai Konservatif tersebut--atas desakan publik--menjanjikan sebuah referendum untuk menentukan keanggotaan Inggris di Uni Eropa.
Inilah degup kecemasan serupa yang juga pernah terjadi empat dasawarsa silam, 1975, di negeri yang kini berpenduduk 65 juta jiwa.
Pada saat itu mayoritas penduduk Inggris tanpa ragu memilih bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa, komunitas yang menjadi embrio dibentuknya Uni Eropa.
Dulu yang membawa Inggris ke dalam Uni Eropa ialah Edward Heath, politikus terkenal Partai Konservatif.
Kini dari partai itu pula, Cameron justru menjanjikan jajak pendapat untuk menentukan status mereka di Uni Eropa.
Janji yang serupa belati, berpotensi menikam diri sendiri.
Kepanikan pemerintahan Cameron memang kian tak bisa ditutup-tutupi.
Terlebih kini Inggris tengah menghadapi gelombang pengungsi yang tak mungkin bisa diselesaikan sendiri.
"Keamanan Inggris dan kawasan terancam jika kekuatan militer terbesar di Eropa keluar dari Uni Eropa," kata sang perdana menteri dalam pidato 10 Mei silam. Nada cemasnya kian kentara.
Menteri Keuangan George Osborne terus membantu sang bos.
Ia memberi pernyataan lebih keras. Keluar dari Uni Eropa, kata dia, akan memukul investasi, menyakiti keluarga, dan merugikan ekonomi Inggris.
Ia pun mengungkapkan Brexit berarti negerinya bakal kehilangan 30 miliar pound sterling (setara Rp568 triliun).
Mei lalu sedikitnya 300 seniman kenamaan menolak Brexit.
Menurut mereka, Eropa justru perlu bersatu untuk menentukan masa depan mereka.
Manajer Arsenal Arsene Wenger dan Per Mertesacker, bersama 140 nama kondang Eropa, awal Juni, berkirim surat agar Britania tetap di UE.
Sebanyak 70% pemimpin bisnis digital juga meyakini UE pilihan terbaik.
Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis boleh saja membendung Brexit dengan aneka retorika, tetapi pemilihnya ialah warga Britania.
Nyatanya sejumlah survei beberapa media massa, seperti The Independent, BBC News, dan The Economist, menunjukkan suara Brexit naik.
Survei The Independent bahkan menunjukkan 55% warga Inggris tak lagi sudi berada di UE.
Kaum muda rupanya selalu punya cara pandang yang berbeda.
Para pemilih Brexit berargumen negeri mereka akan berdaulat, bisa mengatur perekonomian dan kebijakan imigrasi sendiri, jika tanpa aturan UE.
Salah satu pendukung Inggris keluar dari UE ialah Nigel Farage, pemimpin UK Independence Party (nasionalis).
Menurutnya, Eropa dibebani masuknya buruh murah sehingga menurunkan pendapatan warga Inggris asli.
Masuknya imigran akan menyedot anggaran sosial pemerintah dan meningkatkan kriminalitas.
Kedua kubu bisa berargumen apa saja untuk menguatkan pilihan mereka.
Sebuah pilihan, betapa pun mendebarkan, sesungguhnya juga sebuah siklus.
Mungkin sebuah revisi.
Persoalannya ialah mampukah kita, Indonesia, memetik manfaat apa pun dari hasil pilihan itu nanti?
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved