Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA Jenderal Hoegeng Imam Santoso diberhentikan dari jabatan Kapolri pada 1971, usianya baru 49 tahun.
Penggantinya, Jenderal Mohammad Hassan, di atas 50 tahun.
Karena itu, pers pun meledek.
Pastilah bertanya pada Presiden Soeharto sulit kemungkinannya.
Karena itu, setelah keluar dari rumah Soeharto di Jl Cendana 8, Hoegeng pun diserbu pertanyan wartawan.
"Apakah Bapak sedang diremajakan atau dipertuakan? Menurut kami, Bapak dipertuakan sebab pengganti Bapak, yakni Pak Hassan, umurnya lebih tua daripada Bapak."
Hoegeng di hari 'kejatuhannya' memang tidak dalam posisi yang harus menjawab 'kebijakan' Presiden Soeharto.
"Meski Mohammad Hasan lebih tua, lebih progresif," kata dia akhirnya.
Namun, wajah Hoegeng yang kecewa bisa dibaca.
Pers tak puas dengan jawaban itu dan menilai Hoegeng ngibul.
Ia kemudian keluar dari Polri karena di lingkup Hankam tidak ada tempat untuk perwira tinggi bintang empat.
Sementara itu, Hoegeng menolak tawaran menjadi dubes di salah satu negara di Eropa.
Orang ramai pun tahu, Hoegeng Kapolri yang tegak lurus, tanpa rasa takut membongkar para durjana, terutama membongkar kejahatan raja penyelundup mobil mewah, Robby Tjahyadi.
Orang itu, kata Hoegeng, setahun bisa menyelundupkan 1.500 mobil mewah.
Jaringan dan aksesnya terhadap para pejabat sungguh mencengangkan.
Patron Robby pun tak main-main. Banyak kalangan.
Sedikitnya 27 orang dari pejabat tinggi, pegawai cukai, perwira militer dan kepolisian, tentara, dan polisi menikmati hasil kejahatan Robby.
Akan tetapi, justru karena getol membongkar kejahatan, Hoegeng diganti, yang menurut pers 'dipertuakan' itu.
Hoegeng memang seperti menjadi contoh terakhir jenderal yang penuh dedikasi bagi Polri.
Orang ramai pun mencatat: bos polisi yang lurus di tengah kekuasaan korup pasti menghadapi banyak musuh.
"Yang jujur akan tergusur."
Ironi serupa itu pun mulai muncul.
Karena itu, ada semacam 'nasihat' bagi para pejabat, termasuk pejabat Polri, "Hati-hati bermain."
Maksudnya, para pejabat dan calon pejabat ini harus mafhum apa yang menjadi selera 'bos' besar dan lingkarannya.
Berpuluh tahun polisi bersih itu terus jadi mimpi.
Kita tahu masalah polisi memang soal kenyamanan di hati.
Ini ukuran sederhana menilai Korps Bhayangkara ini.
Ketika kata 'polisi' disebut atau dilihat, menimbulkan rasa gundah, terlebih rasa jeri, itu tanda polisi harus keras memperbaiki diri.
Ia serupa daki yang lama melekat di tubuh, mesti digosok berkali-kali.
Citra buruk atawa daki tebal polisi itulah yang kerap dibincangkan orang ramai.
Polisi masih identik dengan rasa tak nyaman.
Sebuah paradoks dengan tugas utama polisi seperti tertera dalam UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, 'memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat'.
Sebuah amanat dan yang juga jadi moto, yang tak tergapai.
Namun, di tengah pesimisme yang dalam itu, kini ada harapan yang bertumbuh.
Ketika Presiden Joko Widodo mengajukan Komisaris Jenderal Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri, banyak kalangan lega.
Seolah baru lepas dari labirin yang menyesakkan. Masuk akal sebab pencalonan Kapolri pada tahun lalu, Komjen Budi Gunawan, memunculkan pro-kontra yang menguras energi.
Tito, polisi intelektual ini, seperti sosok yang lama dinanti.
Karena itu, kepada Tito, kita berharap ia bisa menjadi lokomotif perubahan di tubuh Polri.
Terlalu lama Polri dibiarkan menyandang citra buruk, seperti berkali-kali dirilis beberapa lembaga survei. Tito, lulusan Akpol angkatan 1987, secara hierarki melewati enam angkatan, yakni 1981-1986.
Soal psikologis seperti ini pastilah Tito punya caranya mengatasinya.
Kita juga percaya, jenderal muda ini tak akan mendiamkan citra intitusinya yang belum naik kelas itu.
Jika aspek kemudaan dan intelektualitas tak memberi sesuatu yang berbeda, apa manfaatnya?
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved