Menjaga Puncak

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/6/2016 06:00
Menjaga Puncak
(ANTARA/M Agung Rajasa)

PENYAIR WS Rendra ketika berada di puncak kejayaannya justru merasa dalam bahaya.

Puncak kerap berdekatan dengan jemawa, dengan keangkuhan! Ketinggian baginya harus dirawat, harus rumat, bukan diumbar!

Ia tak mau terban dari ketinggian sebab akan amat menyakitkan.

Sang penyair itu pun kemudian masuk perguruan bela diri Bangau Putih pimpinan Subur Rahardja.

Sebagai seniman, sebagai aktor, ia penting mengolah gerak tubuh.

Namun, yang terutama, justru inilah cara menjaga puncak agar tak jatuh.

Jika diamsalkan, ia tak mau di atas langit yang tak ada langit lagi.

Artinya, ia butuh pihak yang mengawasi.

"Di perguruan Bangau Putih masih ada sosok yang saya hormati, yaitu Suhu (Subur Rahardja). Orang yang masih bisa menyuruh saya. Ini penting agar saya ada yang mengontrol sebab di atas langit masih ada langit," katanya kepada Media Indonesia dalam sebuah wawancara pada 1990-an.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Yogyakarta (1940-1988), juga wakil presiden (1973-1978), ialah nama yang punya cara elok menjaga kuasa. Ia tak jemawa ketika ditilang polisi, Brigadir Royadin, di jalan raya.

Di suatu pagi ia ringan saja angkat dagangan mbok bakul ke atas jip miliknya menuju sebuah pasar. Inilah cara sang Raja merasakan helaan napas dan getar tubuh rakyatnya yang bekerja.

Ia tak pamer deretan pengawal. Inilah cara sang Raja merawat kekuasaan.

Bung Hatta tentu mutiara lain lagi. Kesederhanaan dan kelurusannya ialah senjata utamanya.

Meski wakil presiden (1945-1956), ia tak mampu membeli sepatu Bally dambaannya.

Tabungannya tak pernah cukup.

Juga istrinya, Rahmi Hatta, yang gagal membeli mesin jahit karena tabungannya terkena sanering (pemotongan nilai uang).

Di kepolisian ada Hoegeng Imam Santoso, Kapolri (1968-1971), sosok tegak lurus hingga akhir hayatnya.

Kita sedih sebab masih selalu mengambil contoh kebajikan kepada para tokoh masa silam.

Tokoh hari ini masih berkelindan dengan aneka urusan.

Kini yang tengah diperlihatkan beberapa pejabat justru suka-suka mengumbar kuasa.

Ada pejabat negara dengan tanpa dosa merayakan ulang tahun anaknya, menghabiskan uang Rp30 miliar.

Nurani pejabat seperti apakah yang mengumbar gaya hidup serupa itu?

Saya melihat Mahkamah Agung (MA) yang tak peduli dengan kritik dan masukan masyarakat, terutama menyangkut posisi Sekretaris MA Nurhadi yang telah dicekal ke luar negeri karena terindikasi terkait tindak pidana, tapi seperti diproteksi.

Inilah salah satu contoh kekuasaan yang tak dirawat, tetapi dibentengi.

Ketua MA Hatta Ali seperti tak peduli suara publik dan suara internal MA atas posisi Nurhadi.

Hatta bahkan masih mengangkatnya menjadi penanggung jawab reformasi birokrasi.

Alih-alih meninjau ulang posisi Nurhadi, Hatta justru mempertahankannya.

Nurhadi bahkan dipercaya memimpin seleksi uji kelayakan dan kepatutan pimpinan pengadilan tingkat I dan IA peradilan umum dan peradilan agama.

Suara-suara di internal MA tak hanya satu-dua menyoal posisi Nurhadi. Itu masuk akal karena secara moral, ini menjadi sebuah paradoks dengan pemahaman reformasi birokrasi.

Bagaimana pejabat yang tengah menjadi sorotan secara moral dan hukum mereformasi institusi MA yang kini dirundung banyak kasus hukum?

Saya khawatir, semakin membentengi diri dengan rupa-rupa jurus, dengan rupa-rupa bungkus, menutup diri dengan usul-usul perbaikan, MA hanya menunggu kejatuhannya yang lebih fantastis.

Sebuah benteng keadilan akan roboh karena yang bermula dengan kebijakan 'super-Sekma'.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima