Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAIR WS Rendra ketika berada di puncak kejayaannya justru merasa dalam bahaya.
Puncak kerap berdekatan dengan jemawa, dengan keangkuhan! Ketinggian baginya harus dirawat, harus rumat, bukan diumbar!
Ia tak mau terban dari ketinggian sebab akan amat menyakitkan.
Sang penyair itu pun kemudian masuk perguruan bela diri Bangau Putih pimpinan Subur Rahardja.
Sebagai seniman, sebagai aktor, ia penting mengolah gerak tubuh.
Namun, yang terutama, justru inilah cara menjaga puncak agar tak jatuh.
Jika diamsalkan, ia tak mau di atas langit yang tak ada langit lagi.
Artinya, ia butuh pihak yang mengawasi.
"Di perguruan Bangau Putih masih ada sosok yang saya hormati, yaitu Suhu (Subur Rahardja). Orang yang masih bisa menyuruh saya. Ini penting agar saya ada yang mengontrol sebab di atas langit masih ada langit," katanya kepada Media Indonesia dalam sebuah wawancara pada 1990-an.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Yogyakarta (1940-1988), juga wakil presiden (1973-1978), ialah nama yang punya cara elok menjaga kuasa. Ia tak jemawa ketika ditilang polisi, Brigadir Royadin, di jalan raya.
Di suatu pagi ia ringan saja angkat dagangan mbok bakul ke atas jip miliknya menuju sebuah pasar. Inilah cara sang Raja merasakan helaan napas dan getar tubuh rakyatnya yang bekerja.
Ia tak pamer deretan pengawal. Inilah cara sang Raja merawat kekuasaan.
Bung Hatta tentu mutiara lain lagi. Kesederhanaan dan kelurusannya ialah senjata utamanya.
Meski wakil presiden (1945-1956), ia tak mampu membeli sepatu Bally dambaannya.
Tabungannya tak pernah cukup.
Juga istrinya, Rahmi Hatta, yang gagal membeli mesin jahit karena tabungannya terkena sanering (pemotongan nilai uang).
Di kepolisian ada Hoegeng Imam Santoso, Kapolri (1968-1971), sosok tegak lurus hingga akhir hayatnya.
Kita sedih sebab masih selalu mengambil contoh kebajikan kepada para tokoh masa silam.
Tokoh hari ini masih berkelindan dengan aneka urusan.
Kini yang tengah diperlihatkan beberapa pejabat justru suka-suka mengumbar kuasa.
Ada pejabat negara dengan tanpa dosa merayakan ulang tahun anaknya, menghabiskan uang Rp30 miliar.
Nurani pejabat seperti apakah yang mengumbar gaya hidup serupa itu?
Saya melihat Mahkamah Agung (MA) yang tak peduli dengan kritik dan masukan masyarakat, terutama menyangkut posisi Sekretaris MA Nurhadi yang telah dicekal ke luar negeri karena terindikasi terkait tindak pidana, tapi seperti diproteksi.
Inilah salah satu contoh kekuasaan yang tak dirawat, tetapi dibentengi.
Ketua MA Hatta Ali seperti tak peduli suara publik dan suara internal MA atas posisi Nurhadi.
Hatta bahkan masih mengangkatnya menjadi penanggung jawab reformasi birokrasi.
Alih-alih meninjau ulang posisi Nurhadi, Hatta justru mempertahankannya.
Nurhadi bahkan dipercaya memimpin seleksi uji kelayakan dan kepatutan pimpinan pengadilan tingkat I dan IA peradilan umum dan peradilan agama.
Suara-suara di internal MA tak hanya satu-dua menyoal posisi Nurhadi. Itu masuk akal karena secara moral, ini menjadi sebuah paradoks dengan pemahaman reformasi birokrasi.
Bagaimana pejabat yang tengah menjadi sorotan secara moral dan hukum mereformasi institusi MA yang kini dirundung banyak kasus hukum?
Saya khawatir, semakin membentengi diri dengan rupa-rupa jurus, dengan rupa-rupa bungkus, menutup diri dengan usul-usul perbaikan, MA hanya menunggu kejatuhannya yang lebih fantastis.
Sebuah benteng keadilan akan roboh karena yang bermula dengan kebijakan 'super-Sekma'.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved