Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENANGAN bukanlah berkah yang hadir tiba-tiba. Ia sebuah proses menjadi yang kerap tersembunyi dari mata orang ramai. Seperti pada 27 Juni 1937 itu, petinju kulit hitam Joe Louis memukul knocked out James J Braddock dalam pergelaran tinju kelas berat di AS. Memukul jatuh lawan yang perkasa, orang kulit putih pula, bukanlah kebetulan. Ia sebuah mimpi plus tekad kuat.
Peristiwa itu membuat seluruh puak Negro, khususnya di Lansing, Michigan--mestinya juga kaum Negro di setiap jengkal tanah AS--merasa hidup mereka punya arti. Louis seperti membebaskan jutaan orang dari penderitaan mereka yang panjang karena rasialisme dan diskriminasi. Meski undang-undang dasar AS menghargai kesetaraan, kenyataan mereka tetap disudutkan dengan citra semula: budak.
Waktu itu, Malcolm X, legenda pejuang kesetaraan manusia dan HAM, masih kanak-kanak, 11 tahun. Namun, ingatannya menyimpan baik peristiwa itu. Betapa puak Negro seperti terbebas dari rasa frustrasi yang terpilin-pilin. Inilah momen pembebasan kaum hitam yang pertama ia lihat.
Pria kelahiran 1925 itu menjadi contoh korban diskriminasi ‘sempurna’. Ayahnya dan beberapa pamannya dibantai orang kulit putih. Pasukan berkuda Ku Klux Klan yang kejam dan rasialis kapan saja bisa mengancam keluarga itu.
Malcolm X terus hidup dalam realitas dan konstruksi sosial seperti itu. Pernah ia tumbang, menjadi budak hingga harus meringkuk di penjara selama tujuh tahun. Namun, waktu di penjara ia pakai untuk menimba ilmu: membaca banyak buku. Setelah berkorespondensi dengan tokoh Nation of Islam Elijah Muhammad, ia pun memeluk Islam, agama yang ia nilai mengajarkan kesetaraan dan menolak diskriminasi.
Tentu yang paling membuktikan mimpi menjadi Joe Louis ialah Muhammad Ali, legenda tinju dunia yang berpulang Jumat (3/6). Ia seperti masih dalam tarikan ‘genealogi spirit’ Malcolm X. Ali memang mengaku terinspirasi oleh Malcolm X. Ali tumbuh tak hanya menjadi petinju terbaik sepanjang sejarah, tetapi ia menjadi pejuang hak-hak sipil dan kemanusiaan.
Seperti sang inspiratornya, Ali diterungku empat tahun (1967-1971) karena menolak wajib militer dan menentang Perang Vietnam. Gelar juara dunianya pun dicabut, ia dilarang bertinju beberapa tahun.
Itu sebabnya banyak pihak menilai Ali ialah representasi harga diri dan sikap. Prinsipnya tak mudah digoyahkan. Kariernya di ring tinju profesional dengan 61 bertanding, 55 menang (KO 37), dan hanya 6 kali kalah bukanlah sembarang karier. Setelah ia menggantungkan sarung tinju, parkinson memang mulai menggerogoti fisiknya. Di Indonesia Muhammad Ali ialah nama yang begitu dekat. Ia seperti ‘bagian dalam’ kita. Mungkin nama itu jauh lebih dikenang daripada nama Cassius Marcellus Clay Junior. Di masa keemasannya, di negeri ini, setiap ia bertanding, sekolah-sekolah membebaskan para murid untuk meninggalkan kelas karena sang guru juga tak tahan untuk tidak melihat petinju pujaannya berlaga. Setiap Ali bertanding, semua orang yang antidiskriminasi seperti bersatu dalam harapan yang sama. Ia memang menyatukan.
Ali ialah bukti kerja keras, harga diri, dan sikap! “Negara menjadi saksi seorang pemuda berandal penuh keberanian sukses mengubah diri menjadi sosok religius dan memiliki kesadaran politik tinggi,” puji mantan Presiden AS Bill Clinton.
Sebuah ‘proses menjadi’ yang diraih dengan penuh dedikasi bahwa hidup tak hanya untuk diri sendiri. Karena itu, Ali ialah legacy yang mestinya tak boleh ikut mati meski raganya telah masuk bumi.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved