Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AHAD 29 Desember 1929. Hari itu polisi Hindia Belanda menggeledah besar-besaran aktivis politik di Jawa dan Sumatra. Ribuan orang ditahan, 40 orang di antaranya tokoh Partai Nasional Indonesia. Empat tokoh partai ini: Soekarno, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepradja, langsung dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung. Polisi mendakwa mereka melakukan pemberontakan bersenjata. Itulah latar waktu ketika sejarah penderitaan penjara bagi Soekarno dimulai.
Namun, itu juga hari-hari ketika kekuatan pikiran sang tokoh tak bisa ditaklukkan. Bahkan, terbukti, menjadi benteng yang kukuh. Soekarno diterungku 8 bulan di sel sempit Banceuy yang dibangun 1877. Ia mendekam di ruangan 2 x 1,5 meter tak berjendela. Soekarno menyebut sel gelap, lembap, sumpek, dan bau kotoran itu serupa kuburan. Fantasi yang paling tepat pun hanya kematian. Namun, ia tak mau mati! Mayat hanya layak untuk dikenang, tak layak diajak berjuang. Semangat itu menjadikan kewaspadaannya kian tajam.
Ia jadi mahir menghindar dan mengamankan diri dengan segera dan dengan cara yang rapi jali. Bahkan, Soekarno belajar bagaimana memanfaatkan sipir Belanda yang bodoh, yang ia panggil Tuan Bos; yang mudah mengkhianati prinsip-prinsip dengan sangat murah: hanya dengan suap sebotol bir. Di bui Banceuy, Soekarno tak hanya kerap berhalusinasi, tetapi juga sering mengalami gejala superfisika. Ketika kesengsaraan kian menindih-memberat, sedangkan daya khayalnya berkobar-kobar, ia kerap merasa tangan kanannya membe sar, seperti mampu menghancurkan dinding sel.
Kali lain, jika ia butuh kekuatan semangat, ia minta Gatot Mangkoepradja bercerita wayang, berulangulang, meski ada banyak lakon yang ia sudah khatam. Bagi Soekarno, wayang tak hanya penghiburan, tapi juga tuntunan perjuangan. Wayang ialah pemandu arah nilai dengan kebajik an mesti diteguhkan, dengan harga berapa pun. Setelah 8 bulan dibui, sidang pengadilan pun digelar, 18 Agustus 1930. Soekarno mencatat 19 kali sidang atas perkara yang disangkakan. Ia dituduh
melanggar Pasal 153, 161, 167, dan 171 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Itulah Hattzaai Artikelen, yakni pasal-pasal penyebar rasa benci.
Di sel Banceuy yang pengap, dengan beralaskan kotak kaleng tempat ia buang hajat, selama satu setengah bulan, tiap malam, Soekarno menulis pembelaan yang penuh gelora, Indonesia Menggugat. Inilah pembelaan yang kemudian diterjemahkan dalam belasan bahasa. Ia menggugat tuduhan menghimpun senjata tajam untuk merebut kekuasaan. “Golok. Bom. Dinamit. Menggelikan! Apa dikiranya senjata moral tidak lebih tajam dan tidak dapat mencabik-cabik hati rakyat lebih cepat daripada ribuan ar mada yang dipersenjatai lengkap.
Suatu negara dapat berdiri tanpa tank dan meriam. Tapi suatu bangsa tidak mungkin eksis tanpa keyakinan. Keyakinan! Itulah yang kami miliki. Itulah senjata rahasia kami.” Suaranya berapi-api. Dalam buku Sukarno an Authobiography as Told to Cindy Adams, ‘Si Bung’ menceritakan, isi gedung di Jalan Landraad itu sunyi. Hanya putaran lembut kipas angin yang terdengar serupa gumam, lirih. Bui Banceuy ialah sejarah, ialah kenangan.
Ziarah Presiden Jokowi, bersama mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua MPR Zulkifli Hasan, ke Situs Penjara Banceuy, Rabu (1/6), juga sebuah upaya mengenang. Para pembesar itu berkunjung seusai acara Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Merdeka. Banceuy mestinya bukan kenangan belaka. Ia ba gian pematangan jiwa Soekarno dan perjalanan Indonesia. Ia bukan sekadar sejarah, melainkan nilai yang mesti hidup dan ‘membimbing’ kita. Sayangnya terlalu banyak sejarah utama kita tak dimaknai apaapa, kecuali seremoni dan nostalgia.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved